Uptodai.com - Wacana pemberian subsidi motor listrik ojol kini mencuat kembali seiring dengan ketidakpastian kondisi geopolitik global yang memicu lonjakan harga minyak mentah. Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang membayangi stabilitas harga energi di dalam negeri.

Kondisi ini memaksa para pelaku jasa transportasi, khususnya pengemudi ojek online, untuk mulai melirik kendaraan ramah lingkungan sebagai solusi jangka panjang. Mereka menilai ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) hanya akan memperburuk kondisi finansial para mitra pengemudi di masa depan.

Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengungkapkan bahwa peralihan ke kendaraan listrik menjadi langkah paling logis saat ini. Namun, transisi tersebut memerlukan dukungan nyata dari pemerintah agar tidak membebani kantong para pengemudi.

Urgensi Pengalihan Subsidi Energi untuk Driver Ojol

Igun menegaskan bahwa potensi harga BBM naik dalam waktu dekat dapat memberikan tekanan hebat bagi ekosistem transportasi berbasis aplikasi. Oleh karena itu, pihaknya mendorong pemerintah untuk segera melakukan kajian mendalam mengenai skema pengalihan subsidi energi.

Garda Indonesia mengusulkan agar sebagian alokasi subsidi BBM dialihkan langsung menjadi subsidi pembelian motor listrik khusus bagi pengemudi ojol. Langkah ini dianggap lebih tepat sasaran karena langsung menyentuh sektor produktif yang setiap hari beroperasi di jalanan.

Menurut Igun, dengan beralih ke motor listrik, biaya operasional harian para “pasukan hijau” akan berkurang secara signifikan. Efisiensi biaya energi ini nantinya dapat meningkatkan taraf hidup pengemudi yang selama ini tergerus oleh fluktuasi harga bensin.

Dampak Strategis bagi Ekonomi Nasional dan Lingkungan

Saat ini, terdapat estimasi sekitar 7 juta driver ojol yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Jika jutaan pengemudi ini bermigrasi ke kendaraan listrik, dampaknya akan sangat terasa pada penguatan Ketahanan Energi Nasional dan pengurangan emisi karbon.

Sektor ojol telah bertransformasi menjadi pilar utama dalam rantai pasok barang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kelancaran mobilitas pengemudi ojol sangat menentukan kecepatan distribusi barang dan jasa di kawasan perkotaan yang padat.

Pemerintah perlu melihat fenomena ini sebagai peluang emas untuk mempercepat transformasi ekonomi berkelanjutan. Pengalihan subsidi bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM yang membebani APBN.

Harapan Skema Pembiayaan dan Kredit Berbunga Rendah

Selain bantuan dana tunai atau potongan harga, asosiasi juga mengharapkan adanya kemudahan dalam akses pembiayaan. Skema kredit berbunga rendah menjadi poin krusial agar pengemudi ojol mampu menjangkau harga motor listrik yang saat ini masih relatif tinggi.

Igun menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan instansi pemerintah, perusahaan aplikator, hingga sektor perbankan. Sinergi antar pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang inklusif dan berkelanjutan.

Inisiatif ini diharapkan tidak hanya menjadi tameng dalam menghadapi krisis energi, tetapi juga menjadi motor penggerak industri otomotif dalam negeri. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin pasar kendaraan listrik di Asia Tenggara melalui sektor gig economy.