Uptodai.com - Rencana program vaksinasi rabies massal di Bali kini tengah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, sebagai langkah konkret memutus rantai penularan virus mematikan tersebut. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Menkes menekankan pentingnya tindakan preventif yang menyeluruh pada hewan penular rabies (HPR). Bali dipilih menjadi prioritas utama karena memiliki populasi anjing yang sangat besar dan merupakan gerbang pariwisata internasional Indonesia.

Untuk merealisasikan program berskala besar ini, Kementerian Kesehatan mengkalkulasikan kebutuhan anggaran yang mencapai Rp50 miliar. Menkes menjelaskan bahwa estimasi biaya vaksin per ekor anjing berkisar Rp50.000, jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan manusia yang terkena gigitan. Dengan populasi sekitar 1 juta ekor anjing di Pulau Dewata, angka tersebut dinilai sangat rasional demi keselamatan warga dan wisatawan.

Sentil Birokrasi dan Ajak Pengusaha Hotel Urunan

Selain menyoroti masalah anggaran, Budi Gunadi juga mengkritik lambannya birokrasi lintas sektor yang kerap menghambat penanganan darurat di lapangan. Ia mengusulkan terobosan cepat dengan langsung menggandeng Penjabat (Pj) Gubernur Bali untuk berkolaborasi tanpa harus kaku bergantung pada APBD. Menkes bahkan menyarankan agar para pengusaha hotel dan pelaku industri pariwisata di Bali turut urunan mendanai gerakan penyelamatan ini.

Langkah taktis ini dinilai sangat mendesak mengingat citra Bali sebagai destinasi wisata global sangat bergantung pada aspek keamanan kesehatan. Kasus gigitan anjing rabies yang fluktuatif selama beberapa tahun terakhir kerap menimbulkan kekhawatiran bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika penanganan terus tertunda akibat ego sektoral, dampak kerugian ekonomi pada sektor pariwisata diprediksi akan jauh lebih besar dari nilai anggaran yang diajukan.

Pendekatan One Health untuk Bali Bebas Rabies

Pendekatan yang ditawarkan oleh Kementerian Kesehatan ini sejalan dengan konsep global One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Melalui strategi ini, pencegahan di hulu dengan menyuntik anjing dianggap jauh lebih efektif dibanding mengobati manusia di hilir. Pemerintah pusat berharap program akselerasi ini dapat berjalan dalam kurun waktu enam bulan ke depan secara masif.

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Kesehatan akan segera memanggil pihak Pemerintah Provinsi Bali untuk menyusun rencana aksi taktis. Pertemuan ini diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan regulasi yang mempermudah penyaluran bantuan vaksinasi tanpa hambatan administratif. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, Bali ditargetkan bebas dari ancaman rabies dalam waktu dekat.