Uptodai.com - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Roro Esti terus mendorong penguatan kerja sama perdagangan ASEAN melalui serangkaian pertemuan bilateral strategis di kawasan. Langkah ini bertujuan untuk memperkokoh posisi ekonomi Indonesia di tengah dinamika pasar global yang kian kompetitif. Diplomasi ekonomi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas jangkauan pasar ekspor produk lokal.

Dalam kunjungannya, Wamendag Roro melakukan pertemuan khusus dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong. Kedua pihak membahas berbagai peluang peningkatan volume perdagangan yang menunjukkan tren positif selama lima tahun terakhir. Singapura tetap menjadi mitra dagang utama bagi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Data mencatat nilai perdagangan antara Indonesia dan Singapura tumbuh signifikan sebesar 14,6 persen sejak tahun 2020. Angka tersebut meningkat dari US$16,85 miliar menjadi US$19,32 miliar pada penutupan tahun 2025 lalu. Pemerintah kini fokus mendorong ekspor produk-produk Indonesia yang memiliki nilai tambah lebih tinggi ke pasar Singapura.

Komitmen Indonesia dalam Aksesi CPTPP

Salah satu poin krusial dalam pertemuan tersebut adalah penegasan Indonesia untuk melanjutkan proses aksesi Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Pemerintah memandang kerangka kerja ini sebagai instrumen vital untuk transformasi ekonomi nasional. Indonesia ingin memastikan keterlibatan aktif dalam blok perdagangan modern tersebut.

Wamendag Roro menjelaskan bahwa bergabung dengan CPTPP akan memperkuat integrasi Indonesia dalam sistem perdagangan global yang berbasis aturan. Hal ini diharapkan mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk unggulan tanah air ke negara-negara anggota. Langkah ini juga menjadi sinyal positif bagi investor global mengenai keterbukaan ekonomi Indonesia.

Selain isu bilateral, kedua negara juga menyoroti perkembangan negosiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA). Inisiatif ini diprediksi akan menjadi motor penggerak ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan. Integrasi digital antarnegara anggota ASEAN menjadi prioritas untuk memudahkan transaksi lintas batas.

Implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) juga menjadi topik bahasan utama guna memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pemerintah ingin memastikan setiap kesepakatan perdagangan memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha kecil dan menengah di dalam negeri. Sinergi antarnegara anggota menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Mempererat Hubungan Dagang dengan Malaysia

Tak hanya dengan Singapura, Wamendag Roro juga menggelar pertemuan intensif dengan Wakil Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia, Sim Tze Tzin. Fokus utama diskusi ini adalah memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai tambah produk ekspor kedua negara. Malaysia merupakan mitra strategis Indonesia dalam rantai pasok regional.

Total perdagangan Indonesia dan Malaysia pada tahun 2025 telah menyentuh angka US$24,22 miliar. Capaian ini menjadi fondasi kuat untuk menjajaki kerja sama di sektor-sektor baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. Kedua negara berkomitmen untuk terus meminimalisir hambatan perdagangan yang mungkin muncul di masa depan.

Kedua menteri sepakat untuk segera menyelenggarakan Joint Trade and Investment Committee (JTIC) dalam waktu dekat. Mekanisme ini akan menjadi wadah resmi untuk membedah hambatan perdagangan dan mempercepat realisasi investasi antarnegara. Penguatan mekanisme bilateral ini diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi para pelaku usaha.

Strategi Transformasi Ekonomi Nasional

Upaya memperkuat kerja sama perdagangan ASEAN ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam melakukan transformasi ekonomi yang berkelanjutan. Penguatan diplomasi perdagangan menjadi kunci utama untuk menarik investasi asing langsung ke sektor manufaktur. Hal ini krusial untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Wamendag Roro menekankan pentingnya hilirisasi industri agar produk yang diekspor memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Sinergi dengan negara tetangga diharapkan mampu menciptakan rantai pasok regional yang lebih tangguh dan mandiri. Indonesia terus berupaya beralih dari eksportir bahan mentah menjadi produsen barang jadi.

Melalui integrasi ekonomi yang lebih dalam, Indonesia optimis dapat menghadapi tantangan ketidakpastian global dengan lebih baik. Langkah proaktif Wamendag Roro di kancah regional ini menandai babak baru penguatan posisi tawar Indonesia di Asia Tenggara. Fokus pada kolaborasi dan inovasi akan menjadi modal utama dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional.