Konser Slank Sumbang Korban Banjir Sumatra, Kumpulkan Rp500 Juta
Uptodai.com - Grup musik legendaris Slank menutup tahun dengan aksi kemanusiaan yang inspiratif. Melalui gelaran Konser Slank Sumbang Korban Banjir Sumatra, mereka berhasil menggalang dana fantastis di tengah perayaan ulang tahun ke-42 band tersebut.
Acara yang dipusatkan di Pantai Mertasari, Denpasar, Bali, tersebut tidak hanya menyajikan penampilan musik yang energik. Konser ini menjadi platform solidaritas yang kuat, mempertemukan ribuan Slankers dari berbagai penjuru Indonesia dalam satu semangat kebersamaan.
Hasil Solidaritas dan Donasi Rp500 Juta
Semangat kemanusiaan terasa sejak awal acara, meskipun hujan deras mengguyur Denpasar sejak pagi hari. CEO Surya Grup, Muhammad Suryo, mengumumkan hasil penggalangan dana yang melampaui ekspektasi. “Terima kasih warga Bali, alhamdulillah malam ini kita mendapat Rp500 juta untuk kita sumbangkan,” ujar Suryo.
Seluruh keuntungan dari tiket konser dipastikan akan diserahkan sepenuhnya kepada para korban banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatra. Aksi donasi ini merupakan kolaborasi apik antara Slank dan HS, yang turut memotori penggalangan dana tambahan.
Lelang Barang Bersejarah untuk Korban Bencana
Dukungan nyata bagi Sumatra tidak berhenti pada hasil penjualan tiket semata. Proses lelang barang-barang bersejarah milik personel Slank saat ini masih berlangsung secara daring. Inisiatif ini bertujuan untuk terus menambah pundi-pundi bantuan kemanusiaan.
Para penggemar memiliki kesempatan memenangkan Vespa ikonik milik Kaka dan gitar bass kesayangan Ivanka. Lelang tersebut diumumkan dan dijalankan melalui akun Instagram resmi HS, menunjukkan upaya berkelanjutan dari band Gang Potlot ini untuk membantu sesama.
Perayaan Ulang Tahun Slank di Tengah Haru dan Doa
Antusiasme ribuan Slankers yang memadati Pantai Mertasari tidak surut sedikit pun, bahkan di bawah guyuran air hujan. Slank menyambut keramaian ini dengan suka cita, membawakan total 18 lagu andalan yang menggebrak panggung selama lebih dari dua jam.
Aksi panggung dibuka secara dramatis, ketika Kaka, sang vokalis, naik ke atas panggung dengan mengendarai Vespa, diiringi gebukan drum khas Bimbim. Lagu “I Miss U But I Hate U” menjadi pembuka yang memanaskan suasana, sekaligus menegaskan kolaborasi spesial mereka. “Slank lagi kolaborasi sama HS, semoga kolaborasi ini bisa dinikmati teman-teman semuanya,” kata Kaka.
Kaka, Bimbim, Abdee, Ridho, dan Ivanka berhasil membuat penonton hanyut dalam lantunan hits seperti “Virus,” “Ku Tak Bisa,” “Seperti Para Koruptor,” dan “Mawar Merah.” Namun, kemeriahan tersebut diselingi momen haru yang mendalam dan penuh makna.
Mengenang Bunda Iffet dan Solidaritas untuk Sumatra
Suasana mendadak hening ketika layar LED memunculkan kembali memori Bunda Iffet, sosok yang sangat krusial bagi perjalanan Slank dan para Slankers. Bimbim mengungkapkan bahwa tahun tersebut merupakan masa terberat bagi mereka setelah kehilangan sosok penting.
“Tahun ini tahun terberat, saya tiap malam tahajud masih saja nangis. April lalu kami kehilangan Bunda Iffet. Malam ini kita mengenang Bunda Iffet di surga,” ujar Bimbim dengan suara bergetar, memicu keharuan di antara penonton.
Momen duka tersebut segera disambung dengan ajakan solidaritas untuk korban bencana di berbagai wilayah. Para personel Slank mengajak ribuan penonton untuk menundukkan kepala, memanjatkan doa bersama bagi saudara-saudara di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Foto-foto korban bencana di Sumatra dipajang di layar, menambah kekhidmatan suasana. Setelah doa selesai dipanjatkan, lagu “Solidaritas” kemudian menggema, menjadi simbol dukungan moral yang kuat bagi seluruh korban bencana alam di Indonesia.
Pesan Kritis Melawan Eksploitasi Alam
Selain menyuarakan kepedulian sosial, Slank juga menyisipkan pesan penting terkait lingkungan hidup. Sebelum membawakan lagu “Lembah Baliem,” Bimbim sempat menyentil para pelaku perusakan alam.
Ia menyampaikan kritik tajam mengenai kerakusan manusia terhadap lingkungan yang terus dieksploitasi. “Lagu ini bercerita soal kerakusan umat manusia terhadap alam yang dieksploitasi secara berlebihan,” tegasnya, menunjukkan komitmen Slank terhadap isu-isu ekologi.
Pesan ini menggarisbawahi bahwa perayaan ulang tahun Slank ke-42 tidak hanya soal musik dan hiburan. Konser ini sekaligus menjadi platform untuk menyuarakan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang harus diemban oleh seluruh elemen masyarakat.