Uptodai.com - Kompetisi industri otomotif nasional saat ini tengah menghadapi tantangan serius seiring dengan laporan mengenai bergugurannya sejumlah jaringan dealer pabrikan asal Jepang. Fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai keseimbangan pasar antara pemain lama yang sudah berinvestasi besar dengan para pendatang baru. Banyak pihak menilai ada ketimpangan kebijakan yang membuat produsen otomotif konvensional sulit bersaing secara adil di tanah air.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, memberikan sorotan tajam terhadap kondisi pasar yang dinilai mulai tidak sehat tersebut. Ia menegaskan bahwa persaingan yang sehat merupakan pondasi utama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem kendaraan di Indonesia dalam jangka panjang. Bob meminta semua pihak untuk melihat lebih jeli alasan di balik tutupnya sejumlah dealer resmi belakangan ini.

Menurut Bob, aspek keadilan dalam berkompetisi harus menjadi prioritas utama bagi regulator agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan secara sistematis. Ia melihat adanya ketimpangan yang nyata, terutama terkait pemberian insentif perpajakan yang sangat masif bagi produsen kendaraan listrik (EV). Hal ini secara langsung membuat harga jual produk baru menjadi jauh lebih kompetitif dibandingkan produk yang sudah lama diproduksi di dalam negeri.

Dampak Insentif Pajak Terhadap Harga Jual Kendaraan

Sejumlah produsen kendaraan listrik saat ini memang menikmati berbagai kemudahan fiskal yang memangkas biaya produksi dan distribusi secara signifikan. “Mereka lebih murah karena tidak kena pajak, sedangkan kami kena pajak. Itu kan tidak fair sebetulnya,” ungkap Bob saat memberikan keterangan di Jakarta baru-baru ini.

Perbedaan beban pajak ini secara langsung mempengaruhi daya beli masyarakat yang kini cenderung beralih ke produk dengan harga lebih miring. Bob juga mengingatkan bahwa pabrikan Jepang seperti Toyota telah melakukan lokalisasi produk secara mendalam selama lebih dari lima dekade. Investasi besar tersebut mencakup pembangunan rantai pasok lokal serta penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang sangat masif.

Ia berharap kontribusi jangka panjang yang telah diberikan oleh pabrikan lama tidak tergerus oleh kebijakan yang hanya menguntungkan pihak tertentu secara instan. Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025 pemerintah memberikan berbagai stimulus untuk mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan. Stimulus tersebut meliputi pembebasan bea masuk untuk impor utuh (CBU) hingga Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10%.

Perubahan Regulasi dan Dominasi Mobil Listrik China

Pemerintah sendiri telah menetapkan bahwa skema impor utuh tanpa pajak hanya akan berlaku hingga akhir tahun 2025 mendatang. Memasuki periode 2026 hingga 2027, setiap produsen kendaraan listrik diwajibkan memenuhi komitmen produksi lokal dengan rasio 1:1. Ketentuan ini merujuk pada pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang harus dipatuhi oleh semua pemain industri tanpa terkecuali.

Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pergeseran tren pasar yang cukup signifikan pada kuartal pertama tahun 2026. Penjualan mobil secara wholesales mencapai 209.021 unit, atau hanya tumbuh tipis sebesar 1,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, penjualan ritel tercatat sebesar 211.905 unit dengan pertumbuhan marginal hanya 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di tengah pertumbuhan pasar yang melambat, beberapa pabrikan raksasa asal Jepang justru mencatatkan penurunan angka penjualan ritel yang cukup mengkhawatirkan. Nama-nama besar seperti Toyota, Daihatsu, hingga Honda mulai merasakan tekanan hebat dari kompetitor baru yang menawarkan harga lebih rendah. Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa kendaraan listrik murni (BEV) yang justru mengalami lonjakan luar biasa.

Distribusi wholesales untuk kendaraan listrik murni pada periode yang sama mencapai angka 33.150 unit di seluruh Indonesia. Angka ini melonjak tajam sebesar 95,85% jika dibandingkan dengan capaian pada kuartal I/2025 yang hanya menyentuh 16.926 unit. Pertumbuhan fantastis ini sebagian besar didominasi oleh ekspansi agresif dari berbagai brand otomotif asal China.

Pabrikan asal Negeri Tirai Bambu seperti BYD, Geely, hingga Aion terus memperkuat cengkeramannya di pasar domestik dengan lini produk yang beragam. Mereka menawarkan teknologi terkini dengan harga yang sangat kompetitif berkat dukungan penuh dari skema insentif pemerintah saat ini. Situasi inilah yang kemudian memicu diskusi panjang mengenai masa depan kompetisi industri otomotif nasional yang lebih berkeadilan.