Uptodai.com - Kisah mualaf Esteban Vizcarra menjadi salah satu cerita religi yang paling menyentuh di panggung sepak bola tanah air. Gelandang serang kelahiran Argentina ini tidak hanya menemukan kesuksesan karier di Indonesia, tetapi juga menemukan hidayah yang mengubah prinsip hidupnya. Sejak pertama kali mendarat di Indonesia pada tahun 2009, Vizcarra telah bertransformasi menjadi sosok yang sangat dihormati di dalam maupun di luar lapangan.

Perjalanan panjangnya di Liga Indonesia dimulai saat ia memperkuat Pelita Jaya, sebelum akhirnya berkelana ke berbagai klub besar lainnya. Nama Esteban Gabriel Vizcarra mulai melekat di hati para pecinta sepak bola nasional berkat teknik olah bola yang mumpuni dan visi bermain yang tajam. Namun, di balik kegarangannya mengolah si kulit bundar, tersimpan sebuah pencarian spiritual yang mendalam.

Hidayah di Ranah Minang dan Ikatan Pernikahan

Titik balik kehidupan seorang Esteban Vizcarra bermula ketika ia memutuskan untuk bergabung dengan Semen Padang pada periode 2010 hingga 2015. Di kota Padang yang kental dengan budaya Islam dan nuansa religius, ia mulai merasakan kedamaian yang berbeda. Lingkungan sosial di Sumatera Barat memberikan pengaruh besar terhadap cara pandangnya mengenai keyakinan dan Tuhan.

Selain menemukan performa terbaiknya di lapangan dengan torehan 26 gol, ia juga menemukan tambatan hati di kota tersebut. Vizcarra menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan asli Indonesia bernama Resti Ayu Ferdina. Kedekatannya dengan Resti inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi Vizcarra untuk mempelajari ajaran Islam secara lebih mendalam.

Tepat pada tahun 2012, pemain yang kini berusia senja tersebut akhirnya mantap mengambil keputusan besar untuk memeluk agama Islam. Langkah menjadi mualaf ini ia jalani dengan penuh keyakinan sebelum dirinya resmi meminang sang pujaan hati. Kehadiran putra mereka, Alex Norman Vizcarra, semakin melengkapi kebahagiaan dan ketenangan hidup yang ia cari selama ini.

Dedikasi Pemain Naturalisasi Persib Bandung untuk Timnas Indonesia

Kecintaan Vizcarra terhadap Indonesia tidak hanya berhenti pada aspek keluarga dan agama semata. Setelah menetap dan berkarier selama lebih dari delapan tahun, ia merasa sudah menjadi bagian utuh dari bangsa ini. Status sebagai pemain naturalisasi Persib Bandung pun sempat ia sandang saat membela klub kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Pada Maret 2018, proses naturalisasinya resmi rampung dan ia berhak memegang paspor Indonesia. Tidak butuh waktu lama bagi Vizcarra untuk mendapatkan panggilan dari Timnas Indonesia guna melakoni laga internasional kontra Myanmar. Momen mengenakan seragam Merah Putih menjadi salah satu kebanggaan terbesar dalam perjalanan profesionalnya sebagai pesepak bola.

Meskipun catatan penampilannya bersama skuad Garuda tergolong singkat, dedikasi Vizcarra terhadap perkembangan sepak bola nasional tetap tidak diragukan. Ia selalu menunjukkan etos kerja yang tinggi di setiap klub yang ia bela, mulai dari Arema FC hingga PSIS Semarang. Pengalaman panjangnya menjadi mentor yang berharga bagi para pemain muda di tanah air.

Profesionalisme dan Kedamaian Ibadah di PSIS Semarang

Hingga memasuki musim kompetisi tahun 2026, Esteban Vizcarra masih membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Saat ini, ia menjadi salah satu pilar penting di lini serang PSIS Semarang yang berlaga di babak Championship. Ketahanan fisiknya yang tetap terjaga di level tertinggi seringkali mengundang decak kagum dari para pengamat sepak bola.

Menariknya, Vizcarra tetap menunjukkan profesionalisme luar biasa meskipun harus menjalani jadwal pertandingan yang padat di bulan Ramadhan. Sebagai seorang Muslim, ia tetap konsisten menjalankan ibadah puasa tanpa menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menurunnya performa. Baginya, menjalankan kewajiban agama justru memberikan kekuatan tambahan saat bertanding.

Islam telah memberikan kedamaian batin yang membantunya tetap tangguh menghadapi kerasnya persaingan di lapangan hijau. Kedisiplinan yang diajarkan dalam agama ia terapkan dalam pola hidup sehat dan latihan yang keras. Sosok Esteban Vizcarra kini menjadi teladan nyata tentang bagaimana spiritualitas dan karier profesional dapat berjalan beriringan secara harmonis.