Uptodai.com - Di tengah tekanan signifikan pada pasar kendaraan nasional, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) tetap menunjukkan optimisme kuat terkait proyeksi bisnis Dharma Polimetal ke depan. Perusahaan manufaktur komponen otomotif ini bahkan berani mematok target pendapatan yang ambisius untuk tahun fiskal 2026, meskipun industri sedang menghadapi periode perlambatan.

Lesunya permintaan kendaraan roda empat konvensional menjadi tantangan utama yang harus dihadapi, sejalan dengan dinamika makroekonomi global yang kurang mendukung. Namun, DRMA telah menyiapkan strategi mitigasi yang berfokus pada diversifikasi produk dan perluasan pangsa pasar untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Tantangan Makroekonomi dan Lesunya Pasar Roda Empat

Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso, mengakui bahwa penurunan penjualan kendaraan roda empat menjadi ganjalan terbesar yang memberikan tekanan sepanjang 2025. Kondisi ini secara langsung memengaruhi permintaan komponen otomotif, khususnya pada segmen kendaraan konvensional.

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menguatkan kondisi pelemahan pasar tersebut. Penjualan mobil secara wholesales (dari pabrik ke dealer) pada periode Januari hingga Desember 2025 hanya mencapai 803.687 unit.

Angka capaian itu mencerminkan penurunan tajam sebesar 7,2% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2024. Sementara itu, penjualan ritel—yang merupakan transaksi dari dealer ke konsumen akhir—juga mengalami pelemahan.

Penjualan ritel tercatat sebanyak 833.692 unit, atau turun 6,3% dari periode sebelumnya. Kondisi pasar yang menekan ini membuat DRMA harus bergerak cepat untuk memastikan kinerja perusahaan tetap solid.

Roda Dua Jadi Penyelamat Kinerja DRMA

Meskipun menghadapi tekanan berat dari segmen roda empat, DRMA berhasil mencatatkan kinerja penjualan yang tetap solid sepanjang 2025. Meskipun laporan keuangan final 2025 belum dirilis, perseroan memproyeksikan kenaikan penjualan single digit untuk tahun lalu.

Penopang utama kinerja ini berasal dari segmen kendaraan roda dua. Segmen tersebut menyumbang kontribusi signifikan, yakni sekitar 62% terhadap total pendapatan perseroan, berkat stabilnya permintaan di pasar domestik.

Soliditas kinerja ini terlihat jelas dalam laporan kuartal III/2025. Pada periode tersebut, pendapatan DRMA tumbuh 9,2% (YoY) menjadi Rp4,39 triliun, melampaui Rp4,02 triliun yang dicatatkan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga menunjukkan tren positif. Laba bersih tercatat sebesar Rp419,87 miliar pada sembilan bulan pertama 2025, naik tipis 1,89% secara tahunan dibandingkan laba bersih periode sebelumnya.

Strategi Diversifikasi dan Target Ambisius 2026

Melihat prospek ke depan, DRMA tidak mengendurkan ambisi mereka. Perseroan menetapkan target pendapatan yang jauh lebih tinggi untuk tahun 2026, didukung oleh strategi diversifikasi yang matang.

Irianto Santoso menjelaskan bahwa target pendapatan minimal yang ditetapkan DRMA adalah sebesar Rp6,5 triliun. Angka ini melampaui target pendapatan tahun 2025 yang dipatok sebesar Rp6 triliun, menunjukkan kepercayaan diri manajemen.

Kenaikan target ini akan didukung oleh beberapa pilar utama. Pertama, diversifikasi pasar ekspor yang lebih agresif untuk mengurangi risiko pasar domestik. Kedua, pengembangan bisnis sejak tahap awal (R&D) produk.

Terakhir, perseroan akan fokus pada perluasan portofolio produk dan stock keeping unit (SKU) yang semakin beragam. Langkah ini diharapkan mampu menjaga margin keuntungan di tengah fluktuasi pasar dan pergeseran tren menuju kendaraan energi baru.