Uptodai.com - Dunia teknologi dan antariksa kembali diguncang oleh keputusan strategis dari Elon Musk. Setelah sebelumnya menggeser fokus Tesla menjadi perusahaan kecerdasan buatan (AI) dan robotik, kini giliran perusahaan antariksa miliknya, SpaceX, yang mengumumkan perubahan prioritas besar.

Jika selama ini SpaceX identik dengan ambisi besar membawa kehidupan manusia ke Mars, kini target jangka pendek yang lebih realistis dan mendesak telah ditetapkan. Orang terkaya di dunia itu secara resmi menyatakan bahwa SpaceX akan memprioritaskan proyek ambisius untuk Elon Musk bangun kota Bulan.

Pergeseran Prioritas dari Planet Merah

Musk mengumumkan melalui unggahan di platform X bahwa pembangunan kota di Bulan menjadi fokus utama perusahaannya saat ini. Ia menjanjikan bahwa ambisi kolonisasi Bulan tersebut dapat tercapai dalam waktu kurang dari 10 tahun ke depan. Keputusan ini menandai pergeseran fokus yang cukup signifikan, meskipun tujuan jangka panjang ke Mars tetap dipertahankan.

Menurut Musk, prioritas utama saat ini adalah mengamankan peradaban masa depan di Bulan dengan kecepatan yang lebih tinggi. Pernyataan ini sejalan dengan laporan yang dirilis oleh Wall Street Journal pada pekan sebelumnya, yang menyebutkan bahwa SpaceX telah memberi tahu para investornya mengenai pemfokusan ulang proyek perjalanan ke Bulan.

Meskipun Mars masih menjadi bagian dari visi jangka panjang, proyek tersebut kini berada di lini waktu yang lebih panjang. Sementara itu, target pendaratan tanpa awak di Bulan telah dipatok secara agresif, yakni pada Maret 2027. Target ini sedikit lebih mundur dibandingkan janji Musk tahun lalu yang sempat menggembar-gemborkan misi pengiriman pesawat tanpa awak ke Mars pada akhir 2026.

Kompetisi Sengit di Orbit Bumi

Langkah SpaceX memprioritaskan Bulan juga tidak lepas dari ketatnya kompetisi global dalam eksplorasi antariksa. Amerika Serikat (AS) saat ini menghadapi persaingan yang sengit dengan China, yang juga berambisi mengirimkan manusia kembali ke permukaan Bulan dalam dekade ini.

Manusia sendiri belum pernah menginjakkan kaki di permukaan satelit alami Bumi tersebut sejak misi Apollo 17 pada tahun 1972 silam. Oleh karena itu, keberhasilan SpaceX dalam membangun basis di Bulan akan menjadi pencapaian monumental dan keunggulan strategis bagi AS.

Selain fokus pada eksplorasi fisik, strategi baru SpaceX juga terintegrasi dengan pengembangan teknologi AI. Belum genap sepekan lalu, Musk mengumumkan bahwa SpaceX mengakuisisi perusahaan AI miliknya sendiri, xAI. Kesepakatan ini menempatkan nilai perusahaan roket dan satelit tersebut mencapai US$1 triliun, sementara perusahaan AI-nya bernilai US$250 miliar.

Para pendukung langkah integrasi ini melihatnya sebagai cara cerdas bagi SpaceX untuk memperkuat rencana pembangunan pusat data (data center) berbasis ruang angkasa. Menurut Musk, fasilitas pusat data di orbit akan jauh lebih hemat energi dibandingkan fasilitas yang berada di darat, sebuah kebutuhan krusial mengingat lonjakan permintaan daya komputasi seiring pesatnya perkembangan AI.

Untuk membiayai ambisi besar ini, SpaceX menargetkan penawaran umum perdana (IPO) pada akhir tahun ini. Perusahaan tersebut diperkirakan dapat mengumpulkan pendanaan segar hingga US$50 miliar. Jika terwujud, IPO ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah industri teknologi dan antariksa, sekaligus menjadi modal utama untuk mewujudkan kota baru di Bulan.