Penjualan Mobil Baru Turun, Kenapa Konsumen RI Beralih ke Bekas?
Uptodai.com - Data terbaru menunjukkan bahwa penjualan mobil baru turun secara berkelanjutan di Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan indikasi pergeseran besar dalam perilaku konsumen di pasar otomotif nasional. Ironisnya, saat penjualan unit gres melemah, pasar mobil bekas justru mengalami lonjakan signifikan.
Perubahan drastis ini terekam jelas dalam studi yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI). Hasil penelitian tersebut memotret bagaimana masyarakat Indonesia kini lebih memilih kendaraan seken ketimbang unit yang baru keluar dari pabrik.
Mengapa Penjualan Mobil Baru Turun Signifikan?
Tren penurunan penjualan mobil baru sudah berlangsung sejak puncaknya pada 2013, di mana saat itu angka penjualan mencapai 1,22 juta unit. Sayangnya, proyeksi untuk tahun 2024 menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, diperkirakan hanya menyentuh 866 ribu unit.
Menurut LPEM FEB UI, akar masalah utama dari kemerosotan ini adalah isu keterjangkauan. Kenaikan harga mobil baru dinilai tidak berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan atau daya beli riil masyarakat.
Syahda Sabrina, peneliti LPEM FEB UI, menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga tidak mampu mengejar laju pertumbuhan harga mobil. Ia menekankan bahwa upah riil, atau real wage, juga mengalami kenaikan yang tidak secepat inflasi harga kendaraan.
“Jika kita perhatikan, kenaikan upah riil tidak secepat laju inflasi harga mobil. Ini mengindikasikan adanya jurang yang semakin lebar antara harga kendaraan baru dan kemampuan finansial rumah tangga saat ini,” ujar Syahda.
Dominasi Pasar Mobil Bekas: 67,5 Persen Pangsa Pasar
Dampak langsung dari masalah keterjangkauan ini terlihat pada pangsa pasar kendaraan. Studi LPEM FEB UI mencatat adanya kenaikan drastis pangsa mobil bekas hingga mencapai 67,5 persen pada tahun 2024.
Angka ini jauh melampaui pangsa pasar mobil baru yang hanya menyentuh 32,5 persen. Artinya, dari setiap tiga mobil yang terjual di Indonesia, dua di antaranya merupakan mobil bekas.
Prediksi Konsumen Jangka Panjang
Dominasi mobil bekas ini diprediksi akan terus berlanjut setidaknya dalam lima tahun ke depan. Survei yang dilakukan menunjukkan bahwa mayoritas pemilik mobil yang berencana menambah unit, yakni 59 persen responden, berencana membeli mobil bekas.
Sementara itu, hanya 41 persen responden yang menyatakan minat untuk membeli mobil baru. Data ini memperkuat sinyal bahwa keterbatasan daya beli masyarakat menjadi faktor penentu utama dalam keputusan pembelian.
Faktor Lain yang Mendorong Konsumen Pilih Mobil Bekas
Selain daya beli yang terbatas, studi tersebut juga mengidentifikasi dua faktor penting lainnya yang membuat mobil bekas semakin dilirik. Faktor tersebut adalah perbedaan harga yang terlalu lebar antara unit baru dan bekas, serta depresiasi nilai jual kembali (resale value) yang relatif cepat pada beberapa segmen kendaraan.
Syahda menambahkan bahwa depresiasi yang terlalu tinggi membuat konsumen merasa rugi jika membeli mobil baru. Konsumen cenderung mencari nilai investasi yang lebih stabil.
“Seandainya nilai jual kembali mobil bisa dijaga setinggi mungkin, tidak jauh berbeda dari nilai jual OTR (On The Road) barunya, penjualan mobil baru tidak akan turun. Dengan kata lain, depresiasinya tidak terlalu tinggi,” jelasnya.
Sebagai contoh, studi tersebut menyoroti performa Toyota Innova. Model ini berhasil menjaga nilai jual kembalinya dengan sangat baik, bahkan nilai bekasnya saat ini masih mencapai 73 persen dibandingkan harga OTR baru.
Kondisi ini berkorelasi positif dengan penjualan Innova yang terlihat terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini membuktikan bahwa strategi menjaga resale value adalah kunci penting bagi produsen untuk mempertahankan pangsa pasar mobil baru di tengah tekanan ekonomi.