Uptodai.com - Inter Milan kembali mengirimkan sinyal kuat kepada para pesaingnya di Serie A. Mereka berhasil memastikan status sebagai kandidat terkuat peraih Scudetto musim ini setelah memetik kemenangan tipis 1-0 atas Lecce di Giuseppe Meazza pada Kamis (15/1/2026) dini hari WIB.

Kemenangan Inter Milan atas Lecce ini terasa krusial, sebab hasil tersebut membuat Nerazzurri kini unggul enam poin di puncak klasemen sementara. Tambahan tiga angka ini sekaligus memperpanjang rekor positif Inter di kompetisi domestik, menunjukkan kedalaman skuad yang luar biasa di bawah arahan pelatih Cristian Chivu.

Dominasi Nerazzurri dan Rotasi Cerdas Chivu

Sejak peluit awal dibunyikan, Inter Milan langsung menunjukkan dominasi penuh atas tim tamu. Meskipun pelatih Chivu melakukan sejumlah rotasi signifikan pada susunan pemain intinya, intensitas serangan Inter tidak sedikit pun berkurang.

Ange-Yoan Bonny, yang dipercaya memimpin lini depan, tampil agresif dan sukses mencuri perhatian. Penyerang muda tersebut hampir membuka keunggulan saat laga baru berjalan enam menit, namun tembakannya masih mampu dimentahkan oleh kiper Lecce yang tampil gemilang, Wladimiro Falcone.

Bonny tidak hanya mengancam gawang, tetapi juga berperan sebagai kreator. Ia sempat menciptakan peluang matang untuk Piotr Zieliński, sebelum insiden yang melibatkan dirinya di kotak penalti dianulir wasit setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR).

Tembok Lecce yang Sulit Ditembus

Tekanan yang dilancarkan Inter terus berlanjut sepanjang paruh pertama pertandingan. Gelandang senior seperti Henrikh Mkhitaryan dan Marcus Thuram silih berganti melepaskan ancaman ke pertahanan Lecce.

Namun, solidnya barisan pertahanan tim tamu, ditambah performa cemerlang Falcone di bawah mistar, membuat skor tetap imbang tanpa gol hingga jeda turun minum. Lecce sendiri menunjukkan kedisiplinan taktis yang tinggi, fokus meredam setiap gelombang serangan Inter.

Menariknya, di tengah gempuran Inter, Lecce justru hampir mencuri gol melalui satu-satunya peluang emas mereka di babak pertama. Riccardo Sottil melepaskan tembakan yang sayangnya masih melebar tipis dari gawang Yann Sommer.

Lautaro Martínez Jadi Kunci Kemenangan Inter Milan atas Lecce

Memasuki babak kedua, skenario di lapangan Giuseppe Meazza tak banyak berubah. Inter terus mengurung pertahanan Lecce, yang bertahan dengan formasi rapat dan disiplin tinggi. Kiper Falcone kembali menjadi tembok yang sangat kokoh, berhasil menggagalkan peluang-peluang berbahaya dari Nicolò Barella dan Andy Diouf.

Situasi kebuntuan ini akhirnya memaksa Cristian Chivu melakukan perubahan strategis yang sangat dinantikan. Ia memasukkan kapten tim, Lautaro Martínez, pada pertengahan babak kedua, sebuah keputusan yang terbukti krusial untuk memecah kebuntuan.

Pada menit ke-78, Lautaro Martínez menunjukkan magisnya. Tembakan keras yang dilepaskan Lautaro sempat ditepis oleh Falcone, tetapi bola muntah jatuh tepat di kaki penyerang muda lainnya, Francesco Pio Esposito.

Tanpa ragu, Pio Esposito menceploskan bola ke gawang Lecce, memastikan gol semata wayang yang menjadi pembeda hasil laga. Gol ini tidak hanya memberikan tiga poin penting, tetapi juga menegaskan pentingnya kedalaman skuad Inter di momen-momen genting.

Dampak Hasil Laga Terhadap Klasemen Serie A

Gol tunggal dari Pio Esposito tersebut memastikan kemenangan ke-12 Inter Milan dari 14 pertandingan liga yang sudah dimainkan musim ini. Hasil ini membuat mereka semakin kokoh di puncak klasemen, memberikan tekanan besar pada tim-tim rival yang berusaha mengejar.

Di sisi lain, Lecce harus menelan pil pahit kekalahan ketiga secara beruntun. Posisi mereka di Klasemen Liga Italia Serie A kini semakin terancam, hanya berjarak tiga poin dari zona degradasi. Selain itu, Lecce juga masih menyandang status sebagai tim dengan koleksi gol paling minim di kompetisi tertinggi Italia, sebuah catatan yang harus segera diperbaiki jika mereka ingin bertahan di Serie A musim depan.