Uptodai.com - Proses adopsi motor listrik di Indonesia dinilai masih berjalan lambat dan belum menunjukkan gairah yang signifikan di kalangan masyarakat luas. Pengamat otomotif nasional, Bebin Djuana, mengungkapkan bahwa respons pasar terhadap kendaraan roda dua ramah lingkungan ini cenderung datar. Meskipun pemerintah telah menggelontorkan berbagai program insentif, stimulus tersebut dirasa belum cukup kuat untuk memicu migrasi besar-besaran dari motor konvensional.

Faktor harga awal kendaraan yang relatif tinggi masih menjadi benteng penghalang utama bagi calon konsumen. Selain masalah finansial, tantangan terbesar dari transisi ini terletak pada kesiapan teknologi baterai yang ada saat ini. Bebin menilai bahwa performa baterai yang dipasarkan sekarang belum mampu menunjang mobilitas harian masyarakat dengan mobilitas tinggi.

Sebagai contoh nyata, para pengemudi ojek daring dilaporkan harus melakukan penukaran baterai hingga mengatasi keterbatasan daya sebanyak enam kali dalam sehari. Frekuensi penukaran yang terlalu sering ini dinilai sangat tidak praktis dan menyita waktu operasional mereka di jalanan. Meskipun biaya operasional per kilometer diklaim lebih murah, kendala kepraktisan ini membuat para pekerja jalanan enggan beralih.

Tantangan Ekosistem dan Perbandingan Regional

Lambatnya transisi ini tentu menjadi catatan merah bagi target net-zero emission Indonesia pada tahun 2060 mendatang. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam, penetrasi kendaraan roda dua listrik di sana jauh lebih agresif karena didukung oleh manufaktur lokal yang kuat. Indonesia sebenarnya memiliki potensi nikel yang melimpah, namun hilirisasi untuk baterai kendaraan roda dua tampaknya belum berjalan optimal di tingkat konsumen ritel.

Untuk mengatasi masalah ini, produsen kendaraan listrik didorong untuk segera mengadopsi teknologi baterai generasi terbaru. Bebin menyarankan agar motor listrik minimal memiliki daya jelajah hingga 150 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh. Teknologi modern saat ini sebenarnya sudah memungkinkan kapasitas daya yang lebih besar tanpa harus menambah bobot kendaraan secara drastis.

Urgensi Infrastruktur Penukaran Baterai

Di samping pembenahan teknologi kendaraan, perluasan infrastruktur pendukung juga memegang peranan yang sangat krusial. Kolaborasi penyediaan stasiun penukaran baterai di gerai ritel modern dinilai sebagai langkah strategis yang sangat tepat. Jaringan ritel yang tersebar hingga ke pelosok daerah harus dimanfaatkan secara maksimal guna menjamin kenyamanan pengguna harian.

Di sisi lain, integrasi pasokan listrik dari PLN juga perlu diselaraskan dengan titik-titik pengisian daya di area publik. Banyak calon pengguna masih khawatir akan ketersediaan daya saat melakukan perjalanan jarak jauh ke luar kota. Oleh karena itu, standardisasi jenis baterai antar-merek juga mendesak untuk segera diterapkan demi efisiensi ekosistem secara menyeluruh.

Regulasi Keselamatan Sepeda Listrik

Terakhir, fenomena maraknya penggunaan sepeda listrik di jalan raya juga memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Bebin mendesak adanya pengawasan ketat terhadap aspek keselamatan, termasuk pembatasan kecepatan maksimal di angka 30 kilometer per jam. Jika kendaraan tersebut mampu melaju lebih cepat, maka aturan ketat seperti kepemilikan pelat nomor dan SIM wajib diberlakukan demi keselamatan bersama.