Uptodai.com - Lebih dari satu bulan berlalu sejak bencana banjir dahsyat melanda, pelayanan kesehatan Aceh Tamiang pasca banjir masih menghadapi tantangan berat. Meskipun upaya pemulihan terus digencarkan, rumah sakit di wilayah tersebut belum dapat beroperasi secara penuh dan komprehensif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang, dr. Mustakim, mengonfirmasi bahwa layanan medis saat ini masih berjalan secara parsial. Pihak rumah sakit terus berupaya memulihkan sarana dan prasarana yang rusak parah akibat genangan air dan lumpur tebal yang terjadi pada akhir November 2025.

Skala Kerusakan yang Melumpuhkan Layanan Rumah Sakit

Bencana banjir yang terjadi di Aceh Tamiang tergolong ekstrem dan dampaknya terasa langsung pada infrastruktur vital, termasuk rumah sakit. Saat banjir mencapai puncaknya, seluruh aktivitas di rumah sakit lumpuh total.

Genangan air dilaporkan mencapai ketinggian hingga tiga meter, merendam nyaris seluruh bagian bangunan rumah sakit. Kondisi ini diperparah dengan endapan lumpur yang mencapai ketebalan lebih dari 30 sentimeter di lantai dan peralatan medis.

dr. Mustakim menjelaskan bahwa saat ini pelayanan difokuskan pada area yang paling cepat dibersihkan dan dipulihkan. Ruang triase menjadi titik awal pelayanan, sementara ruang VIP dan ruang rawat inap terpadu digunakan untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan, termasuk layanan spesialistik.

Meskipun demikian, sejumlah layanan vital seperti beberapa emergency room dan operation center berhasil diselamatkan dan tetap diaktifkan. Fasilitas-fasilitas ini berfungsi untuk memastikan kebutuhan medis darurat masyarakat tetap terpenuhi.

94 Persen Alat Kesehatan Rusak Total Akibat Lumpur

Tantangan terbesar yang dihadapi Aceh Tamiang saat ini adalah kerusakan masif pada alat-alat medis. Data terkini menunjukkan bahwa sekitar 94 persen alat kesehatan (alkes), baik yang berada di rumah sakit maupun puskesmas, tidak lagi dapat digunakan.

Kerusakan ini terjadi karena alat-alat tersebut terendam air dan lumpur dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini jelas menghambat upaya pemulihan layanan medis yang lebih komprehensif di seluruh kabupaten.

Saat ini, Dinas Kesehatan telah melakukan proses identifikasi detail terhadap alat kesehatan dan sarana prasarana yang terdampak. Identifikasi ini dilakukan sesuai arahan dari Kementerian Kesehatan untuk memastikan data akurat mengenai kebutuhan penggantian peralatan.

Walaupun bantuan logistik dan peralatan kesehatan sudah mulai berdatangan secara masif, kebutuhan di lapangan masih dinilai sangat tinggi. Bantuan yang tersedia belum mampu menutup kebutuhan alat kesehatan yang rusak total di hampir semua fasilitas kesehatan primer dan sekunder.

Titik Terang: Layanan Cuci Darah Kembali Aktif

Di tengah upaya pemulihan yang masih parsial, terdapat kabar baik dari RSUD Aceh Tamiang, khususnya terkait layanan hemodialisa atau cuci darah. dr. Mustakim memastikan bahwa layanan krusial ini sudah kembali aktif sepenuhnya.

Pengaktifan kembali layanan hemodialisa ini sangat penting bagi sekitar 40 pasien yang rutin membutuhkan terapi tersebut. Dengan pulihnya layanan ini, pasien tidak perlu lagi dirujuk ke rumah sakit di Medan maupun Langsa, yang tentunya memangkas biaya dan waktu tempuh yang besar.

Keberhasilan mengaktifkan kembali layanan cuci darah menunjukkan adanya prioritas dalam pemulihan fasilitas medis yang bersifat darurat dan berkelanjutan. Langkah ini memberikan secercah harapan bagi masyarakat yang sangat bergantung pada layanan kesehatan spesialistik di daerah tersebut.

Selain peralatan, Aceh Tamiang juga masih membutuhkan tambahan sumber daya manusia, terutama relawan kesehatan. Tenaga medis tambahan sangat diperlukan untuk mempercepat proses pembersihan, penataan ulang, dan pengoperasian layanan yang tersisa sambil menunggu pemulihan infrastruktur secara menyeluruh.