Uptodai.com - Pereli nasional Julian Johan Reli Dakar 2026 tengah memasuki fase persiapan akhir dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada euforia besar karena impiannya segera terwujud, namun di sisi lain, rasa deg-degan yang tak terhindarkan menyelimuti debutnya di ajang reli paling ekstrem di dunia tersebut.

Jeje, sapaan akrabnya, mengakui bahwa momen ini masih terasa seperti mimpi yang sulit dipercaya. Apalagi, pada edisi Reli Dakar 2023 lalu, ia hanya datang sebagai penonton. Pengalaman menyaksikan langsung kerasnya medan gurun itulah yang justru menjadi pemicu kuat baginya untuk bertekad tampil sebagai peserta.

Menghadapi Tekanan dan Euforia Debut Jeje Reli Dakar 2026

Menjelang keberangkatan menuju gurun pasir yang brutal, Jeje merasakan kombinasi unik antara rasa gugup dan semangat yang membara. Ia menekankan bahwa dirinya tidak ingin membebani diri dengan ekspektasi yang terlalu tinggi, mengingat ini adalah pengalaman yang benar-benar ia jalani dari nol.

Menurutnya, Reli Dakar adalah sekolah ketahanan yang baru. Oleh karena itu, Jeje memilih untuk fokus pada proses adaptasi dan pembelajaran ketimbang hasil akhir. Pendekatan ini diharapkan mampu meredam tekanan psikologis yang sering dialami para debutan.

“Masih sulit dipercaya akhirnya bisa berada di kejuaraan ini sebagai peserta. Rasa gugup itu bercampur dengan euforia,” ujar Jeje, dikutip dari wawancara terbarunya. “Tapi saya tidak punya tekanan berlebihan karena pengalamannya benar-benar dimulai dari nol.”

Target Realistis: Menuntaskan 8.000 Kilometer

Dalam keikutsertaan perdananya ini, Julian Johan memasang target yang sangat realistis dan terukur. Prioritas utamanya adalah konsistensi, keselamatan, dan kemampuan untuk bertahan di tengah tantangan alam yang ekstrem selama lebih dari dua minggu.

Reli Dakar dikenal sebagai ujian ketahanan fisik dan mental yang membentang hingga ribuan kilometer melintasi medan yang sulit diprediksi. Jeje bertekad untuk menaklukkan setiap etape tanpa kendala berarti, memastikan ia dan timnya selalu dalam kondisi prima.

“Saya hanya berusaha bisa menyelesaikan setiap hari etape dengan lancar dan sampai ke finis,” jelasnya. “Target saya adalah menuntaskan sekitar 8.000 kilometer hingga tanggal 17 Januari nanti dalam kondisi fisik yang sehat.”

Fokus Bertahan, Bukan Mengejar Juara

Jeje secara tegas menyatakan bahwa mengejar gelar juara bukanlah fokus utamanya saat ini. Ia menyadari betul bahwa persaingan di Dakar melibatkan pereli profesional dunia dengan jam terbang yang sangat tinggi.

Persiapan intensif telah dilakukan, termasuk latihan keras di Gurun Sahara untuk membiasakan diri dengan kondisi pasir dan navigasi yang rumit. Pengalaman ini sangat vital mengingat Reli Dakar bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang strategi bertahan hidup dan adaptasi kendaraan.

“Kalau untuk jadi juara, itu jauh dari yang saya pikirkan,” tegas pereli yang kerap disapa Jeje ini. Ia menambahkan, fokus utamanya adalah menikmati setiap momen petualangan dan membawa nama Indonesia kembali berkibar di panggung reli dunia yang legendaris tersebut.