BMKG Ungkap Jadwal Musim Kemarau 2026 di Indonesia, Kapan Puncaknya?
Uptodai.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis penjelasan mendalam mengenai jadwal Musim Kemarau 2026 di Indonesia. Prakiraan ini menjadi krusial mengingat karakteristik iklim di Nusantara sangat beragam, sehingga waktu transisi dan puncak musim kering tidak bisa disamaratakan di seluruh wilayah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menekankan bahwa perbedaan geografis, terutama antara wilayah selatan dan daerah dekat ekuator, menghasilkan pola cuaca yang kontras. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menyamakan prediksi musim hujan berakhir hanya berdasarkan satu zona saja, melainkan harus melihat data per regional.
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia Dimulai? Fokus Jawa dan Bali
Untuk wilayah Indonesia bagian selatan, yang mencakup Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, periode musim hujan diproyeksikan akan berakhir antara bulan Februari hingga Maret 2026. Setelah itu, transisi menuju musim kemarau atau periode pancaroba akan dimulai secara bertahap sejak bulan April.
Periode Kritis di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
Faisal menjelaskan bahwa puncak musim kering di zona ini diperkirakan akan berlangsung mulai dari Mei, Juni, Juli, hingga September. Intensitas kekeringan biasanya akan mencapai puncaknya pada bulan-bulan tersebut, sehingga masyarakat perlu mewaspadai potensi kekurangan air bersih.
Setelah melewati periode kemarau yang panjang, wilayah selatan Indonesia baru akan kembali memasuki musim hujan menjelang akhir tahun. BMKG memproyeksikan bahwa hujan akan kembali intensif di kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sekitar bulan Oktober 2026.
Pola Iklim Ganda di Wilayah Ekuator: Sumatra Utara dan Aceh
Kondisi yang jauh berbeda terjadi di wilayah Indonesia yang terletak dekat garis Ekuator, khususnya di Sumatra bagian utara. Kawasan ini, termasuk Aceh, Sumatra Utara, Riau, dan Sumatra Barat, memiliki pola iklim yang unik yang tidak mengikuti skema musim tunggal.
Wilayah tersebut mengalami dua kali periode musim hujan dan dua kali periode musim kemarau dalam satu tahun kalender. Fenomena ini membuat perhitungan jadwal musim kering 2026 di sana menjadi lebih kompleks dibandingkan di Jawa dan Bali.
Sudah Memasuki Awal Musim Kering, Namun Tidak Begitu Kering
BMKG mencatat bahwa saat ini, sejumlah daerah di Sumatra Utara dan Aceh bahkan telah memasuki fase awal musim kemarau. Meskipun demikian, kondisi kekeringan yang dialami tidak terlalu ekstrem atau kering seperti yang biasa terjadi di wilayah selatan Indonesia.
Meskipun telah memasuki awal musim kering, BMKG memprakirakan bahwa wilayah ekuator ini masih berpotensi mengalami hujan kembali pada periode April hingga Juni. Curah hujan yang turun pada periode tersebut sering disebut sebagai ‘kemarau basah’ sebelum akhirnya kembali memasuki periode musim kering yang sesungguhnya di pertengahan tahun.
Ancaman Karhutla dan Pengaruh La Nina Lemah
Meskipun intensitas kekeringan di Sumatra bagian utara tidak terlalu parah, BMKG tetap memberikan peringatan dini mengenai potensi terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Penurunan kelembaban tanah, ditambah aktivitas manusia, dapat memicu bencana ini meskipun hujan masih sesekali turun.
Secara umum, BMKG juga memproyeksikan bahwa fenomena La Nina dengan intensitas lemah masih akan bertahan hingga periode tertentu di tahun 2026. Meskipun La Nina cenderung meningkatkan curah hujan, dampaknya tidak seragam dan justru memperkuat keragaman pola iklim regional di seluruh kepulauan Indonesia, sehingga membuat prediksi cuaca lokal menjadi lebih menantang.