Uptodai.com - Kegagalan misi Boeing Starliner memicu kemarahan besar dari bos baru NASA, Jared Isaacman, yang baru saja menduduki kursi kepemimpinan lembaga antariksa tersebut. Isaacman secara terbuka meluapkan kekecewaannya terhadap Boeing dan tim internal NASA atas serangkaian kelalaian yang dianggap sangat fatal. Ia menilai ada ketidakbecusan yang sistemik dalam menangani proyek ambisius pengiriman kru ke luar angkasa ini.

Persoalan ini bermula ketika pesawat Starliner buatan Boeing mengalami kendala teknis serius setelah berlabuh di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Akibat kerusakan pada sistem pendorong dan kebocoran helium, dua astronaut senior, Suni Williams dan Butch Wilmore, harus tertahan di orbit. Kondisi ini memaksa mereka terjebak selama hampir satu tahun di luar angkasa tanpa kepastian kepulangan awal.

Krisis Kepemimpinan di Balik Masalah Teknis Starliner

Jared Isaacman menegaskan bahwa kegagalan misi Boeing Starliner bukan sekadar masalah perangkat keras atau desain fisik pesawat semata. Hasil penyelidikan internal menunjukkan adanya lubang besar dalam struktur kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan di kedua belah pihak. Isaacman menyoroti bagaimana ego sektoral dan koordinasi yang buruk justru memperparah situasi darurat tersebut.

Penyelidikan mendalam mengungkapkan bahwa NASA dan Boeing sempat terjebak dalam hubungan yang saling tidak percaya selama proses pengembangan. Pengawasan yang dilakukan NASA dianggap terlalu longgar, sementara Boeing dinilai kurang transparan mengenai risiko teknis yang ada. Isaacman memperingatkan bahwa budaya kerja seperti ini sangat berbahaya dan tidak boleh ditoleransi dalam industri penerbangan luar angkasa.

Ia juga membeberkan fakta mengejutkan mengenai tekanan jadwal yang luar biasa tinggi sebelum peluncuran dilakukan. Sebanyak 30 kali percobaan peluncuran yang tertunda menciptakan kelelahan mental bagi tim teknis dan pengambil kebijakan. Kondisi ini memicu perilaku tidak profesional di antara staf saat mencoba mencari solusi bagi kru yang terdampar di orbit.

Budaya Kerja yang Mengancam Keselamatan Astronaut

Associate NASA Administrator, Amit Kshatriya, turut memberikan pernyataan keras yang mendukung temuan Isaacman tersebut. Ia mengakui bahwa tindakan yang diambil oleh NASA dan Boeing pada saat krisis terjadi sempat mengancam keselamatan Wilmore dan Williams. Kshatriya menekankan bahwa lembaga tersebut berutang permintaan maaf yang besar kepada para astronaut dan keluarga mereka.

Meskipun Suni Williams dan Butch Wilmore dikenal sebagai pilot uji yang sangat tangguh, risiko yang mereka hadapi di ISS bukanlah hal sepele. NASA kini harus menanggung beban moral dan operasional akibat ketidaksiapan infrastruktur yang seharusnya sudah matang. Isaacman berkomitmen untuk merombak total cara kerja tim agar insiden memalukan ini tidak pernah terulang kembali di masa depan.

Langkah Perbaikan dan Penyelamatan oleh SpaceX

Menanggapi kritik pedas tersebut, pihak Boeing menyatakan telah melakukan langkah-langkah korektif yang substansial selama 18 bulan terakhir. Mereka mengeklaim telah memperbaiki berbagai tantangan teknis dan berupaya mengubah budaya kerja di internal perusahaan. Boeing berjanji akan lebih kooperatif dengan NASA guna mengembalikan kepercayaan publik terhadap kemampuan teknologi mereka.

Namun, nasi telah menjadi bubur bagi misi Starliner kali ini karena NASA akhirnya berpaling ke kompetitor utama mereka. Guna menjemput Williams dan Wilmore, NASA terpaksa menggunakan kapsul Dragon buatan SpaceX milik Elon Musk. Rencana evakuasi ini dijadwalkan baru akan terlaksana pada Maret 2025 mendatang bersama astronaut Nick Hague dan kosmonaut Rusia.

Ketergantungan NASA pada SpaceX dalam situasi darurat ini menjadi tamparan keras bagi reputasi Boeing sebagai raksasa kedirgantaraan. Industri teknologi global kini menyoroti bagaimana sebuah perusahaan besar bisa kalah gesit dalam berinovasi dan menjaga standar keselamatan. Kini, fokus utama NASA adalah memastikan kepulangan kru dengan selamat sembari membersihkan sisa-sisa kegagalan manajemen yang ditinggalkan.