Kisah Tsunami Ambon 1674: Kesaksian Rumphius Hadapi Kiamat
Uptodai.com - Peristiwa Tsunami Ambon 1674 menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah Nusantara yang terekam dengan sangat detail. Catatan sejarah ini berhasil diabadikan oleh Georgius Everhardus Rumphius, seorang ilmuwan botani asal Jerman yang bekerja untuk kongsi dagang Belanda (VOC). Rumphius yang awalnya dikirim sebagai tentara justru lebih tertarik meneliti kekayaan alam hayati di Kepulauan Maluku. Keputusannya beralih ke jabatan sipil memberinya waktu luang untuk mendokumentasikan berbagai fenomena alam di sana.
Latar Belakang Geologis Kepulauan Maluku
Sebelum bencana dahsyat itu terjadi, Ambon merupakan pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat sibuk dan diperebutkan bangsa Eropa. Wilayah Maluku sendiri secara geologis berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, menjadikannya sangat rawan gempa. Namun, masyarakat kala itu belum memiliki pengetahuan mitigasi bencana modern untuk mengantisipasi ancaman dari laut. Ketidaktahuan ini kelak harus dibayar mahal dengan hilangnya ribuan nyawa dalam satu malam yang mencekam.
Detik-Detik Guncangan Gempa Dahsyat
Pada malam hari tanggal 17 Februari 1674, suasana tenang di sekitar Kastil Victoria mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa. Guncangan gempa tektonik yang sangat kuat membuat tanah bergoyang naik turun bagaikan gelombang lautan yang mengamuk. Warga yang panik segera berlarian keluar rumah menuju lapangan terbuka di sekitar benteng pertahanan VOC untuk menyelamatkan diri. Sayangnya, keputusan tersebut justru membawa mereka mendekati petaka yang jauh lebih besar dari arah pantai.
Terjangan Gelombang Raksasa Setinggi Rumah
Tanpa diduga, air laut surut dengan cepat sebelum akhirnya kembali menerjang daratan sebagai gelombang raksasa setinggi puluhan meter. Terjangan tsunami purba ini menyapu bersih pemukiman warga, merobohkan bangunan batu, dan menyeret bongkahan koral besar jauh ke darat. Rumphius menggambarkan situasi tersebut bagaikan hari kiamat di mana jeritan manusia tenggelam dalam gemuruh air bah. Beruntung, sang ilmuwan berhasil menyelamatkan diri dengan berlari sekuat tenaga menuju perbukitan yang lebih tinggi.
Dampak dan Warisan Catatan Sejarah
Bencana mahadahsyat ini dilaporkan merenggut sedikitnya 2.322 korban jiwa di wilayah Ambon dan Pulau Seram. Catatan Rumphius dalam bukunya tidak hanya menjadi dokumen sejarah berharga, tetapi juga dokumen ilmiah pertama tentang tsunami di Indonesia. Hingga hari ini, tulisan tersebut terus dipelajari oleh para ahli geologi modern untuk memetakan potensi bencana di wilayah Indonesia Timur. Tragedi masa lalu ini menjadi pengingat abadi akan kekuatan alam yang tidak boleh diremehkan.