Perang Harga Mobil China Kian Sengit, Laba Pabrikan Menyusut Drastis
Uptodai.com - Kenaikan volume penjualan yang masif di pasar domestik China ternyata tidak serta merta menjamin keuntungan yang tebal bagi para produsen. Dampak brutal dari Perang Harga Mobil China semakin terlihat jelas setelah margin laba sektor otomotif dilaporkan menyentuh titik terendah.
Menurut data terbaru yang dirilis oleh Asosiasi Mobil Penumpang China (China Passenger Car Association/CPCA), margin laba industri otomotif saat ini hanya berada di level 4,4%. Angka ini hanya sedikit lebih baik dibandingkan posisi terendah sepanjang sejarah yang tercatat sebesar 4,3% pada tahun 2024.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang serius. Meskipun pendapatan industri telah melampaui 10 triliun yuan, atau tumbuh 8,1% secara tahunan, peningkatan laba bersih justru tertinggal jauh. Total laba hanya mencapai 440,3 miliar yuan, atau tumbuh 7,5%, sehingga ruang keuntungan semakin terhimpit.
Ancaman Margin Terendah Sepanjang Sejarah Industri Otomotif China
Sekretaris Jenderal CPCA, Cui Dongshu, menyoroti bahwa pertumbuhan volume penjualan yang tinggi tidak lagi sejalan dengan margin keuntungan yang memadai. Rata-rata pendapatan yang diperoleh industri dari setiap kendaraan mencapai sekitar 322.000 yuan.
Namun, setelah dipotong berbagai biaya, laba kotor yang tersisa hanya sekitar 14.000 yuan, atau setara dengan kisaran Rp33 juta per unit kendaraan. Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan kompleksitas dan risiko produksi massal yang dihadapi pabrikan.
Selain itu, total biaya operasional industri tercatat mencapai 8,84 triliun yuan, melonjak 9% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Peningkatan beban biaya yang lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan inilah yang menjadi penyebab utama menyusutnya Laba Pabrikan Mobil China.
Dua Sisi Tekanan: Biaya Bahan Baku dan Persaingan Pasar
Tekanan yang menimpa profitabilitas pabrikan datang dari dua arah yang saling menguatkan. Dari sisi input, industri menghadapi kenaikan harga bahan baku yang signifikan, terutama pada komponen baterai yang krusial bagi kendaraan energi baru (NEV).
Selain biaya material, peningkatan biaya tenaga kerja juga terus berlanjut seiring dengan pertumbuhan ekonomi China. Hal ini memaksa pabrikan untuk menanggung beban produksi yang semakin berat, bahkan sebelum kendaraan tersebut sampai ke tangan konsumen.
Dari sisi pasar, persaingan telah mencapai tingkat yang sangat sengit. Cui Dongshu menjelaskan bahwa Perang Harga Mobil China yang awalnya hanya berfokus pada segmen kendaraan listrik kini telah meluas ke kendaraan berbahan bakar bensin konvensional.
Akibatnya, produsen harus secara agresif menurunkan harga jual demi mempertahankan pangsa pasar mereka. Langkah ini, meskipun berhasil mendongkrak volume, secara langsung mengikis margin keuntungan yang sudah tipis.
Kinerja Pabrikan Besar Terpukul dan Krisis di Tingkat Dealer
Situasi sulit ini turut tercermin dalam kinerja keuangan sejumlah pabrikan besar. Ambil contoh Great Wall Motor (GWM). Perusahaan ini mencatatkan kenaikan pendapatan hampir 8% dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Meskipun demikian, laba bersih perusahaan justru mengalami penurunan tajam, anjlok hampir 17%. Penurunan ini disebabkan oleh kombinasi peningkatan biaya distribusi dan tekanan harga jual yang masif di pasar.
Tekanan finansial bahkan terasa lebih parah di tingkat distributor. Data menunjukkan bahwa lebih dari separuh dealer mobil di China saat ini mengalami kerugian operasional. Bahkan, lebih dari 70% model mobil dijual dengan margin negatif, atau di bawah biaya produksi sebenarnya.
Kondisi ini menciptakan lingkungan bisnis yang tidak berkelanjutan bagi rantai pasokan otomotif secara keseluruhan. Para dealer terpaksa menanggung kerugian untuk membersihkan stok dan memenuhi target penjualan yang ditetapkan oleh pabrikan.
Meskipun demikian, terdapat sedikit secercah harapan. Kinerja industri pada November 2025 menunjukkan sedikit perbaikan. Pendapatan bulanan mencapai 1.144,5 miliar yuan, tumbuh 9,7% secara tahunan, sementara margin laba bulanan naik tipis menjadi 4,4%, lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, sepanjang periode Januari hingga November 2025, total produksi kendaraan di China telah mencapai 31,09 juta unit. Lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan produksi kendaraan energi baru yang pesat. Namun, tantangan utama industri tetap sama: bagaimana mengubah volume penjualan yang besar menjadi keuntungan finansial yang sehat di tengah Perang Harga Mobil China yang tak berkesudahan.