Uptodai.com - Proses negosiasi damai AS-Iran yang tengah berlangsung di Swiss kini berada di ujung tanduk setelah delegasi Teheran memutuskan untuk melakukan aksi walk out. Langkah mengejutkan ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap serangkaian ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui media sosial dan televisi. Padahal, kedua negara baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) pekan lalu untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Penghentian sepihak ini memicu ketidakpastian besar mengenai kelanjutan proses diplomasi kedua negara.

Sebelum insiden walk out terjadi di Bürgenstock, Swiss, kedua belah pihak sebenarnya telah mencapai kemajuan yang cukup signifikan. Mereka dilaporkan hampir menyepakati draf mekanisme pengecualian sanksi ekspor minyak yang selama ini mencekik perekonomian Teheran. Bagi Iran, pelonggaran sanksi sektor energi ini merupakan syarat mutlak sebelum mereka bersedia membahas program nuklir sipil lebih lanjut. Selain itu, ada kemajuan terkait rencana pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di berbagai bank luar negeri.

Dampak Terhadap Stabilitas Selat Hormuz

Ketegangan baru ini langsung memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas pasokan energi dunia melalui Selat Hormuz. Selat strategis tersebut merupakan jalur transportasi bagi hampir sepertiga dari total pengiriman minyak mentah dunia lewat laut. Jika kesepakatan damai ini benar-benar runtuh, risiko penutupan selat tersebut kembali meningkat dan berpotensi melonjakkan harga minyak dunia secara drastis. Para pelaku pasar global kini mengamati dengan cemas setiap dinamika diplomatik yang berkembang dari konflik ini.

Sejarah Panjang Ketidakpercayaan Kedua Negara

Secara historis, hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran memang selalu diwarnai oleh ketidakpercayaan yang mendalam sejak penarikan diri AS dari perjanjian nuklir masa lalu. Sanksi ekonomi yang bertubi-tubi telah melumpuhkan mata uang Iran dan memicu inflasi tinggi di dalam negeri mereka. Oleh karena itu, peluang diplomasi kali ini awalnya dipandang sebagai titik balik penting bagi pemulihan ekonomi Iran. Namun, retorika keras yang kerap digunakan sebagai strategi negosiasi oleh Trump justru sering kali menjadi bumerang bagi meja perundingan.

Pihak Iran menilai pernyataan terbaru Trump sangat kontradiktif dengan komitmen nonagresi yang telah disepakati bersama Presiden Masoud Pezeshkian. Delegasi Teheran bahkan merasa ancaman tersebut telah membahayakan keselamatan pribadi para negosiator di lapangan. Sikap konfrontatif Trump ini juga sangat kontras dengan pendekatan persuasif yang ditunjukkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance. Vance sebelumnya menegaskan bahwa dirinya diutus langsung untuk membuka ruang dialog yang lebih konstruktif dengan pihak Iran.