Uptodai.com - Pusat perbelanjaan modern di Indonesia kini mengalami pergeseran fungsi yang signifikan, memunculkan fenomena cari jodoh di mal. Jika dahulu mal identik sebagai tempat untuk berbelanja atau sekadar berkumpul, kini ia bertransformasi menjadi arena pencarian pasangan hidup yang terorganisasi.

Pergeseran ini melahirkan istilah baru di kalangan pengelola mal: ‘Rocadoh’. Istilah tersebut merujuk pada pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan bukan sekadar untuk membeli barang, melainkan dengan tujuan spesifik mencari jodoh atau pasangan potensial.

Transformasi Fungsi Mal: Dari Belanja ke Jodoh

Jauh sebelum era Rocadoh, mal di Indonesia memiliki karakter pengunjung yang khas, seperti yang sering digambarkan dalam budaya populer sebagai Rohana dan Rojali, pengunjung yang sekadar menghabiskan waktu luang. Namun, kini pengelola mal harus berinovasi agar tetap relevan di tengah persaingan ritel yang ketat.

Inovasi paling mencolok adalah dengan mengakomodasi kebutuhan sosial yang mendasar, yakni pencarian cinta. Beberapa mal di kota besar mulai menggelar kegiatan unik yang belum pernah terpikirkan sebelumnya: ajang pencarian jodoh resmi.

Kegiatan ini bukan hanya sekadar acara komunitas biasa, melainkan telah menjadi model bisnis baru yang berhasil menarik keramaian. Langkah ini menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan tidak lagi hanya menjual produk, tetapi juga menawarkan pengalaman dan koneksi sosial.

Kisah Sukses Jasa Cindo Match dan Ekspansi Pasar

Salah satu pendorong utama fenomena Rocadoh adalah hadirnya layanan profesional seperti Jasa Cindo Match. Layanan ini bahkan telah membuka gerai fisik di Mall Of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara, menandakan legitimasi dan permintaan tinggi terhadap jasa pencarian jodoh.

Awalnya, Cindo Match memang didirikan untuk melayani khusus etnis Tionghoa-Indonesia atau Cindo. Namun, seiring waktu berjalan, minat dari masyarakat non-Cindo ternyata melonjak drastis, memaksa pengelola untuk memperluas target pasar mereka.

“Awalnya memang kami fokus untuk Cindo saja. Akan tetapi, setelah kami melihat adanya potensi minat dari non-Cindo yang cukup tinggi, akhirnya kami mencoba untuk merangkul masyarakat yang lebih luas,” ujar salah satu pengelola Cindo Match saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Berkat gerai permanen di MOI dan peningkatan jumlah peminat, pengelola layanan ini mulai berinisiatif menggelar acara pencarian jodoh skala besar di berbagai pusat perbelanjaan lainnya. Event-event ini menjadi magnet kuat yang berhasil menarik ribuan pengunjung baru.

Kegiatan ajang cari jodoh ini terbukti sukses digelar di dua lokasi berbeda. Acara tersebut sempat memeriahkan Pakuwon City Mall, Surabaya, Jawa Timur, pada 22-23 November 2025, dan kemudian di Green Sedayu Mall, Cengkareng, Jakarta Barat, pada 24-25 Januari 2026.

Antusiasme pengunjung terhadap ajang pencarian jodoh ini terbilang sangat tinggi. Dampak langsungnya adalah peningkatan signifikan pada tingkat okupansi mal selama kegiatan tersebut berlangsung, memberikan keuntungan ganda bagi pengelola pusat perbelanjaan.

Respon Pengusaha Mal: Program Unik Peningkat Okupansi

Bagi para pengusaha mal, ajang pencarian jodoh ini dipandang sebagai salah satu strategi unik untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi pelanggan mereka. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program yang sah dan terencana.

Alphonzus menjelaskan bahwa acara tersebut hanyalah satu dari beragam program kegiatan ataupun aktivitas yang diselenggarakan oleh pusat perbelanjaan. Ini termasuk berbagai acara yang terkait dengan edukasi, kebudayaan, musik, hiburan, hobi, sosial, dan lain sebagainya.

“Ajang cari jodoh di mal” ini menunjukkan adaptasi industri ritel terhadap perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi. Pengelola mal menyadari bahwa mereka harus menawarkan lebih dari sekadar toko ritel; mereka harus menjadi pusat pengalaman sosial dan emosional untuk meningkatkan daya tarik dan kunjungan rutin.

Fenomena Rocadoh ini membuktikan bahwa pusat perbelanjaan tetap bisa menjadi ruang publik yang vital, bahkan untuk urusan sepersonal mencari belahan jiwa. Inovasi program ini diharapkan dapat terus meningkatkan okupansi dan menghidupkan kembali suasana mal di seluruh Indonesia.