Perayaan Imlek Sarwendah Tanpa Warna Merah dan Barongsai
Uptodai.com - Perayaan Imlek Sarwendah tahun ini terasa sangat berbeda dan penuh dengan suasana haru yang mendalam bagi keluarganya. Mantan personel Cherrybelle tersebut memilih untuk memperingati Tahun Baru China 2577 Kongzili dengan cara yang jauh lebih sederhana dari biasanya.
Keputusan ini diambil karena keluarga besarnya masih berada dalam masa berkabung setelah kepergian sang ayah tercinta beberapa waktu lalu. Meskipun tidak ada kemeriahan yang mencolok, Sarwendah tetap memanjatkan rasa syukur karena masih bisa berkumpul bersama orang-orang terdekatnya.
Ibu tiga anak ini mengungkapkan perasaannya saat ditemui di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, pada Selasa malam. Ia menegaskan bahwa pertemuan keluarga kali ini hanya melibatkan kerabat inti guna menjaga kekhidmatan masa duka yang belum genap satu tahun.
Suasana Perayaan Imlek Sarwendah yang Sederhana
Sarwendah menjelaskan bahwa kondisi keluarganya saat ini tidak memungkinkan untuk menggelar pesta besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Keberadaan sosok ayah yang biasa dipanggil Yeye masih sangat terasa, sehingga keluarga sepakat untuk membatasi euforia perayaan.
Meskipun demikian, ia merasa bahagia karena kehangatan keluarga tetap terjaga di tengah kesederhanaan tersebut. Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang santai dan menikmati momen kebersamaan tanpa adanya hiruk-pikuk pesta yang berlebihan.
Kehadiran orang-orang terdekat menjadi penguat bagi Sarwendah dalam menjalani tradisi tahunan ini. Ia memilih untuk fokus pada makna silaturahmi dibandingkan dengan kemewahan atribut fisik yang biasanya melekat pada perayaan Tahun Baru Tionghoa.
Larangan Penggunaan Warna Merah dan Barongsai
Salah satu perubahan paling mencolok dalam perayaan Imlek Sarwendah kali ini adalah absennya warna merah yang identik dengan keberuntungan. Sarwendah terlihat mengenakan busana berwarna biru, sesuai dengan aturan adat keluarga yang sedang berkabung.
Ia mengaku telah berdiskusi panjang dengan anggota keluarga lainnya mengenai aturan berpakaian dan penggunaan atribut Imlek. Hasilnya, mereka memutuskan untuk menghindari warna-warna cerah yang dianggap kurang pantas dalam suasana duka yang masih menyelimuti rumah mereka.
Selain busana, tradisi pertunjukan barongsai yang biasanya hadir memeriahkan suasana rumah juga terpaksa ditiadakan tahun ini. Sarwendah memberikan pengertian kepada anak-anaknya bahwa suara riuh barongsai belum bisa dihadirkan ke dalam lingkungan rumah mereka untuk sementara waktu.
Tradisi Angpao dan Penyesuaian Adat
Meskipun banyak batasan, tradisi berbagi angpao tetap dijalankan oleh keluarga Sarwendah sebagai bentuk kasih sayang. Namun, ada penyesuaian unik yang dilakukan, yaitu tidak menggunakan amplop berwarna merah yang menjadi standar umum.
Sarwendah sempat mencari tahu dan bertanya kepada banyak pihak mengenai etika berbagi angpao di masa berkabung. Setelah mendapatkan saran, ia memutuskan tetap berbagi rezeki namun dengan kemasan yang lebih netral agar tetap menghormati mendiang sang ayah.
Anak-anak Sarwendah pun mulai memahami situasi ini setelah diberikan penjelasan secara perlahan oleh sang ibunda. Mereka tetap bisa merasakan esensi Imlek meskipun tanpa dekorasi yang mencolok atau suara musik yang menggelegar di setiap sudut ruangan.
Menu Makanan dan Pantangan Kue Lapis
Sisi kuliner juga mengalami penyesuaian yang cukup signifikan dalam tradisi keluarga besar Sarwendah tahun ini. Biasanya, sang ibunda yang akrab disapa Nai Nai selalu menyiapkan hidangan khas seperti shabu-shabu dan kue lapis yang melambangkan rezeki berlapis.
Tahun ini, hidangan shabu-shabu tetap tersaji di meja makan untuk dinikmati bersama keluarga inti. Namun, ada larangan khusus bagi Nai Nai untuk membuat sendiri kue lapis karena usia meninggalnya sang ayah yang belum mencapai satu tahun.
Sebagai solusinya, keluarga hanya mengonsumsi kue lapis yang diberikan oleh orang lain sebagai hantaran. Pembatasan ini dilakukan demi menjaga kepercayaan dan adat istiadat yang telah turun-temurun dijalankan oleh keluarga besar mereka dalam menghormati leluhur.