Kenapa Naturalisasi Mauresmo Hinoke Dilarang FIFA? Ini Alasannya
Uptodai.com - Kabar mengenai naturalisasi Mauresmo Hinoke dilarang oleh FIFA menjadi pukulan telak bagi publik sepak bola tanah air yang mengharapkan kehadirannya. Pemain muda berbakat yang kini merumput di Liga Belanda tersebut terpaksa mengubur impiannya untuk berseragam Merah Putih dalam waktu dekat. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut kabarnya menemukan ganjalan administratif yang tidak memungkinkan proses perpindahan federasi sang pemain dilanjutkan.
Nama Mauresmo Hinoke sebenarnya bukan sosok asing bagi para pecinta Timnas Indonesia karena ia sempat mencuri perhatian beberapa waktu lalu. Penyerang sayap berusia 20 tahun ini pernah memperkuat Timnas Indonesia U-20 di ajang bergengsi Toulon Tournament 2024 yang berlangsung di Prancis. Penampilan impresifnya mencapai puncaknya saat ia berhasil menyarangkan gol indah ke gawang Jepang, sebuah pencapaian yang sempat melambungkan harapan PSSI untuk segera memproses kewarganegaraannya.
Aturan Ketat FIFA yang Menjegal Mauresmo Hinoke
Meskipun memiliki darah Indonesia yang cukup kental, naturalisasi Mauresmo Hinoke dilarang karena terbentur aturan kelayakan (eligibility) FIFA yang sangat spesifik. Berdasarkan regulasi terbaru, seorang pemain hanya bisa berpindah federasi jika memiliki hubungan darah maksimal dari kakek atau nenek (generasi ketiga). Kasus Hinoke menjadi rumit karena garis keturunan Indonesianya dikabarkan berasal dari buyut atau generasi keempat, yang secara hukum FIFA tidak diakui untuk proses naturalisasi atlet.
PSSI sebenarnya telah berupaya maksimal untuk mencari celah hukum agar sang pemain tetap bisa membela skuad Garuda di masa depan. Namun, aturan FIFA terkait perpindahan asosiasi bersifat final dan tidak dapat ditawar demi menjaga integritas kompetisi antarnegara. Kegagalan ini tentu sangat disayangkan mengingat Hinoke memiliki profil permainan modern yang sangat dibutuhkan oleh pelatih Timnas Indonesia saat ini.
Fokus Baru Timnas Indonesia di Bawah John Herdman
Di tengah kabar batalnya proses pemain keturunan Timnas Indonesia tersebut, skuad Garuda kini mulai mengalihkan fokus pada agenda besar tahun 2026. Kehadiran John Herdman sebagai pelatih kepala baru membawa angin segar sekaligus standar disiplin yang lebih tinggi bagi para pemain. Pelatih asal Inggris tersebut menekankan pentingnya kualitas individu yang mampu bersaing di level elite Eropa untuk mendongkrak performa tim secara kolektif.
Agenda terdekat yang sudah menanti di depan mata adalah turnamen persahabatan internasional bertajuk FIFA Series 2026. Jakarta terpilih menjadi tuan rumah ajang dua tahunan ini yang rencananya akan digelar pada akhir Maret mendatang. Indonesia dijadwalkan menyambut tiga negara dari konfederasi yang berbeda, yaitu Bulgaria, Kepulauan Solomon, serta Saint Kitts dan Nevis dalam format turnamen gugur.
Persiapan Skuad Garuda Menuju FIFA Series 2026
Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, menjelaskan bahwa Indonesia yang saat ini menempati peringkat 122 dunia akan menantang Saint Kitts dan Nevis di babak semifinal. Pertandingan krusial ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 27 Maret 2026, pukul 20.00 WIB di hadapan pendukung sendiri. Sementara itu, laga semifinal lainnya akan mempertemukan wakil Eropa, Bulgaria, melawan Kepulauan Solomon untuk memperebutkan tiket ke partai puncak.
Pemenang dari masing-masing laga semifinal akan langsung bertarung di babak final yang digelar pada 30 Maret pukul 20.00 WIB. Bagi tim yang menelan kekalahan, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperebutkan posisi ketiga pada hari yang sama di sore hari. Turnamen ini menjadi panggung pembuktian bagi John Herdman untuk meramu strategi terbaiknya tanpa kehadiran Mauresmo Hinoke yang batal bergabung.
Setelah merampungkan FIFA Series, perjuangan Timnas Indonesia masih akan berlanjut ke ajang Piala ASEAN yang dijadwalkan pada akhir Juli. Selain itu, skuad Garuda juga harus bersiap menghadapi rangkaian kualifikasi menuju Piala Asia 2027 yang akan diselenggarakan di Arab Saudi. Meski naturalisasi Mauresmo Hinoke dilarang, PSSI tetap berkomitmen mencari talenta diaspora lain yang memenuhi syarat regulasi FIFA untuk memperkuat kedalaman tim.