Uptodai.com - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengambil langkah strategis untuk Perkuat Pengolahan Sampah Terpadu di kawasan The Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. Peningkatan infrastruktur ini dilakukan sebagai respons atas tingginya volume limbah yang dihasilkan oleh aktivitas pariwisata, perhotelan, dan operasional kawasan tersebut.

Fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang dikelola ITDC kini diperluas secara signifikan. Upaya ini menegaskan komitmen pengelola kawasan untuk memastikan pariwisata berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Peningkatan Kapasitas Dua Kali Lipat

Perluasan fasilitas TPS3R ini mencakup area yang tersedia di kawasan Lagoon Nusa Dua. Lahan yang sebelumnya hanya seluas 2.500 meter persegi, kini ditingkatkan menjadi 5.000 meter persegi.

General Manager ITDC Kawasan The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menjelaskan bahwa perluasan ini bertujuan ganda. Selain untuk meningkatkan daya tampung, langkah ini juga dilakukan untuk mengoptimalkan efektivitas pengelolaan sampah di seluruh kawasan. Peningkatan luas lahan ini diharapkan dapat menampung dan memproses volume sampah yang terus bertambah seiring pulihnya sektor pariwisata Bali.

“Kami tingkatkan luas lahan dari sekitar 2.500 meter menjadi 5.000 meter persegi. Ini adalah bagian dari upaya kami memperkuat sistem pengolahan sampah terpadu,” ujar Agus, seperti dikutip pada Minggu (1/2/2026).

Fokus Pengelolaan Sampah Organik yang Dominan

Saat ini, fasilitas TPS3R ITDC telah mengelola sekitar 35 ton sampah setiap harinya. Data menunjukkan bahwa sekitar 70 persen dari total volume sampah tersebut merupakan sampah organik. Tingginya persentase sampah organik ini menjadi fokus utama dalam proses pengolahan dan daur ulang.

Pengelolaan yang efektif dan terintegrasi sangat penting untuk mengurangi dampak lingkungan. ITDC berupaya memaksimalkan pemanfaatan kembali sampah, sehingga kawasan wisata tetap bersih dan mendukung citra pariwisata berkelanjutan.

Upaya ini juga sejalan dengan komitmen banyak hotel dan restoran di kawasan Nusa Dua. Sebagian besar tenant di sana telah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri atau bekerja sama dengan pihak ketiga yang berizin legalitas usaha.

Strategi Integrasi Pengelolaan Sampah 2026

Seiring dengan perluasan fisik fasilitas TPS3R, ITDC juga membuka peluang kerja sama yang lebih erat dengan para pelaku perhotelan dan restoran di Nusa Dua. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan seluruh sistem pengelolaan sampah di dalam kawasan agar lebih terkoordinasi dan efektif.

Target ambisius telah ditetapkan untuk tahun 2026. ITDC berencana untuk mengelola sampah dari seluruh tenant perhotelan dan restoran menjadi satu kesatuan di dalam kawasan tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari efisiensi operasional dan pengawasan kualitas lingkungan.

Kendati demikian, ITDC memastikan bahwa kerja sama dengan pihak ketiga yang selama ini menangani pengelolaan sampah tetap dipertahankan. Hal ini dilakukan selama pihak ketiga tersebut memiliki izin resmi dari pemerintah, mengingat kontribusi mereka terhadap perputaran ekonomi lokal.

“Tahun 2026 target kami mengelola sampah dari tenant menjadi satu di dalam kawasan. Namun, kami tidak akan serta merta memutus pihak ketiga, sepanjang mereka punya izin pemerintah,” tegas Agus.

Meringankan Beban TPA Suwung

Dengan adanya perluasan dan penguatan sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi ini, diharapkan volume sampah dari kawasan Nusa Dua dapat ditekan secara signifikan. Target utamanya adalah memastikan bahwa sampah tidak seluruhnya bermuara ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar.

Kondisi TPA Suwung yang saat ini sudah sangat padat dan melebihi kapasitas operasionalnya memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk kawasan pariwisata besar seperti Nusa Dua. Kontribusi ITDC dalam mengolah sampah secara mandiri di lokasi diharapkan menjadi solusi konkret untuk masalah lingkungan di Bali.

Upaya ITDC perluas TPS3R Nusa Dua ini menjadi contoh nyata implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengelolaan destinasi wisata premium. Komitmen terhadap lingkungan ini diharapkan mampu menjaga daya tarik Bali sebagai destinasi kelas dunia yang bersih dan lestari.