Uptodai.com - Produksi komponen kendaraan listrik menjadi strategi utama PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global saat ini. Emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat tersebut terus memperkuat ekosistem manufakturnya demi menjaga stabilitas bisnis jangka panjang.

Langkah strategis ini muncul sebagai respons nyata atas memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi secara signifikan. Perseroan berupaya keras memitigasi risiko operasional agar tetap kompetitif dan adaptif di pasar otomotif nasional yang terus berkembang.

Mitigasi Risiko di Tengah Kenaikan Harga Minyak Dunia

Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso, mengungkapkan bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi terhadap fluktuasi pasar global. Salah satu fokus utamanya adalah meningkatkan efisiensi operasional secara menyeluruh di seluruh lini pabrik milik perseroan.

Perseroan juga aktif melakukan optimalisasi rantai pasok untuk menekan potensi pembengkakan biaya logistik akibat konflik internasional yang belum mereda. Fleksibilitas produksi kini menjadi kunci utama agar perusahaan tetap mampu merespons perubahan permintaan konsumen dengan sangat cepat.

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat serta Israel belakangan ini memang memberikan tekanan besar pada sektor industri manufaktur. Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menembus angka US$100 per barel yang berdampak langsung pada biaya distribusi barang.

Kondisi ini semakin menantang dengan posisi nilai tukar rupiah yang sempat melemah ke kisaran Rp17.000 per dolar AS. Irianto menegaskan bahwa dinamika geopolitik global ini merupakan faktor krusial yang wajib dicermati oleh seluruh pelaku industri otomotif dan komponen.

Fokus pada Ekosistem Dharma Connect untuk Masa Depan

Diversifikasi portofolio produk menjadi senjata utama DRMA untuk mengurangi ketergantungan pada segmen kendaraan konvensional yang berbasis bahan bakar fosil. Melalui platform Dharma Connect (DC), perusahaan membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi secara mendalam dan berkelanjutan.

Irianto menjelaskan bahwa pengembangan komponen kendaraan listrik merupakan jurus jitu untuk menjaga resiliensi kinerja keuangan perusahaan di masa depan. Sektor ini menawarkan peluang pertumbuhan yang sangat menjanjikan di tengah tren transisi energi hijau yang sedang digalakkan pemerintah.

Penguatan konten lokal pada suku cadang EV juga diharapkan dapat meminimalisir dampak negatif dari fluktuasi kurs mata uang asing. Dengan memproduksi lebih banyak komponen di dalam negeri, DRMA mampu menjaga stabilitas harga produk di tingkat konsumen akhir.

Pertumbuhan Eksponensial Pasar Mobil Listrik di Indonesia

Data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan tren positif penggunaan kendaraan ramah lingkungan di tanah air. Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) tercatat mengalami lonjakan yang sangat drastis dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Pada tahun 2021, penjualan mobil listrik di Indonesia hanya mencapai angka 687 unit saja. Namun, angka tersebut meroket tajam hingga menyentuh 103.931 unit pada tahun 2025, yang menunjukkan antusiasme tinggi dari masyarakat terhadap teknologi baru ini.

Capaian penjualan tersebut kini setara dengan 12,93 persen dari total pangsa pasar mobil secara nasional. Lonjakan permintaan yang luar biasa ini menjadi sinyal kuat bagi DRMA untuk terus memperluas kapasitas produksi komponen pendukung kendaraan listrik.

Menjaga Daya Beli dan Stabilitas Kinerja Perseroan

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global berpotensi menekan daya beli masyarakat terhadap kendaraan roda empat konvensional. Kondisi ini diprediksi akan mempercepat peralihan konsumen menuju kendaraan listrik yang menawarkan efisiensi biaya operasional jauh lebih rendah.

DRMA terus memantau dinamika pasar secara ketat agar tetap mampu memberikan produk berkualitas tinggi dengan harga yang tetap terjangkau. Inovasi teknologi terus dikembangkan guna memastikan setiap komponen yang dihasilkan memenuhi standar keamanan dan kualitas global.

Meskipun tantangan eksternal dari sisi geopolitik cukup berat, manajemen tetap memprioritaskan stabilitas kinerja keuangan perseroan. Strategi diversifikasi yang tepat sasaran diharapkan mampu membawa DRMA melewati masa sulit akibat krisis energi dan ketidakpastian ekonomi dunia.