Uptodai.com - Ketegangan China dan Iran di Teluk kini memasuki babak baru setelah Beijing melontarkan kritik tajam terhadap Teheran terkait stabilitas keamanan kawasan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan posisi tegas negaranya dalam menjaga keamanan di jalur pelayaran internasional tersebut. Langkah diplomatik ini mengejutkan banyak pihak mengingat kedua negara selama ini dikenal memiliki hubungan strategis yang sangat erat.

Beijing secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap berbagai aksi militer yang mengganggu ketenangan di wilayah Teluk belakangan ini. Guo menegaskan bahwa China mengutuk keras segala bentuk serangan tanpa pandang bulu yang menyasar warga sipil maupun target non-militer. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers reguler pada Jumat (13/03/2026) di tengah meningkatnya eskalasi di Timur Tengah.

Meskipun tidak menyebut nama Iran secara langsung, pesan tersebut diyakini kuat tertuju pada manuver militer Teheran baru-baru ini. Pernyataan ini menandai pergeseran retorika yang signifikan dari pihak Beijing terhadap sekutu lamanya. Sebelumnya, China cenderung lebih vokal dalam mengecam tekanan Barat daripada mengkritik tindakan internal Iran.

Pergeseran Diplomasi di Bawah Kepemimpinan Baru Iran

Perubahan sikap China ini muncul di saat Iran sedang mengalami transisi kepemimpinan yang krusial. Saat ini, Teheran dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei yang naik takhta menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam sebuah serangan pada akhir Februari lalu saat negosiasi program nuklir masih berlangsung panas.

Selama ini, China memegang peran sebagai mitra diplomatik utama sekaligus pembeli terbesar minyak mentah dari Iran. Beijing bahkan sempat berulang kali mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan banyak warga sipil di wilayah Iran. Namun, serangan rudal dan drone Iran ke negara tetangga di Teluk tampaknya telah melampaui batas toleransi Beijing.

Kekhawatiran China semakin mendalam ketika konflik mulai mengganggu arus perdagangan energi di Selat Hormuz. Blokade atau gangguan di jalur tersebut secara langsung mengancam kepentingan ekonomi nasional China. Sebagai negara industri raksasa, China sangat bergantung pada stabilitas pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah untuk menggerakkan ekonominya.

Ancaman terhadap Keamanan Energi Global

Guo Jiakun mendesak agar semua pihak segera menghentikan eskalasi militer demi menjaga stabilitas keamanan Selat Hormuz. Ia menekankan bahwa gangguan pada jalur pelayaran ini akan berdampak sistemik pada harga energi dunia. China meminta semua aktor yang terlibat untuk kembali ke meja dialog dan mengedepankan negosiasi diplomatik.

Data dari Institute for the Study of War menunjukkan bahwa Iran diduga kuat bertanggung jawab atas setidaknya 18 serangan terhadap kapal sipil. Serangan-serangan ini terjadi di titik-titik krusial seperti Teluk Persia, Selat Hormuz, hingga Teluk Oman. Pekan ini saja, beberapa kapal tanker dilaporkan terkena proyektil yang menyebabkan kerusakan pada fasilitas logistik laut.

Situasi ini membuat China merasa perlu mengambil jarak dan memberikan peringatan keras kepada Teheran. Beijing menilai bahwa stabilitas kawasan hanya dapat tercapai jika semua negara mematuhi hukum internasional yang berlaku. Tanpa kepatuhan terhadap norma internasional, risiko perang terbuka yang lebih luas akan sulit untuk dihindari.

Kepentingan Ekonomi China di Tengah Konflik

Langkah tegas China ini diambil semata-mata untuk mengamankan kepentingan ekonomi jangka panjang mereka di Timur Tengah. Sebagai importir minyak terbesar, China tidak ingin melihat adanya gangguan permanen pada rantai pasok energi global. Ketidakpastian di Teluk hanya akan memicu inflasi energi yang merugikan sektor manufaktur di Beijing.

Selain masalah minyak, China juga memiliki investasi infrastruktur yang besar di berbagai negara Teluk melalui inisiatif Belt and Road. Kerusakan pada stabilitas kawasan akan menghambat proyek-proyek strategis yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, China kini mulai menggunakan pengaruh politiknya untuk menekan Iran agar lebih menahan diri.

Hingga saat ini, pihak Teheran belum memberikan tanggapan resmi terkait kecaman keras dari mitra dagang utamanya tersebut. Namun, banyak analis menilai bahwa posisi China ini akan menjadi tekanan psikologis besar bagi pemerintahan Mojtaba Khamenei. Kehilangan dukungan penuh dari China bisa membuat Iran semakin terisolasi di panggung politik internasional.