Uptodai.com - Fenomena menarik terjadi di Amerika Serikat (AS) setelah negosiasi panjang mengenai operasional platform berbagi video tersebut. Data terbaru menunjukkan bahwa pengguna TikTok hapus aplikasi dalam jumlah yang signifikan. Peningkatan penghapusan aplikasi ini terjadi menyusul pengumuman restrukturisasi manajemen dan pembaruan kebijakan privasi yang dianggap kontroversial.

Aksi eksodus ini mencerminkan keraguan publik terhadap masa depan platform tersebut, terutama setelah operasionalnya di AS diputuskan jatuh ke tangan entitas gabungan baru. Konflik geopolitik antara AS dan China, dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, memang menjadi latar belakang utama di balik perubahan kepemimpinan ini.

Gelombang Eksodus Massal Pasca Restrukturisasi

Laporan dari firma riset pasar Sensor Tower mengonfirmasi adanya lonjakan tajam dalam aktivitas penghapusan aplikasi. Dalam kurun waktu lima hari terakhir, rata-rata pengguna yang menghapus TikTok melonjak hingga 150% dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya. Angka ini menunjukkan sentimen negatif yang kuat di kalangan pengguna AS terhadap platform yang kini dipegang manajemen baru.

Keputusan untuk merestrukturisasi operasional di AS menjadi pemicu utama kegelisahan publik. Pekan lalu, TikTok mengumumkan pembentukan perusahaan gabungan baru yang akan memegang kendali operasional di wilayah tersebut, dipimpin oleh entitas AS. Langkah ini diambil untuk meredakan kekhawatiran pemerintah AS mengenai isu keamanan data nasional dan pengaruh Beijing.

Penunjukan CEO Baru dan Tuntutan Kebijakan Privasi

Namun, masalah baru muncul bersamaan dengan penunjukan Adam Presser, mantan kepala operasional TikTok, sebagai CEO di perusahaan gabungan tersebut. Pengguna di AS segera diminta untuk menyepakati pembaruan kebijakan privasi TikTok baru yang dengan cepat menjadi viral di berbagai media sosial. Isu ini menarik perhatian publik karena dianggap terlalu invasif terhadap data pribadi.

Dalam pembaruan kebijakan yang beredar luas, platform tersebut secara eksplisit mencantumkan beberapa jenis data pribadi sensitif yang berpotensi dihimpun. Data-data tersebut mencakup informasi sensitif seperti ras dan etnik asal pengguna, orientasi seksual, hingga status imigrasi atau kewarganegaraan. Bahkan, informasi keuangan juga termasuk dalam daftar yang diminta untuk dikumpulkan.

Meskipun poin-poin tersebut memicu kontroversi besar di media sosial, perlu dicatat bahwa bahasa deskripsi yang digunakan sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Versi kebijakan privasi yang sudah diarsipkan sejak Agustus 2024 silam juga memasukkan poin-poin serupa. Namun, isu ini menjadi sangat sensitif dan meledak di mata publik karena bertepatan dengan pengumuman operasional di bawah perusahaan gabungan baru, menimbulkan kecurigaan besar.

Suara Kreator Konten: Hapus Demi Kontrol Penuh

Sentimen negatif ini tidak hanya datang dari pengguna biasa, tetapi juga dari kreator konten besar yang memiliki pengaruh signifikan. Salah satunya adalah Dre Ronayne, seorang kreator konten dengan hampir 400.000 pengikut di TikTok. Ronayne secara terbuka mengumumkan keputusannya untuk menghapus aplikasi tersebut pada akhir pekan lalu.

“Jika saya bisa menghapus platform terbesar saya karena terms and condition (T&C) dan penyensoran yang sudah tak terkontrol, Anda juga bisa melakukannya,” tulis Ronayne dalam unggahan di Threads. Pernyataan ini menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap perubahan yang terjadi, baik dari segi syarat dan ketentuan maupun isu penyensoran konten yang dirasakan semakin ketat.

Beberapa kreator konten lainnya juga melaporkan adanya masalah teknis dan pembatasan ketika mencoba mengunggah konten di platform tersebut belakangan ini. Kejadian ini semakin memperkuat alasan bagi para pengguna dan kreator untuk mencari alternatif platform lain yang dirasa lebih aman dan memberikan kebebasan berekspresi, sekaligus menghindari potensi pengumpulan data yang terlalu mendalam.