Trump Paksa SPBU Turunkan Harga BBM AS Jadi US$2,50
Uptodai.com - Presiden Donald Trump secara mengejutkan melakukan intervensi langsung untuk menekan harga bbm di amerika serikat yang kian melambung tinggi. Langkah ini dinilai kontradiktif karena sebelumnya ia sempat menyatakan tidak peduli dengan fluktuasi harga bahan bakar tersebut. Kini, Trump memperingatkan seluruh pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk segera menurunkan harga jual mereka.
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan adanya konsekuensi hukum yang berat bagi pelaku usaha yang nekat melakukan praktik katrol harga ilegal. Ia mematok target agar harga bensin segera diturunkan ke kisaran US$2,50 atau sekitar Rp40.850 per galon. Intervensi sepihak dari Gedung Putih ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik akibat pecahnya perang antara aliansi AS-Israel melawan Iran.
Konflik bersenjata di Timur Tengah tersebut telah mengganggu jalur pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional. Sebagai importir sekaligus produsen besar, AS merasakan dampak langsung berupa inflasi energi yang membebani daya beli masyarakat domestik. Situasi ini memaksa pemerintahan Trump mengambil langkah ekstrem guna meredam gejolak ekonomi sebelum berdampak pada stabilitas politik dalam negeri.
Sorotan Tajam Trump Terhadap Kebijakan Pajak California
Selain menyasar para pengecer bensin eceran, Trump juga membidik wilayah California yang dikenal memiliki kebijakan pajak bahan bakar sangat tinggi. Ia mendesak otoritas setempat untuk segera memotong pajak bensin demi meringankan beban finansial masyarakat setempat. Trump bahkan menuding Gubernur California, Gavin Newsom, sengaja menyengsarakan rakyat lewat agenda transisi energi bersih yang dinilai terlalu dipaksakan.
California sendiri tengah menargetkan transisi penuh menuju jaringan listrik netral karbon dalam dua dekade mendatang. Namun, kebijakan ramah lingkungan ini sering kali berbenturan dengan kebutuhan energi fosil jangka pendek masyarakat kelas menengah ke bawah. Perseteruan politik antara Trump dan Newsom pun kembali memanas seiring dengan perbedaan visi energi nasional ini.
Langkah Darurat dan Penyelidikan Korporasi Minyak
Guna mendongkrak pasokan bahan bakar domestik secara cepat, Trump menggunakan kewenangan darurat kepresidenan untuk mengaktifkan kembali pipa minyak di California. Pipa tersebut sebelumnya telah ditutup sejak tahun 2015 akibat insiden kebocoran massal yang mencemari lingkungan. Tidak berhenti di situ, Departemen Kehakiman (DOJ) juga diperintahkan untuk menyelidiki dugaan kartel dan penimbunan oleh korporasi minyak raksasa.
Penyelidikan oleh DOJ ini diharapkan dapat mengungkap apakah ada kesengajaan dari raksasa minyak untuk menahan produksi demi menjaga harga tetap tinggi. Para pengamat menilai langkah hukum ini merupakan strategi Trump untuk mengalihkan kesalahan inflasi dari pemerintahannya kepada korporasi besar. Dengan demikian, tekanan publik diharapkan beralih kepada para pelaku industri minyak dan gas di AS.