Uptodai.com - Sebelas warga Afrika Selatan tertipu kerja di Rusia akhirnya berhasil menginjakkan kaki kembali di tanah air mereka pada Rabu kemarin. Kepulangan mereka disambut dengan pengawalan ketat aparat kepolisian saat mendarat di Bandara Internasional King Shaka. Para pria ini sebelumnya terjebak dalam situasi berbahaya setelah dijanjikan pekerjaan yang ternyata fiktif.

Isak tangis dan raut lega terpancar dari wajah para pria yang sempat terisolasi di wilayah Donbas, Ukraina timur. Mereka merupakan bagian dari kelompok warga yang mengirimkan sinyal darurat setelah menyadari telah menjadi korban penipuan bermodus lowongan kerja profesional. Kepulangan ini menandai berakhirnya mimpi buruk yang mereka alami di zona konflik bersenjata.

Modus Penipuan Kerja Bergaji Tinggi di Rusia

Para pria ini awalnya tergiur dengan tawaran pekerjaan sebagai petugas keamanan profesional dengan iming-iming gaji yang sangat fantastis di wilayah Rusia. Namun, setibanya di lokasi tujuan, mereka justru dipaksa memegang senjata dan dikirim ke garis depan pertempuran di Ukraina. Pihak perekrut memanfaatkan celah kebutuhan ekonomi para korban untuk menjerat mereka ke dalam kontrak militer.

Fenomena warga Afrika yang dijanjikan pekerjaan layak namun berakhir di medan perang Ukraina memang semakin sering mencuat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi memprihatinkan ini memicu ketegangan diplomatik yang serius antara pemerintah Moskow dengan negara-negara yang warganya menjadi korban. Banyak pihak mengecam praktik perekrutan ilegal yang mengorbankan warga sipil dari negara berkembang.

Diplomasi Tingkat Tinggi Ramaphosa dan Putin

Keberhasilan pemulangan warga Afrika Selatan tertipu kerja di Rusia ini tidak lepas dari campur tangan langsung Presiden Cyril Ramaphosa. Ia menjalin komunikasi intensif dengan Presiden Vladimir Putin melalui sambungan telepon pada awal bulan ini. Dalam pembicaraan tersebut, Ramaphosa mendesak agar warganya yang terjebak segera dipulangkan dengan jaminan keamanan penuh.

Kantor kepresidenan mengonfirmasi bahwa seluruh proses evakuasi difasilitasi melalui jalur diplomatik resmi setelah mendapat komitmen dari pihak Kremlin. Langkah taktis ini diambil untuk memastikan keselamatan para warga yang telah mengalami trauma mendalam selama berada di garis depan. Pemerintah berkomitmen untuk melindungi setiap warga negaranya dari praktik eksploitasi internasional semacam ini.

Peran Jabulani Khumalo dan Partai MKP

Di sisi lain, pendiri Partai Mkhonto Wesizwe (MKP), Jabulani Khumalo, terlihat hadir di bandara untuk memantau langsung proses kepulangan tersebut. Ia mengklaim ikut membantu memfasilitasi kepulangan para pria itu melalui jaringan komunikasinya. Meski demikian, Khumalo membantah keras keterlibatan partainya dalam proses perekrutan awal yang membawa mereka ke Rusia.

Khumalo menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh warga Afrika Selatan yang masih tertinggal bisa segera kembali ke keluarga masing-masing. Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas jaringan agen penyalur tenaga kerja yang melakukan praktik ilegal tersebut. Menurutnya, perlindungan terhadap warga negara harus menjadi prioritas utama di atas kepentingan politik mana pun.

Status Warga yang Masih Tertinggal di Rusia

Secara keseluruhan, pemerintah mencatat ada 17 pria yang diduga kuat menjadi korban penipuan bermodus pekerjaan di Rusia. Dari jumlah total tersebut, empat orang sudah lebih dulu berhasil dipulangkan pada pekan lalu melalui prosedur serupa. Dengan tibanya 11 orang tambahan, maka sebagian besar anggota kelompok tersebut kini sudah berada di tempat aman.

Saat ini, otoritas terkait melaporkan masih terdapat dua orang lagi yang tertinggal di wilayah Rusia. Salah satu di antaranya dikabarkan sedang menjalani perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Moskow akibat kondisi kesehatan yang menurun. Pemerintah berjanji akan terus memantau kondisi mereka secara berkala hingga benar-benar bisa dievakuasi kembali ke Afrika Selatan.