Uptodai.com - Kandungan mikroplastik pada sayuran dan buah kini menjadi ancaman nyata yang tersembunyi di balik label makanan sehat. Masyarakat selama ini meyakini bahwa mengonsumsi hasil bumi adalah cara terbaik untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan mengenai polusi plastik yang telah merambah hingga ke jaringan tanaman.

Partikel plastik berukuran mikroskopis ini menyusup melalui berbagai jalur lingkungan yang sudah tercemar parah. Mulai dari tanah yang terkontaminasi limbah, air irigasi, hingga penggunaan mulsa plastik dalam sistem pertanian modern memicu akumulasi zat berbahaya ini. Akar tanaman kemudian menyerap partikel tersebut dan mendistribusikannya ke seluruh bagian tumbuhan, termasuk buah yang kita makan.

Selain faktor lingkungan, proses pascapanen juga memegang peranan penting dalam meningkatkan risiko kontaminasi pada produk pangan. Pencucian menggunakan air yang tercemar serta pengemasan plastik yang tidak standar seringkali menambah beban mikroplastik pada permukaan luar sayuran. Hal ini membuat upaya mencuci sayur saja tidak cukup untuk menghilangkan seluruh partikel plastik yang sudah masuk ke dalam jaringan.

Bagaimana Mikroplastik Masuk ke Jaringan Tanaman?

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science pada Agustus 2020 memberikan gambaran mendalam mengenai fenomena ini. Para peneliti menemukan setidaknya 52.050 hingga 233.000 partikel plastik berukuran di bawah 10 mikrometer dalam berbagai sampel pangan. Ukuran yang sangat kecil ini memungkinkan partikel menembus dinding sel tanaman dengan sangat mudah.

Tanaman menyerap mikroplastik melalui lubang kecil pada akar saat mereka mengambil air dan nutrisi dari tanah. Setelah masuk ke dalam sistem vaskular, partikel ini bergerak menuju batang, daun, hingga mencapai bagian buah. Fenomena ini membuktikan bahwa polusi plastik bukan lagi sekadar masalah lautan, melainkan sudah masuk ke dalam rantai makanan darat.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa sayuran umbi-umbian memiliki tingkat kerentanan yang jauh lebih tinggi. Wortel dan lobak, misalnya, menunjukkan konsentrasi cemaran yang lebih pekat dibandingkan sayuran berdaun seperti selada. Posisi umbi yang berada langsung di dalam tanah membuat interaksi dengan partikel plastik terjadi secara terus-menerus selama masa pertumbuhan.

Daftar Sayuran dan Buah dengan Kontaminasi Tertinggi

Hasil penelitian secara spesifik menempatkan apel sebagai buah yang paling banyak mengandung partikel plastik. Rata-rata ditemukan sekitar 195.500 partikel mikroplastik per gram pada sampel buah apel yang diuji. Angka ini sangat mengkhawatirkan mengingat apel merupakan salah satu buah yang paling sering dikonsumsi secara langsung oleh masyarakat.

Peringkat kedua di kategori buah ditempati oleh pir dengan kandungan mencapai 189.500 partikel plastik per gram. Sementara itu, pada kategori sayuran, wortel memegang rekor tertinggi dengan kandungan lebih dari 100.000 mikroplastik per gram. Tekstur wortel yang padat ternyata tidak menghalangi partikel plastik terkecil untuk bersarang di dalamnya.

Sayuran hijau seperti brokoli juga tidak luput dari ancaman kontaminasi plastik yang masif. Peneliti menemukan rata-rata lebih dari 100.000 partikel plastik per gram pada brokoli, yang menjadikannya salah satu sayuran paling berisiko. Meskipun selada mengandung potongan plastik dengan ukuran fisik terbesar, namun secara akumulasi jumlahnya masih di bawah wortel.

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Tubuh

Sion Chan, seorang juru kampanye dari Greenpeace Asia Timur, memperingatkan bahwa setiap gigitan buah mungkin membawa risiko kesehatan. Kehadiran partikel plastik dalam sistem pencernaan manusia dapat memicu berbagai reaksi peradangan dan gangguan metabolisme. Meskipun dampaknya tidak terlihat seketika, akumulasi jangka panjang tetap menjadi perhatian serius para ahli kesehatan.

Bahaya mikroplastik bagi kesehatan tubuh juga berkaitan dengan zat kimia tambahan yang terkandung dalam plastik tersebut. Zat seperti bisphenol A (BPA) dan ftalat dapat mengganggu sistem hormon manusia jika masuk ke dalam aliran darah. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih ketat dalam pengelolaan limbah plastik untuk melindungi sistem pangan global.

Kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah awal yang sangat krusial. Selama polusi plastik di lingkungan tidak terkendali, maka risiko kontaminasi pada bahan pangan akan terus meningkat. Transformasi sistem pertanian menuju praktik yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci utama untuk menjamin keamanan pangan di masa depan.