Victoria Dikepung Bencana Ganda, Warga Dikepung Banjir dan Kebakaran
Uptodai.com - Situasi darurat di Victoria, Australia, semakin memburuk ketika warga dikepung banjir dan kebakaran dalam rentang waktu yang sangat singkat. Wilayah yang sebelumnya berjuang melawan amukan api dan gelombang panas ekstrem, kini harus menghadapi terjangan banjir bandang yang masif.
Transisi cuaca ekstrem ini memaksa ratusan orang meninggalkan rumah dan tempat peristirahatan mereka. Bencana alam ganda ini menunjukkan betapa rentannya kondisi iklim di negara bagian tersebut, yang kini beralih cepat dari kekeringan parah menuju kebanjiran.
Pemandangan mengerikan terekam di Sungai Wye, barat daya Melbourne, di mana arus deras menyeret mobil hingga terguling-guling. Bahkan, dua kendaraan dilaporkan masih terendam sebagian di bawah gelombang laut, hanya beberapa langkah dari garis pantai berpasir.
Curah Hujan Rekor Pemicu Banjir Bandang Ekstrem
Layanan meteorologi negara bagian mencatat curah hujan yang luar biasa tinggi. Dalam 24 jam hingga Jumat pagi, curah hujan lokal mencapai rekor 186 mm di salah satu titik pengukuran. Angka fantastis ini memicu luapan air yang tak terhindarkan, menyebabkan Great Ocean Road—akses vital di negara bagian tersebut—terputus total.
Komisaris Manajemen Darurat, Tim Wiebusch, menjelaskan situasi yang terjadi. Ia mengatakan, Victoria telah melalui siklus yang sangat ekstrem, mulai dari gelombang panas, kebakaran hutan dahsyat, dan kini diakhiri dengan banjir bandang ekstrem di wilayah barat daya negara bagian.
Para pejabat mengonfirmasi bahwa bencana ini telah memaksa setidaknya 300 orang untuk mengungsi. Mayoritas dari mereka adalah wisatawan yang sedang menikmati liburan di perkemahan karavan. Evakuasi cepat harus dilakukan, termasuk menerbangkan seorang anak yang mengalami cedera ke rumah sakit terdekat.
Matthew Stanhope, salah satu peserta perkemahan, menceritakan kengerian saat air tiba-tiba datang. “Saat itu hujan, kami semua berada di tenda bermain kartu dengan teman-teman, lalu kami mendengar teriakan,” ujarnya kepada surat kabar The Age.
Ia dan teman-temannya segera berlari menuju bukit terdekat untuk menyelamatkan diri. Stanhope menekankan betapa cepatnya bencana itu terjadi. “Itu terjadi sangat cepat dan sunyi. Tidak ada suara, tiba-tiba saja airnya naik,” tambahnya, menggambarkan kecepatan air yang menghancurkan.
Trauma Kebakaran Hutan dan Kerusakan Ratusan Rumah
Banjir bandang ini datang hanya beberapa hari setelah Victoria mendeklarasikan keadaan darurat pada 10 Januari. Deklarasi tersebut dikeluarkan setelah wilayah itu berhari-hari berjuang memadamkan kebakaran hutan yang meluas di utara Melbourne.
Api telah menghancurkan banyak rumah dan bahkan menewaskan satu orang sebelum hujan deras datang. Layanan darurat merilis data kerusakan yang ditimbulkan oleh kebakaran tersebut. Sejauh ini, api telah melahap habis 289 rumah dan merusak 18 rumah lainnya.
Selain itu, ratusan bangunan tambahan yang menunjang aktivitas warga juga ikut menjadi korban keganasan si jago merah. Peristiwa ini memberikan tekanan luar biasa pada tim penyelamat yang harus mengalihkan fokus dari pemadaman api ke operasi penyelamatan banjir.
Wiebusch menyebut situasi ini sebagai pengingat penting bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus selalu siap menghadapi segala jenis keadaan darurat, sebab perubahan iklim telah membuat pola bencana menjadi tidak terduga dan sangat cepat bergeser.