Uptodai.com - Isu mengenai Perkembangan AI China kalahkan AS telah menjadi perbincangan panas di kalangan eksekutif teknologi global. Kekhawatiran ini dipicu oleh kecepatan Beijing dalam mengembangkan model bahasa besar (LLM) yang mampu menyaingi inovasi Silicon Valley.

Perdebatan mengenai dominasi teknologi ini semakin meruncing seiring dengan kebijakan protektif Amerika Serikat (AS) terkait ekspor chip semikonduktor canggih. Namun demikian, di tengah riuhnya peringatan dari tokoh-tokoh besar industri, muncul suara skeptis yang datang langsung dari jantung inovasi AI AS.

Peringatan Keras dari Bos Nvidia dan Elon Musk

Sebelumnya, Jensen Huang, CEO Nvidia dan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan AI global, gencar melobi pemerintah AS agar melonggarkan pembatasan ekspor chip AI. Huang blak-blakan menyebut China hanya berjarak “beberapa nanodetik” di belakang AS dalam sektor pengembangan kecerdasan buatan. Ia berpendapat bahwa kebijakan protektif Washington justru akan menjadi bumerang.

Menurutnya, pembatasan akses chip akan memotivasi China untuk menciptakan semikonduktor canggih secara mandiri. Jika hal itu terjadi, AS malah akan tertinggal dan kehilangan pasar yang sangat besar. Upaya Huang ini terbukti berhasil setelah AS, di bawah keputusan kontroversial, membuka kembali akses ekspor chip H200 ke China.

Chip H200 sendiri merupakan prosesor tercanggih kedua buatan Nvidia yang beredar di pasaran saat ini dan sebelumnya dilarang keras dijual ke Beijing. Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh Elon Musk. CEO Tesla dan SpaceX itu bahkan memperingatkan bahwa China berpotensi memiliki kekuatan terbesar dan cadangan chip yang melebihi negara lain.

CEO Google DeepMind Bantah China Ungguli AS

Opini yang sangat kontras datang dari Demis Hassabis, CEO Google DeepMind. Dalam laporan yang dikutip oleh Bloomberg, Hassabis menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan AI yang berbasis di Tiongkok belum memiliki kemampuan fundamental untuk berinovasi melampaui batas teknologi mutakhir.

Hassabis secara tegas menekankan bahwa China masih tertinggal sekitar enam bulan di belakang sistem AI yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan terkemuka Amerika. Ia mengakui kemajuan pesat yang dicapai China, tetapi menyebut bahwa inovasi mereka belum benar-benar mendobrak batas terdepan ilmu pengetahuan.

DeepSeek R1 Hanya Reaksi Berlebihan Industri AS

Industri teknologi global sempat diguncang oleh kemunculan model R1 dari DeepSeek, sebuah perusahaan AI asal China. Model tersebut dirilis pada tahun 2025 dan langsung memicu koreksi tajam pada saham-saham di Silicon Valley. Hal ini terjadi karena DeepSeek diklaim mampu menyamai kinerja model AI buatan AS, namun ditawarkan dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.

Menurut Hassabis, insiden tersebut menunjukkan reaksi berlebihan yang masif dari industri teknologi AS. Ia menyampaikan pandangannya ini dalam sebuah wawancara di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Kemunculan DeepSeek terjadi ketika AS sedang gencar melakukan pemblokiran akses chip, yang secara psikologis membuat pasar bereaksi hiperbolis.

Hassabis mengakui bahwa model R1 DeepSeek memang mengesankan. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa kemampuan mereka masih sebatas mengejar ketertinggalan di titik terdepan, dan makin mampu melakukannya dengan cepat. Namun, ia menutup, “Saya pikir mereka belum menunjukkan bahwa mereka dapat berinovasi melampaui batas terdepan.”