Uptodai.com - PT Agrinas Pangan Nusantara akhirnya buka suara mengenai alasan di balik rencana besar melakukan impor mobil pickup India guna memenuhi kebutuhan armada nasional. Perusahaan menegaskan bahwa langkah ini bukan merupakan keputusan mendadak tanpa mempertimbangkan potensi industri dalam negeri.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengklaim pihaknya telah melakukan penjajakan serius dengan berbagai produsen lokal. Pertemuan tersebut melibatkan pabrikan besar asal Jepang hingga China yang sudah memiliki basis produksi kuat di tanah air.

Pihak Agrinas menyatakan telah membuka ruang transparansi bagi semua produsen untuk memberikan penawaran terbaik mereka. Namun, proses negosiasi tersebut menemui jalan buntu karena tidak tercapainya kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Kegagalan Negosiasi dengan Produsen Lokal

Joao secara spesifik menyebutkan beberapa nama besar yang sempat diajak berdiskusi, di antaranya adalah Foton, Suzuki, hingga Daihatsu. Namun, proses diskusi mengenai rencana pengadaan unit dalam jumlah masif ini terganjal oleh sejumlah faktor teknis dan ekonomi.

Salah satu poin utama yang menjadi kendala adalah kapasitas produksi pabrikan di Indonesia yang saat ini sudah mencapai titik maksimal. Joao menyoroti bahwa model populer seperti Suzuki Carry dan Daihatsu Gran Max memiliki keterbatasan dalam memenuhi permintaan tambahan yang sangat besar.

Saat ini, kapasitas produksi untuk jenis pickup 4×2 di Indonesia rata-rata hanya berkisar antara 100 ribu hingga 120 ribu unit per tahun. Jumlah tersebut bahkan sudah terserap untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta sektor pertanian yang terus tumbuh berkat subsidi pemerintah.

Kendala Harga dan Skema Pembelian Gelondongan

Selain masalah kapasitas, impor mobil pickup India menjadi pilihan karena adanya perbedaan visi dalam skema transaksi bisnis. Agrinas berencana membeli kendaraan dalam jumlah ratusan ribu unit, bukan sekadar ribuan unit seperti pembelian retail pada umumnya.

Perusahaan menginginkan sistem pembelian secara “ball-ballan” atau gelondongan untuk mendapatkan harga yang jauh lebih ekonomis. Skema ini dianggap lebih efektif dalam mengoptimalkan penggunaan anggaran negara maupun perusahaan untuk pengadaan skala besar.

Sayangnya, mayoritas produsen lokal yang sudah mendominasi pasar selama puluhan tahun cenderung enggan memberikan harga grosir tersebut. Mereka tetap menerapkan sistem penjualan per unit yang dinilai Agrinas kurang kompetitif untuk proyek berskala nasional.

Target Pengadaan dari Mahindra dan Tata Motors

Ketidaktercapainya kesepakatan dengan produsen lokal akhirnya membuat Agrinas mengalihkan pandangan ke produsen otomotif asal India. Perusahaan berencana mendatangkan sekitar 105 ribu unit pickup dari dua merek ternama, yakni Mahindra dan Tata Motors.

Langkah ini diambil demi memastikan ketersediaan unit yang cepat dan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan di lapangan. Mahindra sendiri baru-baru ini telah memperkenalkan lini produk Scorpio Pikup yang akan dipasarkan melalui jaringan distributor RMA Group.

Keputusan melakukan impor mobil pickup India ini diharapkan mampu menutup celah kebutuhan kendaraan komersial yang belum bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri. Agrinas berharap langkah ini dapat mendukung kelancaran distribusi pangan dan program strategis pemerintah lainnya secara lebih efisien.