Uptodai.com - Pergerakan saham Palantir diuntungkan perang Iran yang semakin memanas setelah investor mulai mengalihkan fokus mereka ke sektor pertahanan. Di saat indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot hingga 1,2 persen pekan ini, Palantir justru menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Pelemahan pasar modal global ini dipicu oleh rontoknya saham raksasa seperti Apple, Google, dan Micron akibat lonjakan harga minyak dunia.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang tidak menentu justru menjadi katalis positif bagi perusahaan penyedia perangkat lunak ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan meredakan ketegangan militer dengan Iran. Sikap keras Washington ini memicu aksi beli investor terhadap saham-saham yang memiliki ketergantungan tinggi pada anggaran pertahanan negara.

Palantir Technologies memang memiliki profil bisnis yang sangat unik di Silicon Valley karena kedekatannya dengan instansi pemerintah. Anggaran pengeluaran pemerintah Amerika Serikat menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan perusahaan tersebut. Mereka merupakan pemasok utama perangkat lunak untuk militer dan berbagai lembaga intelijen di bawah naungan Pentagon.

Dominasi Palantir di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Analis dari Rosenblatt melihat peluang besar bagi Palantir untuk terus memperkuat posisinya di pasar modal global. Mereka secara resmi mempertahankan rekomendasi beli dan menaikkan target harga saham Palantir menjadi US$200 dari sebelumnya US$150. Optimisme ini muncul setelah melihat kinerja perusahaan yang tetap stabil meski pasar sedang dilanda ketidakpastian ekonomi yang cukup hebat.

Para analis menyebutkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah merupakan sinyal positif bagi keberlangsungan proyek-proyek pemerintah yang dikelola oleh Palantir. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam medan perang kini menjadi kebutuhan mendesak bagi militer Amerika Serikat. Palantir dianggap memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi oleh perusahaan teknologi konvensional lainnya saat ini.

Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, saham Palantir bertengger di level US$157,16 per lembar. Kenaikan target harga yang cukup signifikan ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap dominasi Palantir di sektor keamanan digital. Perusahaan ini berhasil memposisikan diri sebagai mitra strategis yang tidak tergantikan dalam mendukung operasi pertahanan nasional.

Konflik Anthropic dan Kebijakan Keras Donald Trump

Situasi semakin menguntungkan bagi Palantir setelah terjadinya keretakan hubungan antara pemerintah Amerika Serikat dengan Anthropic. Perusahaan AI Anthropic baru-baru ini menjadi sorotan karena menolak alat kecerdasan buatan mereka digunakan untuk menciptakan senjata otonom. Mereka juga keberatan jika teknologi tersebut dipakai untuk memata-matai warga sipil Amerika Serikat dengan alasan etika.

Sikap Anthropic tersebut memicu kemarahan besar dari Presiden Donald Trump yang dikenal sangat mengutamakan supremasi militer. Sebagai langkah tegas, Trump segera melarang seluruh lembaga federal untuk menggunakan layanan atau produk dari Anthropic. Keputusan ini otomatis menutup pintu bagi model AI Claude milik Anthropic untuk masuk ke dalam ekosistem pertahanan negara.

Kekosongan yang ditinggalkan oleh Anthropic ini menjadi peluang emas bagi Palantir untuk menawarkan solusi alternatif. Palantir dipandang memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi dalam memenuhi standar kebutuhan militer yang sangat spesifik. Hal ini memperkuat posisi tawar perusahaan dalam memenangkan kontrak-kontrak baru di masa depan yang melibatkan teknologi AI tingkat tinggi.

Kontrak Jumbo dengan Angkatan Darat Amerika Serikat

Kemitraan strategis antara Palantir dan militer Amerika Serikat sebenarnya sudah terjalin sangat kuat sejak beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, perusahaan ini berhasil mengamankan kesepakatan bernilai fantastis mencapai US$10 miliar dengan Angkatan Darat Amerika Serikat. Kontrak jangka panjang ini mencakup penyediaan sistem kecerdasan buatan untuk berbagai keperluan operasional di lapangan.

Salah satu kemampuan utama dari teknologi AI Palantir adalah kemampuannya dalam melakukan penargetan musuh secara presisi. Beberapa alat canggih mereka dikabarkan telah terlibat aktif dalam mendukung operasi militer Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi Iran. Teknologi ini memungkinkan komandan di lapangan untuk mengambil keputusan lebih cepat berdasarkan analisis data yang akurat.

Meskipun Palantir belum memberikan pernyataan resmi terkait larangan penggunaan alat AI Anthropic, arah kebijakan perusahaan tampak sangat jelas. Mereka terus memperkuat infrastruktur digital untuk mendukung visi militer Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump. Fokus pada pengembangan senjata berbasis data menjadikan Palantir sebagai pemain kunci dalam peta persaingan teknologi pertahanan global di masa depan.