Akun X Mojtaba Khamenei Muncul, Elon Musk Tuai Kritik Tajam
Uptodai.com - Akun X Mojtaba Khamenei kini resmi muncul dan terverifikasi di platform milik Elon Musk, memicu gelombang diskusi di kancah geopolitik internasional. Pemimpin Tertinggi Iran yang baru saja naik takhta ini menggunakan akun dengan nama pengguna @Rahbarenghelab untuk menyuarakan sikap politiknya. Langkah ini tergolong berani mengingat hubungan tegang antara Teheran dengan negara-negara Barat serta kedekatan Musk dengan pihak Israel.
Kehadiran Mojtaba di platform X menjadi sorotan utama karena ia langsung mengunggah serangkaian pernyataan keras terkait ketegangan di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa perlawanan terhadap musuh-musuh Iran akan terus berlanjut dengan cara yang lebih efektif. Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi kawasan yang masih membara akibat konflik berkepanjangan yang melibatkan aktor-aktor besar dunia.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Pangkalan Militer
Dalam salah satu unggahan perdananya, Mojtaba Khamenei secara terang-terangan menyinggung strategi pemblokiran Selat Hormuz sebagai senjata diplomasi dan militer. Ia menegaskan bahwa pengaruh jalur perdagangan minyak vital tersebut harus terus dioptimalkan untuk menekan pihak lawan. Pesan ini ditujukan langsung kepada para pejuang dan pendukung garis keras pemerintah Iran di seluruh dunia.
Tidak hanya itu, sang pemimpin baru juga mendesak negara-negara tetangga di Timur Tengah untuk segera menentukan posisi mereka. Ia meminta pemerintah di kawasan tersebut untuk menutup pangkalan militer milik Amerika Serikat yang berada di wilayah mereka. Mojtaba menilai keberadaan militer asing hanya akan memperkeruh stabilitas keamanan di tanah para nabi tersebut.
Mojtaba Khamenei sendiri terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam sebuah serangan pada 28 Februari 2026. Transisi kepemimpinan ini terjadi di saat Iran sedang berada dalam puncak ketegangan militer dengan Israel dan sekutunya. Akun X tersebut kini menjadi kanal komunikasi utama bagi Mojtaba untuk menjangkau audiens global secara instan.
Kontroversi Centang Biru dan Sanksi Amerika Serikat
Keberadaan Akun X Mojtaba Khamenei yang memiliki tanda centang biru memicu kecaman keras dari berbagai lembaga pengawas internasional. Tech Transparency Project (TTP) menjadi salah satu pihak yang paling vokal mengkritik kebijakan Elon Musk dalam mengelola platform tersebut. Mereka menilai X telah memberikan panggung premium kepada individu yang masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat.
Direktur TTP, Katie Paul, menyatakan bahwa tindakan X menyediakan layanan berlangganan kepada entitas yang terkena sanksi merupakan pelanggaran serius. Ia menyoroti bagaimana platform tersebut justru mengambil keuntungan finansial dari akun-akun yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas terorisme menurut versi Washington. Kritik ini menambah daftar panjang masalah hukum yang harus dihadapi oleh perusahaan media sosial tersebut.
Hingga saat ini, pihak SpaceX maupun X belum memberikan tanggapan resmi mengenai pemberian status verifikasi premium kepada pemimpin Iran tersebut. Padahal, aturan internal platform biasanya sangat ketat terhadap akun-akun yang berpotensi melanggar kebijakan keamanan global. Ketidakpastian ini menciptakan standar ganda yang dianggap merugikan integritas platform digital di mata publik internasional.
Dampak Geopolitik di Ruang Digital
Munculnya pemimpin negara yang sedang berkonflik di media sosial Barat menciptakan dinamika baru dalam perang informasi. Iran yang selama ini dikenal membatasi akses warganya terhadap platform luar, justru menggunakan alat yang sama untuk kepentingan propaganda pemerintah. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya ruang digital sebagai medan pertempuran opini di era modern.
Para analis keamanan siber memprediksi bahwa akun ini akan menjadi pusat komando narasi bagi kelompok-kelompok pro-Iran di luar negeri. Setiap cuitan yang diunggah Mojtaba memiliki potensi untuk menggerakkan massa atau memicu reaksi pasar minyak dunia. Oleh karena itu, aktivitas akun @Rahbarenghelab akan terus dipantau secara ketat oleh intelijen berbagai negara.
Di sisi lain, posisi Elon Musk sebagai pemilik platform semakin terjepit di antara idealisme kebebasan berbicara dan kepatuhan terhadap hukum federal. Jika tekanan dari pemerintah Amerika Serikat menguat, Musk mungkin terpaksa mengambil tindakan tegas terhadap akun tersebut. Namun, langkah tersebut berisiko merusak citra X sebagai platform yang netral dan bebas dari intervensi politik tertentu.