Uptodai.com - Eskalasi perang teknologi AS dan China kini memasuki babak baru yang jauh lebih ekstrem setelah Washington memutuskan untuk melakukan pemblokiran total. Langkah agresif ini diambil setelah Beijing melakukan aksi balasan dengan membatasi ekspor mineral penting ke Amerika Serikat. Ketegangan yang sempat mereda kini kembali membara dan mengancam stabilitas rantai pasok global.

Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya telah memperluas daftar hitam Pentagon dengan memasukkan raksasa teknologi Tiongkok seperti Alibaba, Baidu, BYD, dan Nio. Setidaknya ada 80 korporasi asal China yang dituduh menyokong kekuatan militer Beijing secara langsung maupun tidak langsung. Penambahan entitas ini memicu kemarahan besar dari pihak Tiongkok yang merasa industri domestik mereka ditekan secara tidak adil.

Sebagai bentuk pembalasan, China langsung menerapkan kontrol ekspor yang ketat terhadap sepuluh perusahaan strategis asal Amerika Serikat. Kebijakan ini menyasar produsen mineral tanah jarang utama seperti MP Materials dan USA Rare Earth. Langkah proteksionisme ini dinilai sangat krusial mengingat mineral tanah jarang merupakan bahan baku utama pembuatan cip canggih dan teknologi militer modern.

Respons Keras FCC dan Pemblokiran Total Alat Komunikasi

Tidak tinggal diam, Komisi Komunikasi Federal (FCC) langsung merespons tindakan Beijing dengan memperluas larangan impor peralatan telekomunikasi. Aturan baru ini kini mencakup model-model lama dari produsen raksasa seperti Huawei, ZTE, Hytera, Hikvision, dan Dahua. Sebelumnya pada tahun 2022, FCC hanya melarang model peralatan baru yang diproduksi setelah akhir tahun tersebut.

Pihak berwenang di Washington menegaskan bahwa perluasan blokir ini murni demi menjaga keselamatan publik dan keamanan nasional. Aturan ketat ini dijadwalkan akan mulai berlaku secara efektif pada awal Juli 2026 mendatang. Kendati demikian, warga Amerika yang sudah terlanjur memiliki perangkat lama tersebut masih diizinkan untuk menggunakannya.

Sebelum keputusan ini diketuk, FCC juga telah melarang impor drone konsumen baru asal China pada Desember 2025 dan router baru pada Maret 2026. Tekanan geopolitik yang tiada henti ini diperkirakan akan memaksa banyak perusahaan global untuk mendesain ulang jalur pasokan mereka. Banyak analis khawatir bahwa pemutusan hubungan teknologi ini akan memicu polarisasi standar teknologi dunia menjadi dua kubu yang berbeda.

Dampak Global Terhadap Industri Teknologi

Konfrontasi tanpa akhir antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini dipastikan akan membawa dampak sistemik bagi industri teknologi global. Negara-negara berkembang yang bergantung pada teknologi murah dari China kini harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga perangkat elektronik. Selain itu, ketidakpastian regulasi ini membuat iklim investasi di sektor semikonduktor dan telekomunikasi menjadi semakin berisiko tinggi.