Kisah Eli Cohen: Mata-Mata Israel yang Hampir Jadi Wamen Suriah
Uptodai.com - Kisah legendaris mengenai mata-mata Israel Eli Cohen tetap menjadi salah satu lembaran paling mencengangkan dalam sejarah spionase modern. Lahir di Mesir, pria ini direkrut oleh dinas intelijen Mossad pada tahun 1954 untuk menjalankan misi infiltrasi tingkat tinggi. Guna memuluskan operasinya, ia menyamar sebagai Kamel Amin Thaabet, seorang pengusaha tekstil sukses asal Suriah yang baru kembali dari Argentina. Penyamaran yang sangat rapi ini dirancang sedemikian rupa agar ia bisa menembus lingkaran elite politik di Damaskus.
Sebelum dikirim ke Suriah, Cohen menjalani pelatihan fisik dan mental yang sangat intensif di bawah pengawasan ketat Mossad. Ia dilatih untuk menguasai dialek lokal, menghafal ajaran teologi tertentu, hingga mengoperasikan pemancar radio berukuran mikro. Di Argentina, ia sengaja mendekati Jenderal Amin al-Hafez yang kala itu menjabat sebagai atase militer Suriah. Hubungan dekat ini menjadi tiket emas bagi Cohen untuk masuk ke dalam struktur kekuasaan tertinggi di Suriah tanpa dicurigai sedikit pun.
Ketika Amin al-Hafez naik takhta menjadi Presiden Suriah pada tahun 1963, posisi Cohen semakin tidak tersentuh. Ia sering kali menggelar pesta mewah di rumahnya yang dihadiri oleh para pejabat militer dan politisi kelas atas. Dalam suasana santai tersebut, para elite Suriah kerap membocorkan rahasia negara yang sangat sensitif tanpa menyadari bahaya di depan mata. Cohen memanfaatkan kebiasaan bersosialisasi ini untuk mengumpulkan data intelijen militer yang sangat berharga.
Infiltrasi Militer dan Strategi Pohon Eucalyptus
Salah satu pencapaian terbesar Cohen adalah ketika ia berhasil mengunjungi benteng pertahanan Suriah di Dataran Tinggi Golan yang sangat rahasia. Dengan kecerdikannya, ia menyarankan agar militer Suriah menanam pohon-pohon eucalyptus di sekitar bunker untuk melindungi para prajurit dari terik matahari. Saran tersebut diterima dengan baik, namun tanpa disadari, pohon-pohon itu justru menjadi penanda koordinat bagi artileri Israel. Informasi taktis inilah yang nantinya mengubah peta kekuatan militer di wilayah perbatasan tersebut.
Hampir Menjadi Wakil Menteri Pertahanan
Kepercayaan pemerintah Suriah terhadap Cohen mencapai puncaknya saat ia ditawari posisi strategis sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Meskipun sempat ragu karena risiko yang semakin besar, Mossad mendesak Cohen untuk terus melanjutkan misi berbahaya tersebut. Sayangnya, roda nasib berputar cepat ketika militer Suriah mendeteksi adanya transmisi radio ilegal dari kediamannya pada awal tahun 1965. Deteksi ini dilakukan menggunakan peralatan pelacak frekuensi canggih yang baru saja dipasok oleh Uni Soviet.
Setelah penangkapan tersebut, Cohen mengalami penyiksaan berat sebelum akhirnya dijatuhi hukuman gantung di depan publik pada 18 Mei 1965. Presiden Amin al-Hafez dilaporkan sangat murka karena merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. Meskipun jasadnya tidak pernah dikembalikan ke Israel, kontribusi intelijen Cohen terbukti sangat vital bagi kemenangan mutlak Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Hingga hari ini, namanya tetap dikenang sebagai salah satu agen rahasia paling berpengaruh di dunia.