Uptodai.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan dua penyakit utama: hipertensi dan tuberkulosis (TBC). Meskipun deteksi kasus terus meningkat, masalah utama kini bergeser pada kepatuhan pengobatan jangka panjang.

Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Senayan, Jakarta, BGS, sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin, menekankan bahwa tingginya kasus hipertensi dan TBC mencerminkan perlunya strategi penanganan yang lebih fokus pada keberlanjutan terapi. Pemerintah menilai bahwa upaya skrining yang masif harus diimbangi dengan sistem layanan kesehatan primer yang kuat.

Hipertensi: Ancaman Stroke dan Biaya Mahal

Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi ancaman serius yang seringkali diabaikan oleh masyarakat. Pasalnya, penyakit ini tidak menunjukkan gejala signifikan di awal, namun dampaknya bersifat destruktif dalam jangka panjang.

Apabila dibiarkan tanpa pengobatan rutin, hipertensi dapat berujung pada komplikasi berat seperti stroke atau serangan jantung dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun. Menkes BGS menegaskan bahwa pengobatan yang teratur jauh lebih hemat biaya dan efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.

Ironisnya, dari jutaan masyarakat yang sudah terdeteksi mengidap hipertensi, jumlah pasien yang benar-benar masuk dalam kategori terkendali masih sangat kecil. Padahal, pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara bersamaan terbukti dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 30% sampai 50%.

Kunci Utama Menurunkan Risiko Kematian

Menkes BGS menekankan bahwa fokus pemerintah saat ini bukan hanya menemukan orang sakit, tetapi memastikan bahwa proses pengobatan berjalan tuntas dan terkendali. Kepatuhan pasien menjadi faktor krusial dalam menekan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kronis.

Penguatan layanan kesehatan primer, terutama di Puskesmas, menjadi garda terdepan untuk memastikan tindak lanjut pengobatan. Hal ini sejalan dengan pandangan Komisi IX DPR RI yang menilai bahwa skrining yang agresif tidak akan optimal tanpa adanya dukungan terapi yang berkelanjutan.

TBC: Skrining Agresif dan Memutus Rantai Penularan

Selain hipertensi, TBC juga menjadi sorotan utama. Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus TBC yang ditemukan belakangan ini justru mencerminkan perbaikan signifikan dalam sistem skrining dan deteksi pemerintah.

TBC merupakan penyakit menular yang obatnya sangat ampuh, namun selama ini banyak kasus yang tidak terdeteksi karena stigma dan rasa malu. Oleh karena itu, pemerintah kini secara agresif mengejar kasus-kasus tersembunyi agar lebih banyak orang yang terdiagnosis dan segera diobati.

Data menunjukkan bahwa sekitar 93 persen pasien TBC yang terdeteksi saat ini sudah menjalani pengobatan. Pemerintah terus mendorong pemeriksaan kontak erat di Puskesmas untuk memutus rantai penularan penyakit ini di tengah masyarakat.

Mengejar Target Usia Harapan Hidup Sehat

Upaya pengendalian penyakit kronis ini memiliki korelasi langsung dengan target nasional untuk meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Pemerintah menargetkan peningkatan usia harapan hidup dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

Tidak hanya itu, pemerintah juga berambisi menaikkan rata-rata usia hidup sehat dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Anggota Komisi IX DPR RI, termasuk Irma Chaniago, sepakat bahwa target ambisius ini hanya bisa dicapai jika penanganan penyakit kronis seperti kasus hipertensi dan TBC tidak berhenti pada tahap deteksi.

Oleh karena itu, tindak lanjut pengobatan rutin dan berkelanjutan di layanan kesehatan primer menjadi prasyarat mutlak. Keberhasilan dalam mengendalikan penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit menular (PM) ini akan menjadi tolok ukur utama keberhasilan sektor kesehatan Indonesia di masa depan.