Prabowo Soroti Dominasi Jepang di Industri Otomotif Nasional Indonesia
Uptodai.com - Pengembangan industri otomotif nasional Indonesia kini menjadi prioritas utama dalam agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Beliau menegaskan ambisinya untuk membawa Indonesia bertransformasi dari sekadar pasar konsumen menjadi produsen utama di kancah global. Langkah ini bertujuan agar bangsa Indonesia tidak hanya menikmati produk luar, tetapi juga mampu menguasai teknologi manufaktur secara mandiri.
Presiden Prabowo secara terbuka menyoroti keberadaan produsen otomotif asal Jepang yang telah mendominasi pasar domestik selama puluhan tahun. Meski merek-merek tersebut sudah lama beroperasi di Tanah Air, beliau menilai belum ada produk yang benar-benar lahir dari identitas asli Indonesia. Menurutnya, ketergantungan pada brand asing harus segera dikurangi melalui penguatan sektor industri dalam negeri.
Selama ini, produsen mancanegara memang gencar meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada setiap produk mereka. Namun, Prabowo memandang upaya tersebut hanya sebatas pemenuhan regulasi pemerintah agar tetap bisa bersaing di pasar lokal. Baginya, memiliki pabrik mobil buatan Indonesia yang sepenuhnya dikelola secara mandiri adalah harga mati untuk kedaulatan ekonomi.
Visi Kemandirian dan Hilirisasi Industri Otomotif
Keinginan Presiden Prabowo untuk membangun pabrik mobil dan motor nasional berkaitan erat dengan visi kemandirian energi. Beliau menekankan pentingnya beralih dari kendaraan berbasis bahan bakar fosil ke kendaraan bertenaga listrik. Hal ini dilakukan untuk menekan angka impor minyak yang terus membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahunnya.
Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, terutama tenaga surya. Beliau membayangkan masa depan di mana kendaraan listrik buatan lokal dapat mengisi daya menggunakan listrik yang bersumber dari panel surya. Integrasi antara industri otomotif dan energi bersih ini menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
“Saya ingin total listrik, dan saya ingin listriknya itu dari solar atau matahari,” tegas Prabowo dalam sebuah unggahan video di kanal YouTube pribadinya. Beliau menambahkan bahwa penggunaan mesin pembakaran internal (combustion engine) hanya akan membuat Indonesia terus bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Oleh karena itu, industrialisasi harus diarahkan pada teknologi masa depan yang lebih berkelanjutan.
Tantangan Branding dan Persaingan Global
Membangun sebuah brand otomotif nasional tentu bukan perkara mudah di tengah kepungan merek-merek raksasa dunia. Prabowo mengakui bahwa Indonesia saat ini masih tertinggal karena belum memiliki identitas produk otomotif yang kuat di mata internasional. Padahal, industrialisasi merupakan fondasi utama bagi sebuah negara untuk naik kelas menjadi negara maju.
Beliau juga menyoroti pentingnya kebijakan non-tariff barriers atau hambatan non-tarif untuk melindungi industri yang sedang tumbuh. Namun, Prabowo mengingatkan bahwa kebijakan perlindungan tersebut tidak akan berguna jika Indonesia sendiri tidak memiliki industrinya. Maka dari itu, pembangunan pabrik dengan kepemilikan lokal 100 persen menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda lagi.
Pemerintah berencana memberikan dukungan penuh bagi riset dan pengembangan mobil listrik nasional agar mampu bersaing secara kualitas dan harga. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus berani memulai langkah besar ini meskipun harus menghadapi berbagai tantangan teknis maupun modal. Semangat industrialisasi ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang luas bagi masyarakat.
Proyek i2C: Harapan Baru Otomotif Indonesia
Salah satu harapan besar bagi terwujudnya visi ini adalah kehadiran mobil listrik i2C yang sempat mencuri perhatian pada ajang GIIAS 2025. Kendaraan ini merupakan hasil garapan PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat lokal. Kehadiran i2C menjadi bukti bahwa anak bangsa memiliki kemampuan untuk merancang teknologi canggih.
Proyek i2C ini ditargetkan mulai masuk ke tahap produksi massal pada tahun 2028 mendatang. Keberhasilan proyek ini nantinya akan menjadi tonggak sejarah baru bagi industri otomotif nasional Indonesia dalam membuktikan taringnya. Dukungan dari berbagai kementerian terkait terus mengalir untuk memastikan ekosistem pendukung, seperti stasiun pengisian daya, tersedia secara merata.
Dengan kepemimpinan yang fokus pada hilirisasi dan industrialisasi, masa depan otomotif Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi penonton. Transformasi menuju kendaraan listrik yang mandiri secara teknologi dan energi akan membawa Indonesia menuju kedaulatan ekonomi yang lebih kokoh. Publik kini menanti langkah nyata selanjutnya dari pemerintah untuk mewujudkan mimpi mobil nasional tersebut.