Uptodai.com - Mikroplastik di laut dalam Indonesia kini menjadi ancaman nyata yang ditemukan hingga kedalaman ribuan meter di bawah permukaan air. Penemuan mengejutkan ini terungkap melalui penelitian kolaboratif internasional yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Marine Pollution Bulletin. Para peneliti mengonfirmasi bahwa polusi plastik bukan lagi sekadar masalah di pesisir, melainkan telah merambah hingga ke palung terdalam nusantara.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Laut Dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Corry Yanti Manullang, memimpin studi penting ini. Ia bekerja sama dengan tim ahli dari berbagai negara seperti Malaysia, Amerika Serikat, hingga China. Fokus utama mereka adalah memetakan sebaran partikel plastik pada jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang sangat krusial bagi ekosistem global.

Jalur Arlindo Menjadi Perantara Polusi Mikroplastik

Sistem Arlindo berperan sebagai koridor massa air yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melewati Selat Makassar, Selat Alas, hingga Selat Lombok dengan membawa volume air yang sangat besar. Sayangnya, arus ini tidak hanya membawa nutrisi dan garam, tetapi juga menghanyutkan mikroplastik di laut dalam Indonesia.

Selama ini, studi mengenai Arlindo lebih banyak menyoroti aspek fisik seperti suhu air dan tingkat salinitas. Penelitian terbaru ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana polutan antropogenik berpindah antar samudra. Kehadiran partikel plastik di jalur ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di titik pusat distribusi sampah plastik global melalui arus laut.

Ekspedisi oseanografi yang berlangsung pada awal tahun 2021 dalam program TRIUMPH menjadi landasan data penelitian ini. Tim peneliti mengambil sampel air laut di 11 titik pengamatan yang tersebar dari utara hingga selatan. Mereka menggunakan teknologi canggih untuk menjangkau lapisan air yang selama ini sulit diakses oleh penelitian konvensional.

Temuan Partikel Plastik pada Kedalaman 2.450 Meter

Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat khusus bernama rosette sampler yang terintegrasi dengan sistem CTD untuk mengukur kedalaman secara akurat. Tim mengumpulkan total 92 sampel air laut dari berbagai lapisan kedalaman, mulai dari permukaan hingga 2.450 meter. Hasil laboratorium menunjukkan adanya 924 partikel mikroplastik yang tersebar di seluruh lokasi penelitian tanpa terkecuali.

Konsentrasi rata-rata yang ditemukan mencapai 1,062 partikel per liter air laut yang dianalisis. Fakta bahwa mikroplastik ditemukan di kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan betapa masifnya akumulasi sampah di dasar laut. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena laut dalam sering kali dianggap sebagai ekosistem yang relatif murni dan jauh dari aktivitas manusia.

Secara teknis, temuan ini membuktikan bahwa laut dalam berfungsi sebagai “sink” atau tempat penampungan terakhir bagi limbah plastik. Arus laut yang kuat membawa partikel-partikel ringan tersebut turun ke kolom air yang lebih dalam melalui proses sedimentasi. Hal ini mengancam biota laut dalam yang memiliki pertumbuhan lambat dan sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Serat Pakaian Sintetis Jadi Penyumbang Terbesar

Hasil analisis laboratorium mengungkap bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik di laut dalam Indonesia berbentuk serat atau fiber. Jenis mikroplastik ini umumnya berasal dari degradasi bahan tekstil sintetis yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Corry menjelaskan bahwa aktivitas sederhana seperti mencuci pakaian dapat melepaskan ribuan serat plastik ke saluran air.

Limbah domestik dari mesin cuci tersebut mengalir menuju sungai dan akhirnya bermuara di lautan luas. Selain serat, peneliti juga mengidentifikasi polimer plastik lain seperti polyester, polypropylene, dan polyurethane. Bahan-bahan ini sangat umum ditemukan pada produk kemasan makanan, peralatan rumah tangga, hingga material industri manufaktur.

Keberadaan polimer ini menegaskan bahwa gaya hidup konsumtif manusia berdampak langsung pada kesehatan laut dalam. Tanpa adanya sistem pengelolaan limbah yang ketat, partikel plastik ini akan terus menumpuk dan masuk ke dalam rantai makanan. Jika dikonsumsi oleh ikan dan biota laut lainnya, mikroplastik berisiko membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia yang mengonsumsi hasil laut tersebut.