Uptodai.com - Pilihan takjil buka puasa sehat menjadi sorotan publik setelah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membagikan klasifikasi menu favorit masyarakat Indonesia. Melalui unggahan video di media sosial, Menkes mengelompokkan berbagai jenis hidangan berbuka ke dalam sistem peringkat dari yang terbaik hingga yang paling berisiko bagi tubuh.

Langkah ini bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih selektif dalam memilih asupan nutrisi setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Menkes membagi kategori tersebut ke dalam empat tingkatan, yakni peringkat A hingga D, berdasarkan kandungan gizi dan dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang.

Kurma Menempati Peringkat Tertinggi untuk Berbuka

Dalam klasifikasi tersebut, Menkes menempatkan kurma sebagai pilihan terbaik atau peringkat A untuk mengawali waktu berbuka. Buah ini dianggap sebagai primadona karena memiliki kandungan gula alami yang mudah diserap tubuh untuk mengembalikan energi secara instan. Selain itu, serat yang tinggi pada kurma membantu menjaga sistem pencernaan tetap stabil setelah beristirahat selama belasan jam.

Budi Gunadi Sadikin juga menekankan bahwa mengonsumsi kurma merupakan bagian dari sunnah yang diajarkan dalam agama Islam. Kombinasi antara nilai spiritual dan manfaat medis menjadikan kurma sebagai rekomendasi utama bagi seluruh umat Muslim. Ia menyarankan agar masyarakat mengutamakan buah ini sebelum menyentuh hidangan berat lainnya.

Sementara itu, kolak pisang berada di peringkat B atau masuk dalam kategori cukup sehat untuk dikonsumsi. Meski mengandung gula tambahan dari santan atau pemanis, kolak masih memiliki nilai gizi dari potongan pisang dan ubi yang kaya akan serat. Kandungan alami dari bahan dasar tersebut dinilai mampu memberikan rasa kenyang lebih lama tanpa membebani kerja lambung secara berlebihan.

Waspada Kandungan Gula Berlebih pada Es Buah

Beranjak ke peringkat C, Menkes memasukkan menu populer seperti es buah dan biji salak ke dalam kategori kurang sehat. Penilaian ini didasarkan pada fakta bahwa es buah yang dijual di pasaran sering kali didominasi oleh sirup dan susu kental manis. Hal ini menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang terlalu tajam dan berisiko memicu kelelahan setelah makan.

Biji salak juga mendapat catatan khusus karena kandungan tepung dan gula yang sangat dominan dalam proses pembuatannya. Karbohidrat sederhana dari tepung tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas jika dikonsumsi secara rutin selama bulan Ramadan. Menkes mengingatkan agar masyarakat mulai membatasi porsi hidangan yang terlalu manis demi menjaga kebugaran tubuh.

Gorengan Berada di Kasta Terendah Kesehatan

Kejutan muncul pada peringkat D atau kategori paling tidak sehat, di mana gorengan dan kue basah seperti selendang mayang berada di urutan terbawah. Bahaya gorengan saat buka puasa menjadi perhatian serius karena tingginya kandungan lemak trans dan minyak jenuh. Proses penggorengan suhu tinggi merusak nilai gizi bahan makanan dan meningkatkan risiko kolesterol tinggi.

Menteri Kesehatan menjelaskan bahwa gorengan didominasi oleh tepung yang menyerap minyak dalam jumlah besar saat dimasak. Mengonsumsi makanan berminyak saat perut kosong dapat memicu asam lambung naik dan gangguan pencernaan lainnya. Hal inilah yang mendasari mengapa gorengan disebut sebagai pilihan takjil yang paling harus dihindari atau setidaknya sangat dibatasi.

Melalui edukasi ini, Kemenkes berharap masyarakat tidak hanya mengejar rasa nikmat sesaat, tetapi juga mempertimbangkan investasi kesehatan jangka panjang. Transformasi pola makan saat berbuka puasa menjadi kunci penting agar tubuh tetap produktif dan terhindar dari penyakit degeneratif. Pilihan ada di tangan konsumen, apakah ingin tetap pada kebiasaan lama atau beralih ke gaya hidup yang lebih berkualitas.