Uptodai.com - Menghitung rata-rata penghasilan driver ojol sebulan bukanlah perkara mudah karena angkanya sangat dinamis dan bervariasi. Jumlah pendapatan yang dibawa pulang oleh para mitra pengemudi sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari wilayah operasional, durasi kerja, hingga kategori performa yang mereka capai.

Data internal dari salah satu penyedia layanan, Grab Indonesia, memberikan gambaran jelas mengenai disparitas pendapatan ini. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dedikasi waktu yang lebih panjang dan konsistensi dalam menyelesaikan orderan menjadi kunci utama dalam menentukan besaran upah bulanan.

Rincian Penghasilan Driver Ojol Roda Dua Berdasarkan Kategori

Mitra pengemudi ojek online (ojol) roda dua dibagi menjadi beberapa kategori, salah satunya adalah kategori Jawara. Kategori ini mewakili pengemudi yang bekerja penuh waktu dengan jam operasional yang cukup panjang.

Sebagai contoh, driver Jawara di wilayah Bali, yang bekerja selama 25 hari dalam sebulan, mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 6,85 juta. Total jam kerja yang mereka habiskan mencapai 153 jam, dengan rata-rata menyelesaikan 486 orderan dalam periode tersebut.

Namun, angka ini tidak selalu seragam di setiap kota. Di Makassar, driver dengan kategori Jawara yang bekerja lebih lama, yakni 26 hari dengan total 166 jam kerja dan 570 orderan, justru mendapatkan pendapatan sedikit lebih rendah, yaitu Rp 6,48 juta per bulan.

Variasi Pendapatan Kategori Lain

Selain kategori Jawara, terdapat kategori lain yang mencerminkan jam kerja dan intensitas yang berbeda. Kategori Ksatria, misalnya, mendapatkan penghasilan bulanan sekitar Rp 3,74 juta, sementara kategori Pejuang mampu meraup Rp 5,24 juta.

Bagi mereka yang memilih pekerjaan paruh waktu, pendapatan tentu jauh berbeda. Kategori Anggota, yang bekerja sekitar 3 jam per hari, mencatatkan pendapatan rata-rata Rp 1,6 juta per bulan. Data ini menunjukkan bahwa fleksibilitas waktu yang ditawarkan berbanding lurus dengan jumlah penghasilan yang didapatkan.

Pendapatan Fantastis Pengemudi Taksi Online

Jika dibandingkan dengan mitra roda dua, pendapatan pengemudi taksi online (takol) roda empat jauh lebih tinggi, terutama di kategori Jawara. Perbedaan ini disebabkan oleh tarif dasar yang lebih besar dan jenis layanan yang ditawarkan.

Di Bali, pengemudi taksi online kategori Jawara dilaporkan mampu meraih pendapatan hingga Rp 18.004.708 per bulan. Mereka menghabiskan waktu bekerja selama 26 hari dalam sebulan, dengan total 158 jam kerja dan menyelesaikan 295 orderan.

Sementara itu, mitra taksi online kategori Jawara di Makassar mendapatkan Rp 11.975.403. Mereka bekerja selama 27 hari, menghabiskan 160 jam di jalan, dan berhasil menyelesaikan 509 orderan. Angka-angka ini menunjukkan potensi besar dalam industri transportasi online, khususnya untuk layanan roda empat.

Kategori Ksatria untuk taksi online juga mencatatkan angka yang signifikan. Pengemudi di Bali mendapatkan Rp 14.142.634, sementara di Makassar, pendapatan mereka mencapai Rp 9.745.327. Rincian ini semakin memperjelas bahwa jenis kendaraan dan wilayah operasional sangat memengaruhi besaran upah bulanan.

Kisah Driver yang Melampaui Rata-rata

Meskipun data resmi menunjukkan rata-rata pendapatan, tidak sedikit pengemudi yang berhasil melampaui angka tersebut dengan dedikasi dan jam kerja yang ekstra panjang. Salah satunya adalah Khoerudin (39), seorang driver taksi online asal Jakarta.

Khoerudin mengaku bekerja hampir setiap hari, mulai dari pukul 06:00 pagi hingga 22:00 malam, dengan jatah libur hanya 1-2 kali dalam sebulan. Dengan jam kerja yang ekstrem ini, ia mampu meraup penghasilan harian sekitar Rp 400 ribu.

“Per hari itu kurang lebih Rp400 ribu. Ya kurang lebih per bulan antara Rp8 juta hingga Rp9 juta lah,” ungkapnya. Angka ini, yang mencapai batas atas penghasilan driver ojol sebulan, menunjukkan bahwa kerja keras dan waktu tempuh yang lama menjadi penentu utama.

Mantan pegawai pemeliharaan gedung ini menambahkan bahwa salah satu keuntungan utama menjadi mitra pengemudi adalah fleksibilitas waktu. Kemampuan untuk mengatur jam kerja sendiri menjadi daya tarik utama, meskipun pada praktiknya, untuk mencapai pendapatan tinggi, fleksibilitas tersebut sering kali harus dikorbankan demi durasi kerja yang lebih panjang.