Uptodai.com - Kerinduan Baim Wong pada Ibunda semakin terasa menyesakkan dada saat memasuki penghujung bulan suci Ramadan tahun ini. Suasana hangat yang biasanya menyelimuti rumah kini terasa berbeda tanpa kehadiran sosok wanita yang paling dicintainya tersebut. Aktor sekaligus sutradara ini mengaku sering terhanyut dalam memori indah bersama sang ibu, terutama saat momen berkumpul di meja makan.

Kepergian orang tua memang meninggalkan lubang yang sulit tertutup, terutama saat momen sakral seperti berbuka puasa dan sahur. Baim merasakan ada sesuatu yang hilang ketika tidak ada lagi suara lembut yang menanyakan menu makanannya. Baginya, Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan tentang kebersamaan keluarga yang kini telah berubah selamanya.

Suami dari Paula Verhoeven ini mengungkapkan perasaan tersebut saat ditemui di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Ia menyebutkan bahwa sosok ibu adalah pusat dari segala keceriaan di bulan puasa. Tanpa kehadirannya, suasana rumah terasa lebih sunyi meskipun dikelilingi oleh banyak orang.

Kenangan Manis di Meja Makan dan Masakan Favorit

Hal yang paling membuat Baim Wong teringat akan sosok ibunda adalah perhatian-perhatian kecil yang dulu dianggapnya biasa saja. Sang ibu sering melontarkan pertanyaan sederhana namun penuh kasih sayang setiap harinya. Pertanyaan mengenai menu buka puasa atau kesiapan sahur kini menjadi suara yang paling ia rindukan.

“Ya pertanyaan dia yang simpel-simpel kita kangen. ‘Buka puasa pakai apa?’, ‘Sahur pakai apa?’. Kadang-kadang suka kangen itu,” ujar Baim dengan nada bicara yang penuh emosi. Perhatian verbal tersebut ternyata memiliki makna yang sangat dalam bagi perjalanan hidup seorang Baim Wong.

Selain perhatian lewat kata-kata, lidah Baim juga tidak bisa melupakan kelezatan masakan tangan sang ibu. Menu sederhana seperti sayur asem dan ikan jambal selalu menjadi primadona yang dinantikan saat azan Magrib berkumandang. Ia mengakui bahwa rasa otentik buatan ibunda tidak akan pernah bisa digantikan oleh koki mana pun.

Ikan peda olahan sang ibu juga menjadi salah satu memori kuliner yang paling membekas di ingatannya. Kombinasi rasa asin dan segar dari sayur asem menciptakan kehangatan yang selalu ia rindukan setiap tahun. Kenangan inilah yang membuat Baim sering merasa melankolis saat melihat hidangan serupa di atas meja makannya sekarang.

Tangis yang Pecah dalam Sujud Salat

Rasa kehilangan tersebut tidak jarang muncul secara tiba-tiba di waktu-waktu yang tidak terduga. Baim Wong menceritakan bahwa dirinya sering kali teringat sosok ibunda justru saat sedang menjalankan ibadah salat. Di tengah keheningan sujud, bayangan wajah sang ibu kerap hadir dan membuatnya tidak mampu membendung air mata.

Baim mengakui bahwa kesibukan duniawi terkadang membuatnya lupa untuk senantiasa mendoakan orang tua atau membaca Al-Qur’an. Namun, momen salat menjadi titik balik di mana ia merasa sangat dekat sekaligus sangat jauh dengan almarhumah. Tangisan itu menjadi bentuk pelepasan rindu yang paling jujur bagi seorang anak kepada ibunya.

“Kadang-kadang kalau lagi salat ingat. Kadang-kadang kan kita juga suka lupa untuk doain, suka ingat suka nangis pas lagi salat doang,” tuturnya dengan jujur. Pengakuan ini menunjukkan sisi religius dan emosional Baim yang jarang ia perlihatkan di depan kamera publik.

Transformasi Kerinduan Menjadi Karya Sinematik

Menariknya, kedekatan emosional yang mendalam ini tidak hanya berhenti sebagai kesedihan semata. Baim Wong memilih untuk mengabadikan memori tentang ibundanya ke dalam sebuah karya seni yang lebih luas. Ia menjadikan pengalaman pribadinya sebagai inspirasi utama dalam penulisan naskah film terbarunya.

Banyak elemen dalam cerita film tersebut yang ia ambil langsung dari dinamika hubungannya dengan kedua orang tuanya. Baim ingin penonton merasakan bagaimana hangatnya interaksi antara anak dan ibu yang penuh dengan bumbu-bumbu kehidupan nyata. Ia menuangkan cara bermanja-manja hingga konflik kecil yang pernah ia alami ke dalam setiap adegan.

Proyek film ini seolah menjadi terapi bagi Baim untuk mengobati rasa rindu yang belum tuntas. Melalui naskah tersebut, ia ingin memberikan penghormatan terakhir sekaligus pesan bagi penonton untuk selalu menghargai kehadiran orang tua. Baginya, setiap detik bersama ibu adalah harta yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan materi apa pun.