Uptodai.com - Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keseriusan dalam mendorong transformasi industri nasional. Dalam rapat terbatas (ratas) yang digelar di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, salah satu agenda krusial yang dibahas adalah bagaimana Indonesia kembangkan teknologi chip semikonduktor secara mandiri.

Rapat strategis pada Minggu (11/1/2026) tersebut melibatkan sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara. Pertemuan ini bertujuan untuk menyusun langkah konkret guna memastikan ketahanan ekonomi dan industri Indonesia di masa depan.

Beberapa nama penting yang hadir antara lain Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani. Selain itu, hadir pula Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto serta jajaran Sekretariat Kabinet.

Mandat Khusus untuk Industri Chip Nasional

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo secara spesifik memberikan mandat untuk memperkuat sektor otomotif dan elektronik. Penguatan ini harus diwujudkan melalui investasi masif dalam pengembangan teknologi semikonduktor.

Target utama dari kebijakan ini adalah membangun fondasi industri chip masa depan Indonesia. Komponen vital tersebut nantinya akan menjadi tulang punggung bagi sektor otomotif, digital, dan berbagai industri elektronik lainnya.

Dorongan ini bukan tanpa alasan. Semikonduktor merupakan komponen utama yang sangat menentukan kinerja fitur-fitur canggih pada mobil dan motor keluaran terbaru. Hampir semua sistem modern, mulai dari sistem infotainment, keamanan, hingga manajemen mesin, bergantung pada ketersediaan chip.

Mengapa Semikonduktor Menjadi Prioritas Utama?

Kebutuhan chip semikonduktor bagi industri otomotif global telah terbukti sangat sensitif terhadap gangguan rantai pasok. Krisis chip global yang terjadi selama pandemi Covid-19 pada 2020-2021 menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh terulang.

Saat itu, terganggunya pasokan semikonduktor secara drastis melumpuhkan produksi mobil dan motor di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pabrikan harus memangkas target produksi karena tidak adanya komponen kecil namun esensial ini.

Oleh karena itu, kemandirian dalam produksi chip semikonduktor dianggap sebagai langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan dan daya saing industri otomotif nasional. Indonesia tidak boleh lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar negeri.

Saat ini, Indonesia belum memiliki perusahaan yang bergerak dalam manufaktur semikonduktor skala besar atau foundry. Meskipun Indonesia pernah memiliki sejarah industri chip pada tahun 1973 melalui investasi perusahaan multinasional Amerika Serikat, Fairchild Semiconductors dan National Semiconductors.

Namun, sejak era 1980-an, model bisnis industri semikonduktor berubah drastis dari integrasi vertikal menjadi spesialisasi desain dan manufaktur. Indonesia tertinggal dalam mengikuti transformasi ini, sehingga kini perlu mengejar ketertinggalan teknologi fabrikasi.

Agenda Ekonomi Strategis Lainnya

Selain fokus pada pengembangan teknologi semikonduktor, ratas di Hambalang juga membahas tiga agenda ekonomi penting lainnya yang berkaitan erat dengan penguatan industri dalam negeri.

Pertama, Prabowo meminta penguatan industri tekstil dan garmen. Penguatan ini akan dilakukan melalui revitalisasi menyeluruh pada rangkaian supply chain atau rantai pasok industri tersebut, mulai dari hulu hingga hilir.

Kedua, dibahas pula perkembangan rencana groundbreaking enam titik baru proyek hilirisasi. Proyek ini diperkirakan bernilai fantastis, mencapai US$ 6 miliar, dan dijadwalkan akan dimulai pada awal Februari 2026.

Terakhir, pertemuan tersebut juga menyinggung rencana peresmian infrastruktur energi terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan. Peresmian proyek vital ini dijadwalkan berlangsung pada Senin, 12 Januari 2026, yang akan semakin memperkuat ketahanan energi nasional.

Semua agenda ini menunjukkan fokus pemerintah mendatang pada hilirisasi dan penguatan basis manufaktur teknologi tinggi. Langkah pengembangan chip semikonduktor menjadi penanda bahwa Indonesia siap bertransformasi dari sekadar pasar menjadi pemain kunci dalam rantai pasok teknologi global.