Uptodai.com - Penyebab anak bertubuh pendek seringkali memicu kekhawatiran mendalam bagi para orang tua yang melihat buah hatinya tidak setinggi teman sebaya. Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa kondisi tersebut merupakan tanda stunting, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Dokter spesialis anak, dr Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, SpA, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara stunting dan kondisi perawakan pendek lainnya. Terdapat istilah medis bernama stunted yang sering kali disalahartikan oleh publik sebagai stunting, meski keduanya memiliki akar masalah yang berbeda.

Menurut dr Ian, stunting terjadi ketika seorang anak mengalami masalah gizi kronis atau serangan penyakit yang tidak terdeteksi dalam waktu lama. Kondisi ini secara langsung memengaruhi grafik berat badan dan tinggi badan mereka secara signifikan.

Memahami Perbedaan Stunting dan Kondisi Stunted

Anak yang mengalami stunting biasanya memiliki asupan nutrisi yang sangat minim sehingga tubuhnya tidak mampu tumbuh optimal seperti anak-anak lain. Nutrisi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan fisik justru habis digunakan tubuh untuk melawan penyakit yang diderita anak tersebut.

Hal ini berbeda dengan kondisi stunted atau perawakan pendek yang tidak berkaitan langsung dengan masalah asupan gizi. Penyebab anak bertubuh pendek dalam kategori ini biasanya lebih didominasi oleh faktor genetik dari kedua orang tuanya.

Jika kedua orang tua memiliki postur tubuh yang cenderung pendek, maka besar kemungkinan anak akan mewarisi genetik serupa. Selain faktor keturunan, gangguan hormon pertumbuhan atau sindrom tertentu juga bisa menjadi pemicu utama anak memiliki tinggi badan di bawah rata-rata.

Faktor Nutrisi dan Penyakit Tersembunyi

Dalam acara ‘Pejuang Berat Badan Anak’ yang digelar Sarihusada, dr Ian menekankan pentingnya mendeteksi penyakit yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata. Penyakit tersembunyi ini sering kali menyerap seluruh energi dan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh balita.

Akibatnya, pertumbuhan tulang dan jaringan otot menjadi terhambat karena tubuh memprioritaskan fungsi bertahan hidup. Orang tua harus waspada jika berat badan anak tidak kunjung naik meskipun porsi makan sudah terlihat cukup banyak setiap harinya.

Kondisi lingkungan dan sanitasi yang buruk juga berperan besar dalam menciptakan siklus infeksi berulang pada anak. Infeksi yang terjadi terus-menerus akan memaksa sistem imun bekerja ekstra keras dan mengabaikan proses pertumbuhan tinggi badan.

Pentingnya Pemantauan Rutin ke Dokter Anak

Indonesia saat ini memang tengah menghadapi tantangan besar terkait angka stunting yang masih cukup tinggi di berbagai daerah. Oleh karena itu, setiap anak yang memiliki tinggi badan tidak ideal sangat mungkin dicurigai mengalami masalah pertumbuhan serius.

Langkah pencegahan terbaik adalah dengan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter spesialis anak atau pusat kesehatan masyarakat terdekat. Pemantauan ini setidaknya harus dilakukan setiap bulan, terutama pada masa emas pertumbuhan anak hingga usia satu tahun.

Selain mendapatkan imunisasi lengkap, kunjungan rutin memungkinkan dokter untuk memantau kurva pertumbuhan anak secara mendetail. Deteksi dini terhadap penyebab anak bertubuh pendek akan membantu orang tua memberikan intervensi yang tepat, baik melalui perbaikan gizi maupun terapi medis lainnya.

Langkah Antisipasi bagi Orang Tua

Orang tua disarankan untuk tidak melakukan diagnosis mandiri hanya dengan membandingkan anak dengan teman-temannya secara visual. Pengukuran yang akurat menggunakan alat medis standar sangat diperlukan untuk menentukan status gizi dan pertumbuhan seorang anak.

Pemberian asupan protein hewani yang cukup juga terbukti efektif dalam mencegah terjadinya stunting pada masa pertumbuhan. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua tidak perlu panik berlebihan namun tetap harus waspada terhadap setiap perubahan fisik pada buah hati mereka.