Uptodai.com - Kritik Donald Trump Bad Bunny mencuat ke publik setelah penampilan megah sang musisi di panggung paruh waktu Super Bowl LX. Mantan Presiden Amerika Serikat tersebut meluapkan amarahnya melalui platform media sosial miliknya, Truth Social. Ia menilai pertunjukan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai luhur kebudayaan Amerika dan justru menjadi sebuah penghinaan besar.

Pertunjukan yang berlangsung selama 13 menit itu sebenarnya mendapat sambutan hangat dari para kritikus musik dan penggemar di seluruh dunia. Bad Bunny berhasil menyulap lapangan hijau menjadi sebuah festival budaya Karibia yang sangat kental dan berwarna. Visual rumah tradisional Puerto Rico atau yang dikenal sebagai casita mendominasi panggung utama malam itu.

Kemeriahan semakin memuncak dengan kehadiran sejumlah bintang tamu papan atas dunia yang mendampingi sang rapper. Nama-nama besar seperti Lady Gaga, Ricky Martin, hingga Cardi B turut memberikan energi luar biasa di atas panggung. Bahkan, aktor Pedro Pascal dan penyanyi Karol G memberikan kejutan cameo yang membuat penonton di stadion bersorak riuh.

Alasan Donald Trump Kritik Bad Bunny di Super Bowl

Donald Trump merasa sangat kecewa karena mayoritas lagu yang dibawakan oleh Bad Bunny menggunakan bahasa Spanyol. Ia menganggap penggunaan bahasa asing dalam acara olahraga terbesar di Amerika Serikat sebagai sebuah kesalahan fatal. Baginya, panggung Super Bowl seharusnya menjadi wadah eksklusif untuk merayakan identitas nasional Amerika yang menggunakan bahasa Inggris.

Para pendukung fanatik Trump juga menyuarakan sentimen serupa di berbagai platform digital dalam beberapa hari terakhir. Mereka menyebut keputusan penyelenggara untuk memilih Bad Bunny sebagai penampil utama adalah langkah yang gila dan mengerikan. Bad Bunny sendiri memang dikenal sebagai sosok yang vokal dalam menyuarakan isu-isu sosial dan politik yang sensitif.

Kecaman ini sebenarnya sudah mulai terdengar sejak beberapa bulan sebelum acara puncak tersebut digelar. Basis pendukung Trump menganggap Bad Bunny sebagai aktivis anti-ICE (Immigration and Customs Enforcement) yang terlalu fanatik. Hal inilah yang memicu gelombang protes dari kelompok konservatif yang merasa nilai-nilai mereka tidak terwakili dalam pertunjukan tersebut.

Pesan Politik di Balik Penampilan Bad Bunny Super Bowl

Di sela-sela aksinya yang energik, Bad Bunny sempat menyampaikan pesan dalam bahasa Inggris yang memicu perdebatan sengit. Ia meneriakkan kalimat “God bless America” namun dengan memberikan konteks yang jauh lebih luas dari biasanya. Sang musisi menyebutkan deretan negara dari Amerika Selatan hingga Amerika Utara sebagai satu kesatuan benua.

“Tuhan memberkati Amerika, baik itu Chili maupun Argentina,” ungkap Bad Bunny sembari menyebutkan lebih dari 20 negara lainnya. Aksi panggung Bad Bunny ini seolah ingin menegaskan bahwa istilah Amerika bukan hanya milik satu negara berdaulat saja. Hal ini tentu memicu reaksi keras dari kalangan yang memegang teguh paham nasionalisme sempit di Amerika Serikat.

Ketegangan antara pihak Trump dan Bad Bunny sebenarnya sudah memanas sejak kemenangan sang artis di ajang penghargaan Grammy. Saat itu, Bad Bunny secara terbuka melontarkan protes keras terhadap kebijakan agen imigrasi Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa kaum imigran adalah manusia yang memiliki martabat, bukan binatang atau makhluk asing.

Pada bagian akhir pertunjukan, sebuah pesan besar muncul di layar stadion yang menarik perhatian jutaan pasang mata di seluruh dunia. Tulisan tersebut berbunyi bahwa satu-satunya hal yang lebih kuat daripada kebencian adalah cinta. Pesan ini dianggap banyak pihak sebagai sindiran halus terhadap retorika kebencian yang sering muncul dalam panggung politik.

Meskipun mendapat kecaman keras dari kubu Donald Trump, popularitas Bad Bunny justru terlihat semakin meroket di kancah global. Banyak pihak yang menilai bahwa keberaniannya membawa budaya Latin ke panggung utama adalah sebuah kemajuan besar. Perdebatan ini pada akhirnya mencerminkan dinamika sosial dan politik yang masih terus bergejolak di dalam masyarakat Amerika.