Uptodai.com - Tata kelola industri fintech menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital yang terus berkembang pesat di tanah air. CEO AdaKami, Bernardino Moningka Vega Jr, menegaskan bahwa aspek kepatuhan terhadap regulasi bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan bisnis yang mendasar. Pengalaman panjangnya di berbagai sektor industri memberikan perspektif mendalam mengenai pentingnya stabilitas dalam sistem pembiayaan.

Bernardino membawa rekam jejak yang sangat beragam sebelum akhirnya memimpin PT Pembiayaan Digital Indonesia atau AdaKami. Ia tercatat pernah berkecimpung di sektor properti, energi, minyak dan gas, hingga logistik dan kimia. Selain menjabat sebagai CEO, sosok ini juga aktif mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia.

Transformasi Ekonomi dan Celah Pembiayaan Nasional

Perjalanan profesional Bernardino sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi nasional, terutama saat menghadapi krisis moneter 1997-1998. Baginya, momen tersebut merupakan titik balik yang mengubah lanskap pembiayaan di Indonesia secara drastis. Pasca krisis, perbankan nasional cenderung menjadi sangat konservatif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga rasio kesehatan keuangan mereka.

Sikap hati-hati perbankan ini secara tidak langsung menciptakan credit gap atau kesenjangan akses kredit yang cukup besar. Masyarakat kelas bawah serta pelaku usaha mikro dan ultramikro menjadi pihak yang paling terdampak karena tidak memiliki akses ke lembaga keuangan konvensional. Kondisi inilah yang kemudian mendorong Bernardino untuk membesarkan AdaKami pada tahun 2018 sebagai solusi inklusi keuangan.

AdaKami hadir sebagai platform fintech lending yang secara khusus menyasar segmen mikro yang membutuhkan dana segar. Perusahaan ini memfokuskan penyaluran pinjaman dalam kisaran Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta bagi mereka yang selama ini terabaikan. Fokus pada segmen kecil namun masif ini menjadi strategi utama dalam mempersempit jurang pembiayaan di tengah masyarakat.

Inovasi Teknologi dalam Penilaian Kredit

Pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama bagi AdaKami dalam menjalankan operasionalnya secara efisien dan aman. Bernardino menjelaskan bahwa kemajuan teknologi memungkinkan perusahaan menggunakan algorithm-based credit scoring untuk menilai kelayakan calon peminjam. Sistem ini bekerja dengan menganalisis data alternatif yang tidak digunakan oleh perbankan tradisional pada umumnya.

Data digital seperti perilaku pembayaran utilitas dan pola transaksi lainnya menjadi parameter penting dalam menentukan skor kredit seseorang. Dengan metode ini, industri fintech dapat menjangkau masyarakat yang belum memiliki riwayat kredit di bank (unbanked). Inovasi tersebut memastikan bahwa penyaluran dana tetap tepat sasaran meskipun tanpa agunan fisik yang memberatkan.

Penerapan teknologi ini juga harus berjalan beriringan dengan tata kelola industri fintech yang ketat untuk melindungi data nasabah. Keamanan siber menjadi prioritas utama agar ekosistem keuangan digital tetap kredibel di mata investor maupun pengguna. Tanpa perlindungan data yang mumpuni, inovasi teknologi secanggih apa pun akan sulit mendapatkan kepercayaan publik secara jangka panjang.

Peran Strategis OJK dalam Mengatur Ekosistem

Bernardino menekankan bahwa industri fintech di Indonesia memiliki kerangka kepatuhan yang jauh lebih jelas sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai bertindak. Sejak tahun 2017, proses pendaftaran dan perizinan yang ketat telah menciptakan pemisahan tegas antara penyelenggara legal dan ilegal. Regulasi ini berfungsi sebagai pelindung bagi konsumen dari praktik penagihan yang tidak beretika.

Pendekatan regulasi yang terstruktur dan bertahap di Indonesia dinilai jauh lebih sehat dibandingkan dengan beberapa negara lain. Bernardino memberikan contoh kasus di Tiongkok, di mana keterlambatan regulasi sempat memicu maraknya praktik shadow banking. Akibatnya, ribuan perusahaan fintech di sana mengalami keruntuhan karena tidak memiliki dasar hukum dan tata kelola yang kuat.

Berkat ekosistem yang sehat, AdaKami berhasil mencatatkan performa keuangan yang stabil dengan tingkat risiko yang terkendali. Perusahaan mencatat Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP-90) tetap berada di bawah angka 2%, yang menunjukkan kualitas kredit yang sangat baik. Hingga saat ini, total akumulasi penyaluran dana AdaKami telah mencapai angka fantastis sebesar Rp 66,23 triliun.