Uptodai.com - Krisis logam tanah jarang Amerika kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi global di awal tahun 2026. Meskipun kesepakatan damai telah ditandatangani tahun lalu, kenyataan di lapangan menunjukkan pasokan material kritis dari China tetap tersendat. Kondisi ini memicu kepanikan di kalangan manufaktur teknologi tinggi yang sangat bergantung pada mineral tersebut.

Perusahaan-perusahaan raksasa di sektor kedirgantaraan dan semikonduktor mulai merasakan dampak nyata dari kelangkaan ini secara langsung. Para pelaku industri melaporkan bahwa dua pemasok utama di Amerika Serikat terpaksa menolak pesanan klien karena stok yang menipis. Situasi ini terjadi hanya beberapa minggu sebelum jadwal pertemuan krusial antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Dampak Kelangkaan Yttrium dan Scandium bagi Industri AS

Fokus utama dari permasalahan ini terletak pada dua unsur spesifik, yakni yttrium dan scandium yang merupakan bagian dari keluarga 17 unsur tanah jarang. Walaupun volume penggunaannya tergolong kecil, peran keduanya sangat vital dalam memproduksi komponen pertahanan dan chip super cepat. Hampir seluruh produksi global untuk material ini masih berada di bawah kendali penuh pemerintah China.

Beijing sebenarnya sempat melonggarkan keran ekspor pada April 2025 setelah melakukan pelarangan ketat di awal tahun tersebut. Namun, data bea cukai terbaru menunjukkan bahwa volume pengiriman ke pelabuhan-pelabuhan Amerika Serikat masih jauh di bawah kebutuhan normal. Hal ini membuktikan bahwa kesepakatan damai Oktober 2025 belum berjalan efektif di tingkat operasional.

Yttrium menjadi masalah paling krusial karena fungsinya sebagai pelapis mesin jet dan turbin agar tidak meleleh pada suhu ekstrem. Tanpa lapisan pelindung ini, mesin pesawat tempur maupun komersial tidak dapat beroperasi dengan aman dalam jangka waktu lama. Kelangkaan yttrium secara otomatis menghambat rantai pasok industri penerbangan Amerika Utara secara signifikan.

Lonjakan Harga dan Ancaman Penghentian Produksi

Sejak laporan mengenai defisit material ini mencuat pada November 2025, harga yttrium di pasar internasional telah melonjak hingga 60 persen. Jika membandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, harganya kini tercatat 69 kali lipat lebih tinggi dari harga normal. Kenaikan biaya produksi yang fantastis ini memaksa perusahaan untuk melakukan penjatahan material kepada para pelanggan mereka.

Dua perusahaan besar di Amerika Utara yang memproduksi lapisan mesin bahkan telah mengonfirmasi penghentian produksi sementara waktu. Mereka memilih untuk menyimpan sisa stok yang ada demi melayani kontrak-kontrak jangka panjang dengan klien prioritas. Akibatnya, pelanggan skala kecil dan pembeli luar negeri mulai kehilangan akses terhadap produk-produk berbasis yttrium oksida.

Seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengakui bahwa beberapa produsen domestik kini menghadapi ancaman nyata terkait keberlangsungan operasional mereka. Meski belum sepenuhnya menghentikan produksi massal chip, gangguan pada rantai pasok tanah jarang ini bisa menjadi bom waktu bagi industri teknologi. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu negara pemasok menjadi titik lemah yang sulit diatasi dalam waktu singkat.

Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Tengah Krisis

Masalah hambatan ekspor ini diprediksi akan menjadi agenda utama dalam pertemuan lanjutan antara Donald Trump dan Xi Jinping pada Maret mendatang. Trump diharapkan mampu melobi Beijing agar membuka kembali akses penuh terhadap material strategis tersebut demi meredakan ketegangan ekonomi. Namun, banyak pihak meragukan China akan memberikan konsesi dengan mudah tanpa imbal balik politik yang besar.

Para analis melihat bahwa China sedang menggunakan keunggulan sumber daya alamnya sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi perdagangan global. Dengan mengontrol aliran logam tanah jarang, Beijing memiliki kekuatan untuk menekan industri pertahanan dan teknologi Amerika Serikat kapan saja. Situasi ini memaksa Washington untuk segera mencari alternatif sumber tambang baru di luar wilayah Asia Timur.

Hingga saat ini, upaya diversifikasi pasokan yang dilakukan Amerika Serikat masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai skala komersial. Selama periode transisi tersebut, ketergantungan terhadap China tetap menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh para pelaku industri. Krisis yang diprediksi semakin memburuk di sepanjang 2026 ini akan menjadi ujian berat bagi ketahanan ekonomi nasional Amerika Serikat.