Uptodai.com - Dampak tarif impor Donald Trump sebesar 10 persen kini memicu gelombang kekhawatiran serius di berbagai belahan dunia. Sejumlah negara mitra dagang utama Amerika Serikat mulai menyusun strategi untuk memitigasi risiko ekonomi yang mungkin timbul akibat kebijakan proteksionis tersebut.

Meksiko menjadi salah satu negara yang paling awal bersuara dalam menanggapi ancaman pajak masuk tambahan ini. Menteri Ekonomi Meksiko, Marcelo Ebrard, menegaskan bahwa pemerintahannya tengah melakukan kajian mendalam untuk menentukan langkah antisipasi yang tepat. Ia menyatakan bahwa posisi Meksiko cukup unik karena memiliki perlindungan hukum yang kuat.

Ebrard menjelaskan bahwa sekitar 85 persen ekspor Meksiko ke Negeri Paman Sam saat ini bebas dari bea masuk. Hal ini terjadi berkat adanya perjanjian United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA) yang masih berlaku. Namun, ketegangan tetap meningkat karena ketiga negara anggota USMCA sedang berada dalam fase peninjauan ulang perjanjian hingga Juli mendatang.

Ancaman Terhadap Pemulihan Ekonomi Meksiko

Kebijakan tarif terbaru ini datang di saat yang kurang tepat bagi kondisi domestik Meksiko. Tahun lalu, negara tersebut mencatat kinerja ekonomi terburuk sejak masa pandemi COVID-19. Tekanan dagang dari Washington berpotensi menghambat upaya pemulihan yang sedang diupayakan oleh pemerintah pusat.

Meskipun memiliki payung hukum USMCA, Meksiko tetap waspada terhadap manuver politik yang mungkin diambil Donald Trump. Pemerintah Meksiko berkomitmen untuk terus memantau setiap perkembangan regulasi di perbatasan. Mereka tidak ingin stabilitas perdagangan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun hancur begitu saja.

Sinyal dari Industri Jerman dan Eropa

Di benua biru, asosiasi industri Jerman Bundesverband der Deutschen Industrie (BDI) memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Mereka melihat adanya harapan pada sistem hukum Amerika Serikat dalam membatasi kekuasaan eksekutif. BDI menilai putusan pengadilan baru-baru ini sebagai bukti bahwa prinsip pemisahan kekuasaan di Washington masih berfungsi.

Anggota dewan BDI, Wolfgang Niedermark, menyebutkan bahwa Jerman sangat bergantung pada kelancaran arus ekspor global. Tahun lalu, ekspor Jerman ke Amerika Serikat sudah mengalami penurunan signifikan hingga hampir 10 persen. Kondisi ini membuat para pelaku industri di Jerman merasa sangat rentan terhadap kebijakan dampak tarif impor Donald Trump.

Niedermark juga memperingatkan bahwa pemerintah Amerika Serikat mungkin akan mencari cara alternatif untuk memproteksi pasar mereka. Jika tarif umum gagal diterapkan, Washington diprediksi akan memperkenalkan langkah-langkah perlindungan sektoral yang sebanding. Hal ini tentu akan tetap memberikan tekanan besar bagi manufaktur otomotif dan mesin asal Jerman.

Kanada Sebut Kebijakan Trump Tidak Beralasan

Pemerintah Kanada juga tidak tinggal diam dan memberikan pernyataan yang cukup tegas terkait situasi ini. Ottawa menilai bahwa kebijakan tarif yang diusung Trump sangat tidak beralasan dan merugikan hubungan bilateral. Meski demikian, mereka mengakui bahwa tarif pada sektor tertentu masih menjadi ganjalan besar.

Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Dominic LeBlanc, menekankan bahwa industri baja, aluminium, dan otomotif masih terbebani oleh kebijakan lama. Ia memastikan bahwa pemerintah Kanada akan terus memberikan dukungan penuh kepada perusahaan-perusahaan yang terdampak. Kolaborasi dengan pihak Amerika Serikat tetap diupayakan demi menjaga pertumbuhan ekonomi di kedua sisi perbatasan.

Di sisi lain, Kamar Dagang Kanada mengingatkan para pelaku usaha agar tidak terlalu cepat merasa aman. Presiden Kamar Dagang Kanada, Candace Laing, menyatakan bahwa situasi ini bukanlah akhir dari kebijakan proteksionisme Amerika Serikat. Kanada harus bersiap menghadapi mekanisme perdagangan baru yang mungkin jauh lebih keras dan mengganggu stabilitas pasar global di masa depan.