Uptodai.com - Memahami risiko sembelit saat Lebaran menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat yang sedang mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan. Fenomena gangguan pencernaan ini ternyata tidak hanya berkaitan dengan pola makan yang berubah drastis, tetapi juga erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang. Tekanan mental yang meningkat menjelang Idulfitri sering kali menjadi pemicu utama masalah kesehatan di area perut.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengungkapkan bahwa stres memiliki dampak langsung pada sistem pencernaan manusia. Ketika seseorang mengalami tekanan psikologis, tubuh akan melepaskan hormon kortisol secara berlebihan. Peningkatan hormon ini secara otomatis memicu produksi asam lambung yang lebih tinggi dari biasanya.

Kondisi asam lambung yang melonjak dapat mengiritasi dinding saluran pencernaan dan mengganggu ritme kerja usus. Hal inilah yang kemudian memicu berbagai keluhan, mulai dari rasa begah, nyeri ulu hati, hingga kesulitan buang air besar. Masyarakat perlu menyadari bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik, khususnya lambung, saling terhubung satu sama lain.

Kaitan Stres Mudik dengan Gangguan Pencernaan

Menjelang akhir Ramadan hingga hari raya, tekanan psikologis masyarakat cenderung mengalami grafik kenaikan yang signifikan. Berbagai faktor menjadi pemicunya, seperti persiapan logistik mudik yang melelahkan hingga ekspektasi sosial saat berkumpul dengan keluarga besar. Perubahan pola tidur dan aktivitas fisik selama bulan puasa juga turut memberikan andil pada tingkat stres individu.

Data dari laporan Indonesia Health Insights Q1 2026 yang dirilis Halodoc menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan terkait kesehatan publik. Keluhan mengenai sembelit tercatat mulai merangkak naik sejak minggu pertama Ramadan. Puncaknya terjadi tepat pada periode Idulfitri dengan angka kenaikan mencapai 37 persen dibandingkan hari biasa.

Kondisi ini menunjukkan bahwa euforia Lebaran sering kali membuat orang abai terhadap sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh tubuh. Selain sembelit, gangguan pencernaan lain seperti diare juga membayangi masyarakat pasca-perayaan. Tercatat ada kenaikan keluhan diare sekitar 13 persen dalam kurun waktu dua minggu setelah hari raya berlangsung.

Menerapkan Pola Makan Seimbang di Hari Raya

Untuk meminimalisir risiko sembelit saat Lebaran, dr. Waluyo menekankan pentingnya menjaga komposisi isi lambung agar tetap ideal. Ia menyarankan masyarakat untuk menerapkan prinsip pembagian sepertiga dalam setiap sesi makan. Secara medis, lambung sebaiknya diisi oleh sepertiga makanan padat, sepertiga cairan, dan menyisakan sepertiga ruang untuk udara.

Keseimbangan ini sangat krusial agar proses mekanis pencernaan di dalam perut dapat berjalan secara optimal tanpa beban berlebih. Mengonsumsi hidangan khas seperti opor ayam, rendang, maupun berbagai jenis kue kering sebenarnya tetap diperbolehkan. Namun, kunci utamanya terletak pada pengendalian porsi dan frekuensi makan yang tidak berlebihan.

Pihaknya mengingatkan agar masyarakat tidak “balas dendam” saat melihat beragam hidangan lezat di meja makan. Konsumsi serat dari sayur dan buah harus tetap menjadi prioritas di tengah gempuran makanan bersantan dan tinggi lemak. Serat berperan penting dalam membantu pergerakan usus sehingga risiko terjadinya sembelit dapat ditekan sedini mungkin.

Langkah Praktis Menjaga Kesehatan Usus

Selain memperhatikan porsi makan, hidrasi tubuh juga memegang peranan vital dalam mencegah gangguan buang air besar. Pastikan asupan air putih tetap terpenuhi minimal delapan gelas sehari meskipun sedang sibuk bersilaturahmi ke rumah kerabat. Air membantu melunakkan feses dan memperlancar sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki saat berkunjung ke tetangga juga sangat disarankan untuk merangsang kontraksi otot usus. Jangan biarkan tubuh terlalu pasif atau hanya duduk diam dalam waktu lama setelah mengonsumsi makanan berat. Gerakan tubuh yang aktif akan membantu mempercepat proses pengosongan lambung secara alami.

Terakhir, pengelolaan stres tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan pencernaan selama libur panjang. Alokasikan waktu untuk beristirahat yang cukup di sela-sela kepadatan jadwal silaturahmi agar hormon kortisol tetap stabil. Dengan kombinasi pola makan yang terjaga dan pikiran yang tenang, momen Lebaran akan terasa lebih nyaman tanpa gangguan kesehatan.