Uptodai.com - Pasokan helium global terancam perang setelah serangan drone melumpuhkan salah satu pusat energi terbesar di Qatar pada awal bulan ini. Insiden tersebut seketika menghentikan produksi gas alam cair (LNG) sekaligus produksi helium dalam skala besar. Gangguan mendadak ini diperkirakan melenyapkan sekitar sepertiga dari total pasokan helium di pasar internasional.

Kondisi ini memicu alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi digital, mengingat helium merupakan komponen yang tidak tergantikan dalam industri teknologi. Gas ini memainkan peran krusial dalam operasional mesin pencitraan resonansi magnetik (MRI) di sektor kesehatan. Selain itu, helium menjadi elemen wajib dalam proses pengelasan presisi tinggi serta manufaktur komponen elektronik sensitif.

Dunia industri sangat bergantung pada helium untuk mendinginkan chip semikonduktor secara instan selama proses fabrikasi berlangsung. Tanpa pendinginan yang stabil, perangkat keras tersebut akan mengalami panas berlebih (overheat) dan kerusakan permanen sebelum sempat digunakan. Kelangkaan gas ini diprediksi akan memperparah krisis chip global yang telah menghantui pasar sejak akhir tahun 2025.

Ancaman Terhadap Ambisi Kecerdasan Buatan Amerika Serikat

Amerika Serikat kini menghadapi risiko besar terhadap “harta karun” ekonomi mereka, yakni pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Pasokan helium global terancam perang yang melibatkan proksi Iran di kawasan Teluk, sehingga menghambat distribusi ke pusat-pusat data raksasa. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa aliran helium yang lancar, produksi kartu grafis (GPU) berperforma tinggi untuk AI akan terhenti.

Meskipun Amerika Serikat mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan helium domestik, rantai pasok global tetap saling terikat erat. Gangguan di Qatar menciptakan efek domino yang menaikkan biaya operasional perusahaan teknologi di Silicon Valley. Kenaikan biaya ini berpotensi memperlambat riset dan implementasi model bahasa besar (LLM) yang sedang berkembang pesat.

Ketergantungan global terhadap helium memang sangat tinggi karena gas ini merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Helium biasanya ditemukan terperangkap di bawah kerak bumi bersama cadangan gas alam. Ketika pusat produksi di Qatar berhenti beroperasi, pasar dunia kehilangan jangkar pasokan yang sulit digantikan oleh negara produsen lain dalam waktu singkat.

Ketergantungan Raksasa Teknologi Asia pada Qatar

Kondisi di Asia jauh lebih mengkhawatirkan karena negara-negara pusat teknologi di kawasan ini mengimpor hampir seluruh kebutuhan helium mereka. Taiwan, yang menguasai lebih dari 60 persen produksi chip dunia, sangat bergantung pada stabilitas di Timur Tengah. Begitu pula dengan Jepang dan Korea Selatan yang menjadi markas bagi produsen memori dan semikonduktor kelas dunia.

Ekonom Andreas Steno Larsen mengungkapkan bahwa raksasa seperti TSMC dan Hynix sangat mengandalkan aliran helium dari Qatar. Diperkirakan sekitar 40 hingga 50 persen kebutuhan gas mereka berasal dari negara tersebut. “Mereka terpaksa harus mengandalkan cadangan yang ada dalam beberapa bulan ke depan,” tulis Larsen dalam laporannya baru-baru ini.

Jika cadangan tersebut habis sebelum produksi di Qatar pulih, maka lini produksi chip tercanggih di dunia terancam mati total. Hal ini tentu akan memicu kelangkaan perangkat elektronik secara masif, mulai dari smartphone hingga sistem pertahanan militer. Krisis ini membuktikan betapa rapuhnya industri teknologi modern terhadap gejolak geopolitik di wilayah Timur Tengah.

Lonjakan Harga dan Risiko Penutupan Selat Hormuz

Pelaku pasar melaporkan bahwa harga spot helium telah melonjak hingga 50 persen tak lama setelah gangguan produksi terjadi. Meskipun kontrak jangka panjang masih melindungi beberapa perusahaan besar, tekanan inflasi pada rantai pasok mulai terasa nyata. Phil Kornbluth, presiden Kornbluth Helium Consulting, menyatakan bahwa dampak defisit ini mungkin tidak akan terlihat secara instan di tangan konsumen.

Hal ini disebabkan oleh rantai pasokan helium yang sangat panjang dan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pengiriman melalui kapal kargo. Namun, ancaman sesungguhnya muncul jika ketegangan militer terus berlanjut hingga menutup akses logistik utama. Penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu panjang akan menjadi mimpi buruk bagi seluruh industri manufaktur global.

Jika kondisi darurat ini bertahan hingga enam bulan atau bahkan satu tahun, dunia akan menghadapi tantangan ekonomi yang luar biasa berat. Pasokan helium global terancam perang bukan lagi sekadar isu energi, melainkan ancaman eksistensial bagi kemajuan teknologi manusia di masa depan. Koordinasi internasional sangat diperlukan untuk mengamankan jalur perdagangan gas vital ini dari dampak konflik yang lebih luas.