Uptodai.com - Sesi pengujian SUV baru Lepas L8 yang seharusnya menjadi ajang unjuk gigi di hadapan awak media berakhir dengan insiden teknis yang menarik perhatian. Kegiatan test drive yang digelar di Sirkuit Indonesia Safety Driving Centre (ISDC) Pusdiklat Polri, Serpong Utara, pekan lalu, terpaksa dihentikan sementara setelah salah satu unit kendaraan mendadak mogok di tengah lintasan.

Unit kendaraan yang diuji oleh awak media tersebut dilaporkan mengalami kerusakan serius di bagian sistem penggerak roda. Investigasi cepat di lokasi mengidentifikasi bahwa masalah krusial berasal dari komponen kaki-kaki, yang mengakibatkan mobil tidak dapat melanjutkan pengujian.

Pihak Lepas Indonesia mengonfirmasi bahwa kerusakan spesifik terdeteksi pada CV Joint Lepas L8 rusak di bagian roda kanan depan. Komponen vital ini, yang berfungsi menyalurkan tenaga putar dari transmisi ke roda, terlepas akibat tekanan yang ekstrem. Akibatnya, sejumlah perwakilan Lepas dan pihak penyelenggara harus beramai-ramai mendorong mobil produksi massal tersebut keluar dari area pengujian.

Mengapa CV Joint Lepas L8 Rusak? Penjelasan Resmi Produsen

Lalu Indra, Product Manager Lepas Indonesia, segera memberikan klarifikasi mendalam mengenai penyebab insiden teknis tersebut kepada para wartawan di lokasi acara. Indra menjelaskan bahwa kegagalan constant velocity joint (CV Joint) ini terjadi karena unit kendaraan dipaksa melewati batas penggunaan normal dalam sesi uji ekstrem Lepas L8.

Menurut Indra, unit tersebut menghadapi pengujian yang sangat brutal, yakni menghantam speed bump (polisi tidur) pada kecepatan tinggi secara berulang kali. Pengujian ini dilakukan secara non-stop selama dua jam, dimulai dari pukul 10 pagi hingga 1 siang, tanpa jeda istirahat yang memadai bagi kendaraan.

Indra menekankan bahwa guncangan yang tidak terputus dan getaran ekstrem dalam waktu singkat inilah yang memicu kerusakan pada komponen tersebut. Ia bahkan menyebutkan bahwa insiden CV Joint Lepas L8 rusak serupa sudah terjadi lebih dari sepuluh kali pada unit test drive sebelumnya, mengindikasikan bahwa ini adalah konsekuensi dari metode pengujian yang melampaui batas wajar.

“Fungsinya (CV Joint ini) untuk menyalurkan tenaga dari transmisi ke ban depan,” ujar Lalu Indra. “Apapun mobilnya bakalan begini juga, maksudnya karena getarannya enggak selesai-selesai, dan itu dalam waktu cepat,” tambahnya, memberikan konteks bahwa tekanan berlebihan akan berdampak sama pada mobil lain.

Bukan Penggunaan Harian: Batas Kecepatan Kendaraan

Lebih lanjut, pihak Lepas Indonesia juga menegaskan bahwa menghantam polisi tidur dengan kecepatan tinggi jelas berada di luar batas penggunaan normal kendaraan harian. Mereka berargumen bahwa pengujian tersebut sengaja dirancang untuk menemukan titik batas ketahanan kendaraan, bukan untuk mereplikasi kondisi berkendara sehari-hari.

“Pada dasarnya, ketika dia (CV Joint) dihantam dengan kecepatan lebih dari 80 km/jam untuk polisi tidur, pasti semua mobil enggak nyaman,” jelas Indra. Pernyataan ini bertujuan meredam kekhawatiran publik mengenai durabilitas kendaraan dalam kondisi penggunaan normal.

Ricky He, Deputy Country Director Lepas Indonesia, turut memberikan penjelasan terkait konsep acara bertajuk Lepas L8 Driving Control Challenge. Ia menyebut kegiatan tersebut memang dirancang secara spesifik untuk mengeksplorasi kemampuan kendaraan dan sistem kontrolnya di berbagai skenario yang sangat menantang.

Status Unit yang Diuji: Mobil Produksi Massal

Sebagai catatan penting, unit Lepas L8 yang digunakan dalam pengujian dan mengalami insiden CV Joint Lepas L8 rusak tersebut merupakan mobil produksi massal. Kendaraan ini bukan prototipe atau unit pra-produksi yang mungkin memiliki spesifikasi berbeda.

Artinya, spesifikasi kendaraan yang diuji sudah final dan sama persis dengan yang akan segera diterima oleh konsumen. Meskipun demikian, pihak produsen berdalih bahwa insiden ini murni disebabkan oleh perlakuan ekstrem yang jauh melampaui batas kewajaran penggunaan normal oleh pemilik kendaraan.